Kamis, 16 Januari 2014

Sinopsis : Hakuba No Oujisama - Ep. 13 Ending




Setelah 2 hari mereka lewatkan di Miyazaki, Ozu dan Takako harus kembali ke Tokyo. Mereka terdiam dibandara menunggu pesawat mereka berangkat. Ozu memperhatikan daftar telepon tak terjawab di HPnya. 

Suara pemberitahuan klo pesawat akan berangkat menyadarkan lamunan mereka. Ozu menggenggam tangan Takako. 

“aku akan bicara dengan kaori segera setelah kita kembali. Aku yakin dia tak mau bertemu denganku lagi.” Ozu menatap Takako “aku tak akan membuatmu menunggu lebih lama lagi. Ayo pergi”

Takako tersenyum dan mereka berjalan untuk melanjutkan perjalanan mereka.
“aku tak akan melarikan diri.. ini sudah jadi pilihanku. Aku akan meneruskannya.”
 


Pagi harinya Takako sudah menyiapkan mentalnya atas apa yang akan dia hadapi nanti. Takako dan ozu duduk berhadap-hadapan tanpa bicara. 

Mori datang dan memperingatkan keduanya agar waspada karena semua guru dan murid sudah tau klo mereka pergi bersama.  Semua itu tersebar saat Kotomi mencoba menghubungi ozu diketahui murid lainnya. Mereka semua juga tau klo kotomi adalah adik Ozu.
 
 
Akiyama sensei datang dan memberi tahu keduanya agar menghadap kepala sekolah. Dijalan menuju ruang kepala sekolah, mereka mendengar murid-murid bergosip tentang kedua gurunya itu. Mereka menebak siapa yang bakal dikeluarkan? Ada yang menebak Ozu karena Takako sudah lama disana. Ada yang menebak Takako yang sudah merebut kekasih orang lain.

Mereka membiarkannya dan terus melangkah ke ruang kepala sekolah. Takako dan Ozu mendapat peringatan keras dari kepala sekolah. 


Dikelasnya Takoko ditanya tentang kemana ia pergi bersama ozu? dan apa benar kotomi adiknya ozu? Takako menjawab agar mereka menanyakannya pada Ozu sendiri soal hubungan kotomi dan ozu itu.


DiApartemen ibu Ozu, Kotomi masih tiduran disofa meski sudah disuruh berangkat sekolah oleh ibunya. Ia memohon ibunya agar ia diijinkan tidak masuk hari itu karena ia tak mau bertemu dengan kakaknya. Ia merasa bersalah pada Ozu karena dirinya semua murid dan guru tau kondisi yang sebenarnya terjadi.


Takako pulang dan mengambil surat di kotak surat kamarnya. Ia melihat ada surat dari dokter bidang  ginekologi ( dokter reproduksi). Takako segera pergi kerumah sakit.
Pulang kerja Ozu pergi ke rumah kaori. Ia menekan bel dan berbicara di intercom rumah kaori klo ia datang untuk meminta maaf.   

Ayah kaori membuka pagar halamannya. Ia bertanya apa tujuan Ozu ke sana? Ozu membungkuk meminta maaf pada ayah kaori dan ia juga ingin bertemu kaori untuk meminta maaf juga. Ayah Kaori mengepalkan tangannya serasa mau memukul Ozu yang sudah melukai anaknya. Ayah kaori menahan kemarahannya dan meminta Ozu untuk pulang saja karena mereka tak mau melihatnya.   

Ozu terus menerus meminta maaf tapi ayah kaori segera menutup pintu halaman rumah dan segera masuk. Didalam rumah kaori mendengarkan percakapan ozu dan ayahnya itu dari kamar neneknya.


Takako bertemu dokter reproduksi. Dokter itu memperingatkan takako untuk lebih sering memeriksakan kondisinya karena ia kemungkinan beresiko terkena myom. Jika itu dibiarkan terus maka bisa menjadi kanker kandungan. 

Dokter juga memperingatkan takako jika ingin punya anak segera karena sel telur wanita juga menua dengan bertambahnya umur wanita.


