Kamis, 20 Maret 2014

Sinopsis : Boku No Ita Jikan - Ep. 1 Part 2




Takuto pergi ke sebuah wawancara kerja lagi. Disebelahnya duduk mahasiswa lain yang sangat gugup. 
Pemuda itu adalah orang yang pernah di lihatnya saat bersama mamoru.
Pemuda itu terus menghafal kata-kata yang akan diucapkannya saat sesi wawancara nanti. Ia menyadari seseorang sedang memperhatikannya dan saat ia menoleh ia melihat takuto yang sedang melihatnya. 

“aku rasa kita satu kampus ya” ucap takuto pelan
“iya..” angguk pemuda itu. “ummmm… he -eiy…”
“ya?” takuto melihat pemuda itu sepertinya mau berbicara dengannya tapi gugup.

“ah tak apa.. berapa perusahaan yang sudah kau coba?”
“banyak.. aku tak menghitungnya..”jawab takuto.
“iya aku juga..”ucap pemuda itu

“sebenarnya ini adalah perusahaan ke 48.” Takuto tersenyum malu mengakuinya.
“ini yang ke 79 untukku” sahut pemuda itu
“wahhhh..” ucap takuto tanpa sadar. Pemuda itu langsung melirik takuto
“gomen” takuto meminta maaf
“tak mengapa.. itu lebih baik daripada berusaha untuk tak menyakiti perasaanku..”sahut pemuda itu.
Takutopun tersenyum.




Megumi dan Hina pergi ke cafeteria kampus. Megumi terus melihat HPnya untuk mengecek apa ada pesan masuk untuknya. Namun ia kecewa karena tak menemukan satupun pesan masuk yang diharapkannya.
“apa kau menerima telpon?” Tanya hina.
Megumi berbalik “tawaran pekerjaan? Blom ada”

“maksudku pemuda sembrono itu.”
“pemuda sembrono?” megumi heran dengan panggilan hina untuk takuto itu.

“dia tampan.. dia terlihat seperti dia punya banyak pacar. Kau sebaiknya berhati-hati” goda hina.
“aku tak tau maksudmu..”

“mungkin itu memang rencananya untuk menolongmu di interview waktu itu. jadi dia bisa dekat denganmu.” Goda hina lagi. mereka berdua berjalan mencari tambahan menu lainnya di cafeteria itu.

“sepertinya bukan seperti itu.. dia bahkan belum pernah menelponku” sanggah megumi. Namun megumi jadi terkejut saat Hpnya berbunyi dan orang yang menelponnya itu adalah takuto.
 


“itu dia…” seru megumi terlihat sangat bahagia.
Hina menghalangi megumi untuk mengangkat telpon takuto. “jangan diangkat cepat-cepat. Dia akan tau klo kau sudah menunggu telponnya. Tunggu sampai berdering 3 x” kata Hina.
Megumi sangat gugup namun mengikuti saran hina untuk tidak segera mengangkatnya.

Megumi menghitung dering pertama.. dering kedua..tangan megumi sudah ditombol terima tapi tiba-tiba telpon ditutup. Megumi panic “ahh.. moshi moshi…?” tapi telpon itu memang sudah terputus.

Dengan santainya Hina melanjutkan langkahnya “kau harusnya segera mengangkatnya setelah dering ke 2.”
“kau kan yang menyuruhnya!” seru megumi cemberut karena kecewa tidak bisa berbicara dengan takuto.


Dirumahnya megumi masih saja menunggu telpon lagi dari takuto. Tapi karena sudah menunggu lama akhirnya ia memberanikan diri menghubungi takuto.

Takuto segera mengangkat telpon dari megumi itu “ada apa?”
“”ada  apa?” bukankah kau yang tadi menghubungiku? Aku tak tau kau menelpon. Aku baru saja menyadari ada telpon darimu.. jadi… jika kau tak ingin mengatakan apa-apa maka aku..”
“ahh.. apa kau mau bertemu?” ajak takuto cepat-cepat begitu megumi sepertinya akan menutup telponnya.

Megumi terkejut “apa?,.. aku…. Aku hari ini punya pekerjaan.”
“jadi apa kau mau bertemu denganku hari ini?” Tanya takuto lagi.
“ahh.. umm.. “ megumi bingung menjawabnya.

“aku sebenarnya juga harus bekerja hari ini. kau bekerja di restaurant kan?” Tanya takuto
“bagaimana kau tau?”

“saat interview waktu itu” jawab takuto “kau bercerita klo kau mencoba berbagai makanan dan mengingat darimana asal bahan-bahannya.”
“ahhh.. oh ya sepertinya aku memang mengatakannya” sahut megumi tersenyum

“dimana restaurant tempatmu bekerja?” Tanya takuto ingin tau.
Megumipun menyebutkan nama restaurant tempat ia kerja.
“ohh..” gumam takuto. “klo begitu sampai jumpa lagi” pamit  takuto.
“aaa… “megumi berniat berbicara lebih lama dengan takuto tapi ternyata takuto sudah menutup telponnya. Megumipun kecewa.



Takuto segera menutup telponnya karena ia akan memberikan les privat pada tetangga sebelah apartemennya. Gadis  Smp itu meminta takuto mengajarinya menulis tentang impiannya. Ia bingung apa yang harus ia tulis. 


Takuto bermain futsal dengan teman-temannya. Tiba-tiba ia merasa kakinya kram. Ia pun terjatuh. Seorang senpai yang bernama Shigeyuki Mukai mendatangi dan membantunya. Teman-teman menertawakan takuto yang kram itu. 

 
Takuto dan Shigeyuki senpai pergi ke restaurant. Ternyata tempat itu adalah tempat kerja megumi.
Gadis itu terkejut melihat takuto memasuki restaurant tempatnya bekerja. Megumi langsung mencoba bersembunyi biar tidak ketahuan. Seorang pelayan lain membawa takuto untuk pergi ke sebuah meja.
Megumi memanfaatkannya untuk pergi ke kamar kecil dan membereskan penampilannya. Ia juga mengoleskan lipstick tipis dibibirnya.



Megumi lalu membawakan takuto dan Shigyuki senpai 2 gelas air putih.
“apa aku bisa mencatat pesanmu?” Tanya megumi.
“ahh aku kira kau tak disini. Aku sangat lapar. Makanan apa yang terenak disini?” Ucap takuto.
“ini adalah menu pilihan chef untuk waktu yang terbatas seperti ini.” sahut megumi menunjukkan sebuah menu makanan.

“aku tak mau pilihan chef. Aku mau pilihannya megu.” Sahut takuto.
Megumi jadi salah tingkah.
“kau sudah merasakan semua makanan kan?” kata takuto
“semua?” Tanya shigeyuki senpai yang dari tadi hanya memperhatikan keduanya. ia tak mengerti pembicaraan takuto dan megumi.

“iya..” angguk megumi.
“ahh ini adalah Shigeyuki – senpai dari klub futsalku.” Ucap takuto memperkenalkan senpainya pada megumi.


 “hai.. “ sapa shigeyuki-senpai. “ehhh apa dia cewekmu?”
Megumi bingung dan ia menunggu takuto menjawab pertanyaan senpainya, ia berharap takuto akan menjawab…..
“bukan..” jawab takuto santai

“aku pikir dia cewekmu. Kita kan punya selera gadis yang sama. “ kata shigeyuki-senpai.
Takuto tersenyum gelisah mengomentari perkataan seniornya itu.
“ahh.. aku hanya bercanda” lanjut shigeyuki senpai saat ia melihat wajah megumi yang terheran.

“lalu menu apa yang kau inginkan?” Tanya megumi lagi pada keduanya.
“aku terserah pilihan megu saja” sahut takuto
“aku juga” ucap Shigeyuki senpai menimpali.
“baiklah..” kata megumi speakless memperhatikan kedua pria didepannya itu. 
 