Takako lemas mendengar informasi dari dokter itu. ia melamun pulang memikirkan perkataan dokter itu. sampai didepan apartemennya ia melihat yuko sudah menunggunya.

Wajah Takako langsung seperti mau menangis didepan sahabatnya itu. Yuko sengaja datang untuk memberi dukungan pada sahabatnya itu karena sebelum ke rumah sakit Takako sudah menginformasikan Yuko ia akan menemui dokter dan dia sangat ketakutan.
Yuko berkata klo ia sudah tau sahabatnya itu butuh teman untuk diajak bicara banyak. 

 
Mereka masuk kedalam apartemen. Takako bertanya pada Yuko apakah impian mereka saat kuliah? Ia pernah bermimpi menikah dan punya anak sebelum berumur 33 tahun tapi kenyataannya berbeda. 

Yuko menyahut klo dulu ia bermimpi punya suami yang menawan tapi kenyataannya sekarang berbeda dengan keinginannya dulu.
Takako teringat ucapan Ozu saat di kuil yang ingin membawa anaknya kelak ke kuil itu. Takako berkata pada yuko klo soal punya anak atau tidak , itu tak berhubungan dengannya seorang diri. 
 


Ozu masih menunggu kaori didepan rumah kaori. Gadis itu akhirnya keluar menemui Ozu. kaori berkata bahwa tak adil jika ozu terus menunggu didepan rumahnya seperti itu.  mereka berbicara disebuah taman. 


“kaori, gomen”
“kau meninggalkanku.. itu sangat memalukan. Aku merasa seorang diri” isak kaori.
“gomen”

“kau mengerikan”
“gomen”

“apa itu yang hanya bisa kau ucapkan?” isak kaori menatap ozu.
“aku akan melakukan apapun untuk menebusnya” ucap ozu
“klo begitu kau putuskan guru itu!” seru Kaori
Ozu terdiam sebelum berbicara lagi “aku tak bisa melakukannya, gomen”

“apa kau mencintainya lebih dari aku?” isak kaori. 

Ozu hanya diam tertunduk. Itu pertanyaan yang tak perlu dijawab karena kita sudah tau siapa yang dilepaskan Ozu kan?

Kaori marah, ia tau maksud diamnya Ozu. kaoripun menampar Ozu dengan keras. “apa kau tau betapa kau sudah sangat melukai aku? Apa yang sudah aku lewati. Aku tak mau melihatmu lagi” tangis kaori.
“aku mengerti’” ucap Ozu “gomen”
Kaori pergi berlari meninggalkan Ozu dengan menangis.


Ozu terlihat agak lega setelah urusannya dengan kaori selesai. Ia segera menghubungi takako. Ia memberitahu Takako klo sekarang ia dan kaori sudah benar-benar putus. Takako hanya diam tak menjawab.
“takako-san?” panggil ozu kuatir.
“aku.. aku tak tau..”
“heih?”
“apa yang akan terjadi sekarang”
“apa maksudmu?” Tanya Ozu kaget.
“gomenasai” sahut Takako menutup telponnya.
Ozu jadi kuatir dan gelisah. 


Ozu pergi ke tempat minum yang biasa ia kunjungi bersama Imamura dan Egawa. Ozu ragu untuk masuk tak tau ia harus bersikap bagaimana jika menghadapi egawa.

Ozu akhirnya masuk dan melihat kedua sahabatnya itu sudah makan dan minum. Imamura segera berseru pada Ozu agar segera bergabung dengan mereka. Egawa hanya menatap ozu datar sambil merokok.

Ozu mendekati meja kedua temannya itu. Ia berjalan disudut tempat egawa duduk. Ia membungkuk meminta maaf pada egawa.
“sumimasen deshita” ucap ozu.

Imamura jadi merasa tak enak dengan suasana itu. ia segera meminta ozu duduk dan minum. Imamura langsung memesankan beer untuk Ozu yang masih berdiri tegang didepan egawa.
Egawa bangkit berdiri. “ayo kita bicara diluar” ucapnya melangkah lebih dulu.