  
Pada senpainya itu takuto bercerita bahwa ia sangat kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan. Shigeyuki bertanya apa yang bisa ia bantu untuk takuto? Takuto menjawab, bisa bermain futsal dan berbicara dengan shigeyuki senpai sudah sangat membantunya. Ia sekarang dalam kondisi down setelah beberapa kali melamar pekerjaan tapi tak dapat-dapat. Ia juga down karena sahabatnya sudah mendapatkan pekerjaan lebih dulu darinya.

 

Shigeyuki-senpai pamit untuk pulang lebih dulu. Ia meninggalkan selembar uang ke atas meja. Takuto berkata klo itu kebanyakan untuk pesanan shigeyuki. Senpainya bilang tak masalah. Ia lalu pergi meninggalkan takuto. 



Shigeyuki-senpai setelah beberapa langkah berbalik dan memperhatikan Megumi yang sedang sibuk bekerja. Ia sepertinya tertarik pada megumi.

Megumi mendekati takuto dengan membawa nampan kosong.
“aku akan membereskan piring kosong dimejamu ini” ucapnya.
Takuto menatap megumi “kamu selesai bekerja jam berapa?”
Megumi terkejut.


Takuto menunggu megumi selesai bekerja. Mereka lalu berjalan bersama ke sebuah tempat. Mereka duduk dikursi taman yang agak terpisah.
“pekerjaan apa yang saat ini kau lakukan?” Tanya megumi penasaran.
“bisakah kau panggil aku takuto?”

Megumi tersenyum “apa pekerjaanmu?”
“aku tutor”
“untuk anak SMA? Ahh . ‘sangat kotor’” canda megumi.
“ah bukan.. seorang anak SMP.”
“itu lebih kotor lagi” canda megumi. Takuto menertawakan candaan Megumi itu.
Maksud kotornya megumi itu adalah semacam “orang dewasa yang sengaja mencari mangsa anak sekolahan”

“apa impianmu saat kau SMP?” Tanya takuto
“kenapa bertanya tiba-tiba?”
“ah tak apa-apa..”

“kau pasti akan tertawa” ucap megumi malu mengatakan impiannya.
“benarkah?”


Megumi bangkit dari kursinya dan mengangkat tangannya dan mengangkat sebelah kakinya kebelakang seperti menari didepan takuto.
“aku ingin jadi ballerina” ungkap megumi
“apa kau ikut kelas itu?”
“tidak karena sangat mahal.. aku hanya punya ibu saja. Aku tak mau mencoba mengatakan klo aku punya masa kecil yang mengagumkan” sahut megumi merendah.
“itu sudah mengagumkan” kata takuto agar megumi tak malu dengan kondisi kehidupan megumi saat kecil.


 “lalu bagaimana denganmu?” Tanya megumi dengan tanpa menyebut nama takuto hanya memakai kata panggil umum.
“bisakah kau memanggilku takuto saja?” pinta takuto.
“oke.. lalu apa impianmu?”
“menjadi dokter” sahut takuto
“hah? Dokter?”
“iya dokter rumah sakit”
Megumi menertawakan takuto, ia tak percaya dengan ucapan takuto. “kau berbohong”

“aku dulu sering bermain dengan berpura-pura jadi seorang dokter.” Kata takuto
“aku rasa kau masih terus melakukan.. sungguh kotor” canda megumi. Ia selalu bercanda dengan beranggapan klo takuto seorang yg cabul.

“apa kau mau melakukannya?” takuto tertawa balik menggoda megumi.
“hah? Jangan bodoh” sahut megumi takut.
Takuto jadi tertawa melihat reaksi megumi itu. 


 Tokuto melihat megumi menyembunyikan wajahnya di syal yang melingkar dilehernya.
“apa kau kedinginan?” Tanya takuto
“iya.. aku kedinginan” sahut megumi.
“baiklah saat nya kita pergi” ajak takuto sambil bangkit berdiri.
“ya” angguk megumi.
“aku akan mengantarmu” kata takuto.
“arigatou” ucap megumi. Takuto mengambil sepedanya dan berjalan bersisian dengan megumi. 
 