 
Sampai diluar Ozu membungkuk dan meminta maaf pada egawa lagi.
“sumimasen deshita”
“jangan mengira dapat menyelesaikan semuanya dengan meminta maaf. Aku dengar kau tak datang dipertemuan keluargamu dan keluarga kaori. “
“iya”

“kau tak memutuskan dengan benar kaori-chan atau pada orangtuanya… tapi kau justru mengajak hara-sensei,.. bagaimana dengan janjimu yang tak akan membuat wanita yang bersamamu menangis itu?”

“aku juga tak ingin hal ini terjadi… aku sudah mencoba beberapa kali menyerah pada perasaanku untuk hara sensei.. tapi aku tak bisa.. aku tak bisa menghendalikan diriku..” aku Ozu.

“tak bisa mengendalikan diriku lagi??! Apa kau bisa bertanggung jawab atas apa yang sudah kau lakukan?!” seru Egawa dengan emosinya.
“aku akan lakukan apapun yang aku bisa.”
“apa maksudmu itu?”

“apapun.. aku tak berjanji untuk tak membuat takako-san menangis. Aku ingin membuatnya tersenyum. Untuk itu aku akan melindunginya.” Sahut Ozu.

“itu yang seharusnya! Karena kau yang menempatkannya disituasi mengerikan  seperti ini. jangan mengucapkan pernyataan yang muluk-muluk tentang melindunginya!”
“aku tak mencoba untuk muluk-muluk (berlebihan)…”
“kau barusan mengatakannya”
“itu berbeda!” bantah Ozu

Egawa menghela nafasnya “besok sekolah libur kan?” tanyanya
“heih?” ozu heran dengan pertanyaan egawa yang berubah dengan pembicaraan mereka.
“aku bertanya “besok sekolah libur kan?” ulang egawa.
“benar” sahut Ozu mengangguk.

Egawa langsung melayangkan pukulan ke muka ozu dengan keras. Ozu tak bisa mengelak dan terjatuh ke menimpa barang-barang yang ada didepan restaurant.

Imamura keluar dan melihat Ozu sudah terjatuh. Ia menatap kedua sahabatnya dengan kebingungan.  Mereka bertiga terdiam. 
 


“maaf aku pulang lebih dulu” ucap egawa melihat Imamura.
“baiklah” sahut Imamura.

Egawa memperhatikan Ozu yang masih terduduk ditanah. Ia lalu menoleh pada Imamura lalu menunjuk ujung bibirnya “beri es disebelah sini” ucapnya pelan pada Imamura untuk membantu ozu memberi es di muka Ozu. 


Imamura memperhatikan wajah Ozu “baiklah akan aku rawat dia” ucap Imamura tersenyum.
Egawa pergi meninggalkan keduanya. Saat ozu memanggilnya lagi, egawa sudah tak mau menoleh padanya lagi. Imamura membangunkan ozu dan menepuk bahu ozu dengan tersenyum. 
 


Ibu hara pergi menemui takako di apartemen anaknya itu. Ia memberitahu takako betapa egawa sangat menguatirkan Takako saat ia tak datang-datang dan menunggu sangat lama. Ibu hara bertanya kenapa Takako tak memilih egawa yang baik itu? 

Takako menjawab karena ia sudah punya orang yang lebih ia cintai. Ibu hara menyindir “iya pria yang sudah bertunangan”

Ibu hara lalu bertanya apa Takako akan menikah dengan lelaki  itu (Ozu)? Takako menjawab klo ia belum tau. Ibu hara heran dengan sikap anaknya itu.

Tanpa sengaja ia melihat hasil test ginekologi takako. Ibu hara terkejut melihat hasil test itu tertulis “kemungkinan endometriosis”.

Ibu Hara jadi kuatir dengan kondisi anaknya. Takako menenangkan ibunya dengan berkata klo hal itu banyak terjadi pada wanita seumurnya. Ia memberitahu ibunya kemungkinan 70% ia tak akan bisa punya anak. 

Ibu hara bertanya, apakah itu alasan takako tak menikah? Takako hanya diam tak menjawab. Ibu hara bertanya lagi apa takako sudah memberitahukan ini pada Ozu? Takako menjawab klo ia belum memberitahu Ozu.