Sawada takuto – winter

Takuto berangkat ke kampusnya dan melihat beberapa teman Nampak bergerombol membahas sesuatu yang sedang hangat dibicarakan semuanya. Mamoru menyapa takuto dan memberitahu takuto klo seorang mahasiswa yang pernah mereka temui sedang gugup mencari pekerjaan itu, sudah meninggal karena bunuh diri.
Takuto terkejut  mendengarnya.




Takuto pergi ke rumah duka keluarga sakashita, mahasiswa yang bunuh diri itu. saat akan menulis daftar tamu, takuto bertemu dengan megumi yang ternyata sedang melayat juga.

Mereka masuk ke  dalam ruangan  tempat abu sakashita berada. Mereka melihat ibu pemuda itu menangis. Takuto merasa prihatin, ia terus menatap foto sakashita yang ada di meja sembayangan itu.



 Megumi dan takuto pulang bersama dan mereka berhenti di sebuah jembatan.
“apa kau dekat sakashita-kun?” Tanya megumi
“tidak.. aku baru-baru ini untuk pertama kalinya berbicara dengannya. Aku bertemu di sesi wawancara”

“aku juga.. mengapa dia mati.. aku tak tau apa ini benar tapi katanya dia sudah melamar pekerjaan yang ke 100. Perusahaan dan ditolak” kata megumi

“hei.. bolehkah aku menciummu” Tanya takuto pelan.
“hah?” megumi tak mendengar jelas perkataan takuto.

“bolehkah aku menciummu?” ulang takuto agak ragu dan gugup.
“bagaimana kau bisa bercanda disituasi seperti ini?”

“aku tak sedang bercanda” kata takuto tegas
Megumi terkejut “apa yang kau sedang pikirkan?”
“aku sedang tak memikirkan apapun” sahut takuto

“dan kau ingin berciuman?”
“tidak?” Tanya takuto lagi.

“mengerikan.. aku tak pernah berpikir kau orang seperti itu. bahkan aku sempat berpikir klo kau benar-benar ingin membantuku saat telponku berbunyi di interview saat itu.  ternyata aku salah” ucap megumi melirik takuto dengan kecewa. Ia pergi meninggalkan takuto yang diam tertunduk.
 



Megumi pergi ke perpustakaan dan terkejut melihat takuto sedang duduk disebuah meja. Takuto tanpa sengaja menoleh dan mereka saling menatap. Megumi buru  buru pergi meninggalkan perpustakaan itu. takuto berniat menyusulnya tapi ia menghentikan langkahnya saat HPnya bergetar. 

Telpon itu dari ibu takuto yang memberitahu klo ia sekarang sudah sampai di apartemen takuto.

Takuto segera pulang. 


Takuto dan rikuto duduk dikursi ruang makan mennunggu ibunya selesai menyiapkan makan mereka. Ibu sawada memasak ayam goreng tepung untuk dinikmati mereka. Takuto senang melihat menu itu. Saat mereka menyatap makanan, takuto melihat betapa ibunya begitu meladeni makanan riku-chan.


Takuto memberitahu ibunya klo besok ia akan pergi interview juga sama seperti adiknya yang besok akan interview masuk sekolah.  Ibunya bertanya nama perusahaan yang akan dilamar takuto itu.

Takuto menjawab Miyamae Furnitur. Ibu sawada bilang ia tak pernah mendengar nama perusahan itu. artinya bukan perusahaan terkenal.
Takuto kecewa dengan tanggapan ibunya.
Riku-chan berkata bahwa meski nanti takuto tak diterima bekerja dimanapun, takuto bisa meminta ayah mereka untuk bekerja dirumah sakitnya.
Riku-chan bertanya pada kakaknya, apa takuto sudah melihat perusahaan itu? takuto sedih adiknya juga memperlakukannya seperti itu.

Pada pertemuan sebelumnya, riku-chan pernah menasehati takuto untuk mengunjungi perusahaan yang dilamarnya. Agar takuto merasa ia sudah bekerja disana dan jadi semakin bersemangat untuk kerja disana.


Saat malam harinya, takuto menghafal kata-kata yang akan di ucapkannya saat interview besok. Saat berbicara ia menatap wajahnya dicermin agar tau ekspresi wajahnya saat berbicara dengan interviewer. Takuto tiba-tiba menjadi down, sedih  dan tak mampu melanjutkan latihan pidatonya lagi.
Sebagai orang yang sudah sering ditolak saat melamar pekerjaan, mungkin takuto sudah lelah, frustasi menghadapi wawancara lagi.



Keesokan harinya takuto datang ke miyamae furniture. Disana lagi-lagi takuto bersaing dengan megumi untuk mendapatkan pekerjaan.
Keduanya terkejut dan megumi memilih untuk menghindari takuto.
 



Ternyata yang ikut wawancara hari itu Cuma ada 5 orang saja. 2 orang gadis dan 3 pria. Satu persatu pelamar ditanya tentang apa yang mereka bisa pelajari selama kuliah.
Gadis pertama sudah selesai menjawab dan giliran megumi. 

Megumi kebingungan sendiri dengan jawaban yang akan ia berikan. Ia berkata klo sebenarnya ia sudah menyiapkan jawaban yang sama dengan gadis yang barusan berbicara. Semua terheran dengan jawaban megumi yang kurang tepat diucapkan. Pelamar ketiga dan keempat juga memberikan jawabannya.
Takuto bangkit berdiri dan menjawab pertanyaan para interviewer itu.


“apa yang aku pelajari selama kuliahku adalah menikmati membuat planning acara-acara. Aku anggota Event Planner Club di kampus. Dan aku salah satu wakil ketua dari klub itu... “ takuto menghentikan pembicaraannya dan melihat para interviewer didepannya. Semua heran dan memperhatikan takuto yang hanya diam saja.

Takuto tiba-tiba tersenyum.
“apa ada masalah?” Tanya seorang interviwer.
“sumimasen.. “ takuto meminta maaf.
“lanjutkan” kata pewawancara.

“apa yang aku pelajari dikampus adalah… bermain karakter orang.. “ semua heran dan memperhatikan.

“di sd dan smp aku akting dilingkunganku agar tidak popular dan akhirnya jadi orang yang tertinggal didalam kelas. Dirumah aku acting sebagai seorang anak yang bisa mewujudkan harapan orangtuaku. Di Sma  aku tak bisa memenuhi harapan orangtuaku, disekolah maupun dirumah aku berperan sebagai pria sembrono.” Takuto tertunduk.

“…Herannya orang-orang menerimaku dan berkata ‘takuto adalah orang yang memang seperti itu’. Setelah masuk universitas aku tak perlu memerankan sebuah karakterpun. Tapi saat  pencarian lowongan pekerjaan dimulai. Aku harus memerankan sebuah karakter lagi… aku melatih bicaraku berkali-kali didepan cermin hanya untuk seseorang yang baru aku temui di interview.. orang yang akan menilaiku dalam beberapa menit… dan menolakku…..  Aku merasa benar-benar tertolak…. Jika ini terjadi 50x, 80x dan 100x maka aku akan mempertanyakan kenapa aku masih hidup…. Aku akan merasa tak ada gunanya hidup.” 

Semua masih termenung dengan ucapan Takuto. Mungkin mereka kasihan atau tersentuh dan mungkin bagi para pelamar, mereka juga merasakan apa yang dirasakan takuto.

Takuto menyadari ia berbicara terlalu jauh dan membuat suasana diruang wawancara jadi sunyi.
“ahh maaf aku tak menjawab pertanyaanmu.” Ucap takuto memaksakan dirinya untuk tersenyum. 


Beberapa hari kemudian, Megumi menerima pesan dari Miyamae furniture yang memberitahunya klo Megumi tidak diterima di perusahaan itu.Megumi sedh dan kecewa.