Ibu Hara jadi mengerti maksud perkataan Takako sebelumnya tentang pernikahan. Ia meminta Takako memberitahu dan mendiskusikannya dengan ozu. takako berkata klo ia tak mau menjadi beban untuk Ozu. Ibu Hara jadi sedih dan memeluk Takako.


 Takako dan Ozu bertemu disebuah taman.
“apa kau baik-baik saja?” Tanya ozu menoleh pada takako yang duduk disampingnya. “minggu ini benar benar berat” 

Takako melihat luka disudut bibir Ozu. “wajahmu..?”
Ozu hanya tersenyum tak mau membicarakannya.


“aku ingin berbicara padamu tentang sesuatu..” ucap Ozu.  “aku rasa aku akan keluar dari sekolah akhir semester ini.”
“heih?” Takako terkejut dengan keputusan ozu yang tiba-tiba itu.

“aku rasa ini akan berakhir klo salah satu dari kita berhenti mengajar. Jadi aku rasa aku yang akan keluar.”
“tapi…”
“aku tau aku sudah membuatmu menderita… jadi aku ingin sedikit melindungimu. “ mereka berdua terdiam.

“setelah aku berhenti… maukah kau berpacaran denganku?.......... sebelum kita menikah?” ucap ozu menatap Takako dengan bersungguh-sungguh.  Takako terdiam dan tertunduk.
“maukah kau?” ulang Ozu.

 
 “aku.. aku pergi ke rumah sakit beberapa waktu yang lalu.” Ungkap Takako
“rumah sakit?” Tanya Ozu kuatir.

“saat kesana mereka memberitahuku kemungkinan aku menderita endometriosis, jadi aku pergi lagi untuk test  lebih lanjut.”
“jadi bagaimana hasilnya?” Tanya Ozu

“belum selesai.. jika itu endometriosis maka aku mungkin akan mandul.” Ucap Takako tertunduk. Ozu agak terkejut dan tertunduk.

“saat kita di miyasaki kau berbicara tentang anak-anak.. aku.. aku mungkin tak bisa memberikan anak padamu” lanjut takako
“tapi itu masih kemungkinan” sahut Ozu.

“iya, tapi aku juga 7 tahun lebih tua darimu. Sampai sekarang aku berpikir itu hanya beda kemudaan dan energy.  Aku pikir aku bisa mengatasinya jika aku tetap menjaga penampilan dan bentuk badanku.  Jika kita bersama seterusnya maka itu tak akan mudah lagi. Kita harus menghadapi semua masalah ini. saat kau berumur 30 tahunan, setiap tahunnya akan menempatkanmu pada resiko tinggi terhadap sesuatu. Jika kau berkencan dengan seseorang yang seumuranmu, kau tak akan kuatir akan hal ini. itulah kenyataan bersama dengan yang lebih tua. Jika aku masih bersamamu.. itu mungkin akan menghancurkan salah satu mimpimu. “


“aku tak merencanakan kau akan cocok dengan mimpiku.. “ takako menoleh pada Ozu. “aku tak memilihmu karena aku ingin kau mewujudkan mimpiku. “ 

Mereka berdua saling menatap, Ozu tersenyum “mimpiku salah satunya adalah aku bisa melihatnya bersamamu. Jadi aku mohon kau jangan menguatirkannya. Ayo kita pergi ke rumah sakit bersama” kata ozu menyakinkan Takako.

“atau kau pikir aku tak bisa diandalkan?” Tanya Ozu.

Takako tersenyum lega “tidak…”
Mereka berdua saling menatap dan tersenyum.

“aku menyadari setelah orang yang lebih muda ini mengajariku : aku tak mampu memilih seseorang karena auku mencoba membuat seseorang cocok dengan jalanku. Saat yang kau butuhkan adalah melangkahi jalan bersama dengan orang yang kau pilih.”

 
Takako pergi menemui egawa untuk meminta maaf. Egawa justru bertanya apa Takako menikmati hari ulang tahunnya itu? takako mengangguk dan Egawa tersenyum lega takako bisa menikmatinya.

Takako masih meminta maaf pada Egawa. Ia berterima kasih karena selama ini saat ia berbicara dengan egawa membuatnya lega.  Egawa berkata itu hal yang biasa dilakukan oleh gadis lain juga.  Egawa lalu bangkit berdiri dan mengucapkan salam perpisahan. “sayonara”

 
Ozu dan takako menghadap kepala sekolah. Ozu menyatakan klo ia mengundurkan diri dari sekolah itu. Ia mendengar orang-orang bergosip buruk tentang takako. ia menjelaskan pada kepala sekolah klo yang harus disalahkan harusnya dirinya karena dirinya orang yang bertunangan. Sementara takako masih single. Ozu mengucapkan terima kasih karena diberi kesempatan bisa mengajar di tempat itu.

Kepala sekolah berkata klo itu sudah keputusan Ozu ia tak bisa berbuat apa-apa. Tiba-tiba takako berkata klo ia juga ingin berhenti mengajar. Ozu dan kepala sekolah terkejut mendengarnya. Takako memberi alasan karena dari SMA dia sudah disekolahan itu jadi ia ingin mencari hal yang berbeda diluar sana.

Takako menjelaskannya dengan wajah ceria jadi kepala sekolah pun ikut mendoakan kebahagiaan Takako. Ia jarang melihat Takako tersenyum jadi ia yakin itu untuk kebahagiaan Takako. Ia juga berjanji akan memberikan rekomendasi yang terbaik untuk Takako.
 

 
 Ozu mengantar takako melihat hasil test endometriosisnya dirumah sakit. Mereka duduk bersebelahan dalam diam.
 
“tak ada pangeran berkuda putih.. tapi aku punya seseorang yang aka nada saat aku takut. Itulah yang selalu aku cari. Itulah yang paling aku inginkan diantara banyak hal lainnya. Pangeran seperti itu.”

Takako melirik Ozu yang tegang disebelahnya. 
 


Seorang perawat keluar dan memanggil nama takako.
Ozu melirik takako dan melihat wajah takako yang tegang.
“yang aku kuatirkan hanya kesehatanmu… jadi kau jangan menguatirkan hal lain (anak) dari itu.” ucap Ozu menenangkan Takako.

Takako tersenyum dan masuk kedalam ruangan. 
 

 
Ozu gelisah ditempatnya menunggu Takako. Saat mendengar langkah kaki orang, Ozu menoleh dan melihat takako yang baru keluar. Ozu menatap penuh pertanyaan hasil testnya. Takako memberi jawaban Ozu dengan tersenyum. Ozu langsung lega melihat senyum diwajah takako.

 
Upacara kelulusan sekaligus salam perpisahan takako dan Ozu.
Kepala sekolah mengumumkan klo takako akan mengucapkan salam perpisahan pada semuanya. Takako maju ke podium. 

“aku pergi dari sini karena alasan pribadi dan aku ingin mengucapkan terima kasih atas segalanya. “ Takako membungkukkan badannya. Ia melihat murid-muridnya tak memperdulikannya dan berbisik-bisik sendiri. 


Takako melanjutkan pidatonya “ aku lulus dari SMA ini dan jadi guru disini.”
Semua murid mulaiberhenti bergosip dan menatap Takako yang sedang berbicara didepan mereka. 

“saat aku masih seorang murid aku menemukan potensiku. Dan setelah aku jadi guru, aku menghadapi  ujung batasku. Aku rasa ini adalah pengalaman berhargaku. Aku kecewa dan bahkan merasa tersiksa karena aku tak menjadi orang yang aku inginkan. Namun akhirnya aku merasa nyaman dengan menjadi  diriku sendiri. Sekarang aku akhirnya tiba pada titik dimana aku tak lagi kecewa dengan diriku sendiri. Dan aku siap menjadi diriku sendiri. 

Semua murid Takako terdiam mendengarkan, termasuk kotomi. 