Takuto sedang istirahat disebuah bangku taman saat menerima pesan dari Miyamae Furniture. Takuto terkejut saat isi pesan itu adalah ia masuk seleksi kesehatan dan wawancara. Ia setengah tak percaya dengan tulisan itu dan ia mengulang membacanya.



Diwaktu yang sudah ditentukan, takuto pergi ke Miyamae untuk test kesehatan dan wawancara sekali lagi. Seorang Interviewer memberitahu Takuto klo ia diterima bekerja disana. 
Takuto masih terkejut tak percaya. Ia lalu bertanya alasan kenapa ia diterima di Miyamae? Interviewer itu menjawab, takuto sudah menunjukkan diri takuto yang sebenarnya saat wawancara waktu itu. jadi ia ingin takuto bekerja untuknya. 

Takuto terihat masih tak percaya. Interviewer bertanya apa jawabannya tadi tak menjawab pertanyaan takuto? Takuto akhirnya tersadar dan tersenyum. Ia mengucapkan terima kasih atas kesempatan bekerja ditempat itu.





Takuto keluar dari miyamae, ia sebenarnya mau menghubungi keluarganya tapi dibatalkannya. Tiba-tiba ibunya menghubunginya. Takuto senang karena memang tadi ia sebenarnya mau menghubungi ibunya.. jadi mungkin ia merasa ibunya itu punya ikatan batin dengannya.
Takuto mengangkat telponnya. “ya..?”

 “moshi.. moshi.. takuto, riku-chan lolos ujian masuk universitas pilihan pertamanya”
“syukurlah” ucap takuto.tersenyum.
“iya aku sungguh bersyukur” kata ibu sawada

Takutopun ingin memberitahu kabar bahagianya pada ibunya “emm.. aku juga…”
Tapi ibunya sepertinya sangat bersemangat dengan sekolah riku sampai ia tak mendengar ucapan takuto itu.
“aku ingin mulai mempersiapkan sekolahnya jadi kami akan segera datang” lanjut ibu sawada.
Takuto sedih dan kecewa ibunya begitu tak memberinya kesempatan berbicara karena bahagia atas apa yang terjadi dengan riku-chan.
 



Megumi memperhatikan HPnya terus. Ia ragu untuk menghubungi takuto. Namun ia memberanikan dirinya. Ternyata telpon takuto tidak diangkat jadi megumi menutup telponnya.
 


Ditempatnya bekerja megumi melihat kebahagaian sekelompok orang karena salah satu teman mereka diterima bekerja.
Saat akan pulang megumi memberitahu manager restaurant klo ia masih ingin bekerja disana sampai april. Manager menyetujuinya.


Megumi pulang membawa sepedanya. Ia terkejut saat melihat didepannya sudah berdiri takuto yang sepertinya sudah menunggunya dan tak menyadari klo ia sudah ada disana.
Takuto akhirnya menyadari megumi sudah melihatnya. Takuto berjalan mendekati megumi.





“ada apa kau disini?” Tanya megumi.
“karena kau menghubungiku jadi..”
“ohh.. aku ingin berbagi informasi pekerjaan karena kita ada di interview perusahaan yang sama. Aku tak dapat pekerjaan itu” ucap megumi.
“ohh,, aku dapat pekerjaan itu.” sahut takuto
“sudah kuduga sebelumnya.. omedeto (selamat ya)”
“arigatou” sahut takuto terus menatap megumi.


Mereka berdua perg ke taman kota yang pernah mereka singgahi. Posisi duduk mereka juga sama, duduk dikursi taman yang berbeda.
Takuto berdiri dan menatap megumi dengan tulus “maaf atas apa yang aku lakukan saat melayat itu.” Ucap takuto.

Megumi bangkit berdiri “tak apa.. aku juga meminta maaf. Aku tau kematian Sakashita-kun sangat mengejutkanmu. Kau terus memikirkannya kan?”
Megumi duduk lagi. 

“bukan persis seperti itu..”
“aku tau… kau datang kerumah duka untuknya meski kau baru bertemu dengannya di saat wawancara.”
“kau juga datang”sahut takuto tersenyum malu dan salah tingkah. 