“Butuh waktu aku sampai berumur 33 tahun untuk mengertinya..  aku harap kalian juga tak terlalu terburu-buru dalam segalanya.  Kehidupan pribadiku telah menyebabkan gangguan bagi kalian dan aku tau aku menyebabkan beberapa kalian hilang kepercayaan. Pengalaman ini mengajariku.. hanya ada 1 aturan…”

Ozu terkejut mendengar ucapan takako itu yang sama persis dengan ucapan perkenalannya waktu ia berkata “hanya ada 1 aturan untukku.. tak akan membuat gadis yang aku cintai menangis.”

Sekarang Ozu diingat kembali dengan ingatan itu tapi ini diucapkan oleh takako.
“hanya ada 1 aturan untukku… JANGAN PERNAH MELEPASKAN APA YANG TERPENTING DALAM HIDUPKU” ucap Takako tegas dan penuh percaya diri tersenyum.


Seorang murid tiba-tiba berteriak “aku harap kau akan bahagia Takako san!”
“iya.. aku usahakan yang terbaik”

“itu juga termasuk Ozu-sensei kan?!” seru murid lainnya
“iya..” jawab Ozu latah karena terkejut. Semua langsung berteriak menggoda Ozu. kepala sekolah dan semua bertepuk tangan. Ozu jadi malu didepan semuanya.

 
Takako berpisah dengan guru-guru lainnya. Takamine berkata klo mereka akan merindukan takako. Mori menjawab klo ia masih ada disekolah itu jadi Takamine tak perlu kuatir. Takamine terkejut dengan kata-kata mori sensei itu, begitu juga guru yang lainnya. Takako bertemu dengan Kurozawa dan membungkuk memberi hormat tanpa mengucapkan kata-kata. Takako lalu pergi.
  


Dihalaman sekolah kotomi ternyata sudah menunggunya. Kotomi membaakan sebuah syair puisi untuk takako.
“angin surga… biarkan awan menghilang.. meniup sampai hilang.. “
Takako segera melanjutkan kalimat selanjutnya “ biarkan gadis.. tinggal bersama sebentar”
“tapi kau kan bukan gadis lagi..” canda kotomi tersenyum melihat gurunya itu. takakopun tersenyum.
 


“dulu (waktu jadi guru pertama kalinya) adalah sebuah permulaan.. dan saat ini juga (setelah keluar jadi guru) juga sebuah permulaan. “

Takako keluar dari sekolahnya dengan langkah mantab. Tersenyum menatap kelopak bunga sakura yang bertaburan mengiringi langkahnya.


Malam harinya takako merayakan “berhenti bekerjanya dia” bersama kedua sahabatnya. Mereka  bersulang minum beer sambil bercanda. Mereka minum banyak sampai agak mabuk.


Saat mereka keluar dari tempat itu, mori sensei berseru mengenali Ozu yang berdiri didepan restaurant  dengan sepedanya.  Yuko dan takako langsung menoleh dan melihat Ozu. 

Ozu tersenyum malu didepan sahabat-sahabat takako. Yuko tertawa “pangeranmu membawa sepeda, bukan kuda.” Canda Yuko tertawa. Semua lalu tertawa. Takako terlihat sangat bahagia.


Suatu pagi yang cerah. Takako duduk disebuah kursi dibalcon sebuah gedung. ia duduk bersebelahan dengan pangerannya. 

Ozu mengambil sebuah kotak dan membukanya. Sebuah cincin ada didalamnya.  Ia mengambilnya dan menyematkannya dijari manis takako.  Mereka tersenyum penuh kebahagiaan, saling menatap penuh cinta.

 Lalu Takako menyandarkan kepalanya dibahu Ozu. mereka menatap pagi yang cerah, penuh harapan baru buat mereka berdua…….

Happy Ending





4 komentar:

  1. syukurlah...happy ending^^
    sankyuu sinopny

    BalasHapus
  2. Happy ending .. Makasih bwat sinopx .#^^

    BalasHapus
  3. Happy ending .. Makasih bwat sinopx .#^^

    BalasHapus
  4. Yayyy...akhir yg bahagia..
    Kisah yg rumit...
    Thx buat sinopsisx jeng Eunike...😊

    BalasHapus