Megumi melihat klo takuto malu mendengar ucapannya. Megumi bangkit dan mendekati takuto yang menunduk.
“apa kau malu?” goda megumi.
“aku?” bantah takuto menghindari menatap megumi.

“benarkan.. kau terlihat malu”
“aku tidak malu..” kata takuto memunggungi megumi “aku berpikir apa dia takut saat dia menghadapi  kematiannya.”
Megumi hanya memperhatikan kesedihan takuto dari samping dan tak berani menjawabnya. 
 






Karena kedinginan megumi terus mengerakkan badannya.
Takuto menoleh dan memperhatikan megumi “apa kau kedinginan?”

Reflek megumi mau menjawab iya. Tapi setelah ia menoleh pada takuto ia tak jadi berkata ‘iya’. Megumi belajar dari pengalamannya saat ia bersama takuto. 

Pertama, dulu waktu di pantai takuto bertanya hal yang sama ‘apa kau kedinginan?’ saat ia menjawab ‘iya’ takuto langsung mengajaknya pulang. 

Kedua, saat takuto pergi ke restaurannya dan mereka pulang bersama. saat ditaman takuto juga bertanya padanya ‘apa kau kedinginan? Saat ia menjawab ‘iya’ takuto juga langsung mengajaknya pulang.

Jadi kali ini megumi mengingkarinya. Ia tak ingin pulang cepat. Ia masih ingin bersama takuto jadi ia berbohong.
“tidak.. tidak dingin sama sekali” 

Takuto tau megumi berbohong padanya karena megumi masih terus mengerakkan badannya untuk tidak kedinginan dan mengindari pandangan matanya.

Tiba-tiba megumi bersin dan membuat takuto yang masih memperhatikan megumi jadi tersenyum dengan bukti kebohongan megumi itu. 
 




Megumi menoleh dan melihat tatapan tak percaya takuto padanya. Megumi tersenyum malu
“sungguh, aku tidak kedinginan.”ucapnya tersenyum malu dan berbalik menghindari tatapan mata takuto yang begitu menyelidik.

Tiba-tiba syal hangat takuto melingkari lehernya. Megumi terkejut, diam. Takuto dengan lembut terus melingkarkan syalnya ke leher megumi sampai beberapa putaran. 
Kyaaaaaaa.... so sweeettt...

  





Megumi berbalik dan tersenyum malu.

“kau harusnya hanya melakukan ini pada cewekmu saja”
Takuto tersenyum malu-malu “aku juga tak tau alasannya.. tapi aku ingin melindungimu..” ucapnya serius.

Megumi teringat takuto juga melindunginya saat wawancara waktu itu. “waktu itu juga…”
Takuto malu klo terbaca perasaannya lebih lagi. “sudah malam.. ayo kita pulang” kata takuto tertawa dan berjalan melewati megumi untuk mengambil sepeda megumi.



Saat takuto mengambil sepeda megumi, ia merasakan tangannya tak kuat memegang sepeda itu. sepeda megumipun terjatuh.

“apa kau baik-baik saja?” Tanya megumi kuatir.
“maaf..” ucap takuto sambil mengangkat sepeda megumi itu. takuto memperhatikan tangannya dengan heran. 


“aku akan pulang menaikinya” kata megumi.
“iya..” sahut takuto.

Megumi teringat syal dilehernya dan membukanya “ohh ini..”
“kembalikan padaku lain waktu tak apa-apa” ucap takuto.
“oke”
“baiklah bye-bye..” kata takuto
 "bye bye. ta-ku-to” sahut megumi menatap takuto.  
Takuto terdiam mendengar megumi untuk pertama kalinya menyebut namanya. 



Megumi meninggalkan takuto dengan menaiki sepedanya.  Takuto tersenyum dan terus memperhatikan megumi yang semakin menjauh.
Setelah megumi pergi, takuto teringat keanehan ditangan kirinya. Ia memperhatikan tangannya itu lalu ia mengabaikannya dan berjalan pulang.
 




2 komentar: