Selasa, 18 Maret 2014

Sinopsis : Boku No Ita Jikan - Ep. 1 Part 1




Takuto duduk di kursi roda otomatisnya yang melaju ditengah guyuran hujan di antara orang yang berlalu lalang membawa payung.  Takuto teringat perkataan dokter yang menanganinya yang mengatakan klo penyakitnya blom ada penyembuhan. Otot dalam tubuhnya lama-lama akan melemah. Ia juga nanti akan mengalami kesusahan bernafas sehingga butuh alat bantu nafas. Dan setelah beberapa lama ia akan meninggal. Itu karena ia menderita ALS (amyotrophic lateral sclerosis)


Takuto melihat didepannya seorang polisi yang sedang mengatur sebuah truk untuk terus maju berjalan. Takuto terus mengarahkan kursi rodanya kea rah kerumunan orang yang menunggu truk itu lewat. Semua terkejut melihat kursi roda Takuto terus berjalan kea rah jalan yang akan dilewati truk. Polisi segera memberi aba-aba agar truk berhenti tapi semua tak bisa berbuat banyak saat kursi roda Takuto menabrak truk yang sedang jalan itu.
Takuto terjatuh ke aspal jalan.  sebuah botol yang berisi surat yang dipangkunya dari tadi ikut terjatuh disampingnya. Tubuh takuto terjatuh ditengah guyuran hujan.



Sawada Takuto  - winter awal kuliah.
Takuto pergi bersama sahabatnya di sebuah job fair. Begitu banyak perusahaan yang membuka lowongan namun saingannya untuk mendapatkan pekerjaan juga banyak. Saking banyaknya yang datang dengan memakai pakaian yang sama, jas warna hitam, membuat semua terlihat seperti sekerumunan semut. 






Sawada Takuto – spring  di semester Senior universitas

Takuto mengayuh sepedanya dari apartemennya menuju lokasi perusahaan tempat interview. Ditengah jalan sambil menunggu lampu menyala hijau. Takuto menghapalkan kalimat yang akan diucapkannya di interview nanti. Takuto jadi malu saat melihat anak-anak kecil sedang memperhatikan dengan keheranan melihatnya berbicara seorang diri. Takuto tersenyum malu pada mereka.




Takuto mengikuti sesi wawancara disebuah ruangan dengan beberapa orang rivalnya. Satu persatu mereka memperkenalkan dirinya dan mempromosikan ke ahliannya masing-masing. Tiba-tiba semua dikejutkan oleh suara dering telpon. Semua terdiam ketakutan didepan para pewawancara. Ini akan menjadi nilai negative jika ketauan siapa yang tak mematikan HPnya. Takuto merasa arah suara dering dari tas seorang gadis yang ada disampingnya. Gadis itu terlihat gelisah. Ia sepertinya tau takuto memperhatikannya. Ia menoleh pada takuto dan pandangan mata mereka bertemu.


Telpon masih bordering dan sesi wawancara berhenti menunggu dering telpon itu menghilang. Gadis yang Hpnya berbunyi juga sepertinya tak ada keberanian untuk mematikan ataupun bergerak dari kursinya. 

Dering Hp itu akhirnya berhenti. Pewawancara juga sudah bersiap meneruskan sesi interview. Takuto tiba-tiba berdiri dan mengaku klo HPnyalah yang tadi berbunyi. Ia minta maaf dan meminta ijin untuk mematikannya. Gadis pemilik HP yang bordering itu terkejut melihat ulah takuto yang menutupinya.
Setelah pewawancara mengijinkannya mematikan Hpnya. Takuto berjongkok dan berpura-pura mematikan Hpnya.


Sesi wawancara dilanjutkan, gadis yang dduduk disebelahnya giliran yang memperkenalkan dirinya. Gadis itu berkata klo ia dari Universitas Seifu. Takuto terkejut dan memperhatikan gadis itu. gadis itu memperkenalkan dirinya sebagai Hongo Megumi.
Megumi terlihat sangat gugup dan kikuk saat memperkenalkan dirinya diwawancara itu. jadi wawancaranya terlihat kacau.


Selesai interview Megumi mengejar Takuto.
“ano…” serunya memanggil takuto. Cowok itu menghentikan langkahnya dan menoleh kea rah suara yang berseru dibelakangnya. 

“mengapa kau melakukan  itu? kau tau kan dering itu dari telponku?” Tanya megumi.
“kau jurusan ekonomi di universitas Seifu dan… namamu tadi siapa?” Tanya takuto balik.
“aku Hongo..” jawab Megumi menyebutkan nama keluarganya

“Hongo-san.. siapa nama pertamamu?”
“megumi” 

“aku melakukannya bukan untuk menutupi dirimu. Aku melakukannya untuk diriku sendiri untu menarik para interviewers.” Ucap takuto
“untuk menarik perhatian?” Tanya megumi tak mengerti maksud takuto
“untuk menunjukkan pada mereka klo aku bisa mengatasi masalah dengan tenang.” Sahut takuto.
Megumi mengangguk mengerti maksud takuto.

“ja mata..” (sampai jumpa lagi) pamit takuto tersenyum pada megumi dan melangkah pergi.
“ja mata?” gumam pelan Megumi heran kenapa sepertinya takuto yakin mereka akan bertemu lagi.



Dirumahnya Megumi selesai bersembayang didepan meja dupa ayahnya segera menyusul ibunya menyiapkan makan malam mereka. Ibunya bercerita alasannya tadi menghubungi Megumi saat ia wawancara adalah karena ia meminta persetujuan Megumi untuk membeli mesin pembuat roti. Ia kuatir megumi akan protes  padanya jika ia membeli barang tanpa persetujuan dari megumi. Ibu megumi juga meminta maaf karena telponnya tadi sudah mengganggu jalannya interview. 
 
Megumi menjawab klo itu kesalahannya sendiri yang tidak mematikan telponnya. Ibunya berharap intervie selanjutnya megumi akan berhasil.
 


Sawada Takuto – Summer di Semester Senior universitas

Takuto dan sahabatnya mamoru sedang duduk diruang administrasi kampus. Mamoru memperhatikan mahasiswa yang lalu lalang didepan mereka. Ada yang terlihat sudah mendapatkan pekerjaan setelah dapat rujukan dari kampusnya. Ada juga mahasiswa yang terlihat sangat kacau berusaha mencari informasi dari sekolah perihal perusahaan-perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan. 

Mamoru memperhatikan seorang mahasiswa yang sedang mencari pekerjaan itu. ia bilang pada takuto klo ia pernah wawancara seruangan dengan mahasiswa itu dan suara cowok  itu terdengar bergetar hebat saat berbicara didepan interviewer. Takuto menasehati mamoru untuk tidak bergosip tentang seseorang seperti itu. ia kasian dengan mahasiswa yang terlihat gugup itu.



Megumi menerima pesan penolakan dari sebuah perusahaan. Ia kecewa dan ibunya menenangkannya dan berkata klo megumi nanti dapat pekerjaan lagi. Megumi berkata jika sampai lulus kuliah ia tak bisa mendapatkan pekerjaan ia harus membayar beasiswanya sebesar 6.450.000 yen. Ibunya yakin megumi akan mendapatkan pekerjaan jika megumi tidak pemilih seperti dirinya yang punya beberapa pekerjaan sambilan. Megumi berkata klo ia tak mau bekerja paruh waktu. Ia ingin bekerja full time. 
 


Takuto menyerahkan aplikasi pekerjaan kepada seseorang (seperti dosen yang mengurusi mahasiswa yang mencari pekerjaan). Orang itu membaca dan langsung berkomentar klo ia tak menemukan sesuatu yang menarik dari takuto. Ia hanya melihat takuto berpura-pura menjadi seseorang yang punya kemampuan tapi sebenarnya tak bisa. Ia mengucapkannya begitu blak-blakan membuat takuto terkejut dan mengatakan itu perkataan yang sangat kejam.


Takuto sedang berbicara dengan Mamoru saat sebuah telpon masuk ke Handphone mamoru. Sahabatnya itu langsung mengangkatnya. Mamoru terlihat sangat bahagia dan berbicara terima kasih dengan lawan bicaranya ditelpon itu. ternyata mamoru sudah diterima bekerja disebuah perusahaan. Takuto terlihat terkejut dan sedih karena ia masih blom mendapat pekerjaan. 


Selesai menerima telpon mamoru menoleh pada takuto dan ia melihat wajah sahabatnya itu yang terlihat sedih. Mamoru jadi merasa tidak enak dengan sahabatnya. Takuto mencoba menutupinya dengan sebuah senyuman. Ia lalu mengucapkan selamat pada Mamoru.
 



Megumi sedang berjalan bersama sahabatnya, Hina dikampus mereka. Hina berkata klo ia akan mengadakan Goukon (kontak jodoh) dengan para banker. Megumi heran Hina bisa begitu santainya meski blom mendapatkan pekerjaan. Hina menjawab, ia sudah hampir menyerah mendapatkan pekerjaan jadi jika ia tak mendapatkan pekerjaan maka ia akan menikah saja. Megumi tertawa mendengar ucapan Hina itu. 



Megumi bertanya bukankah Hina sudah punya idola pria ? Hina dengan senang berkata ia sangat menyukai Ed (tokoh anime atau manga, aku ga ngerti kartun figur siapa digambar bawah ini). 

Hina memperlihatkan gantungan kunci tokoh ed itu. Megumi berkata pria seperti itu apakah ada didunia ini? Hina berkata “Oujisama (pangeran), dia akan datang di kehidupanku”


Hina juga yakin saat ini megumi juga sedang menunggu oujisamanya. Megumi mau membantahnya tapi kemudian ia teringat bayangan takuto saat mereka bertemu waktu itu. megumi terdiam. “didunia ini tak aka nada Oujisama seperti itu” ucap megumi melanjutkan langkah mereka yang sempat terhenti itu.




Saat Megumi menatap sekelilingnya langkahnya tiba-tiba terhenti, ia menjadi terkejut dengan apa yang dilihatnya. Hina heran dengan pandangan mata megumi yang menatap lurus didepan dengan keterkejutan seperti itu. ia melihat kearah pandangan mata megumi. 

Didepan mereka ada takuto sedang berjalan kea rah mereka sambil bercanda dengan mamoru.
 




Saat jarak mereka semakin dekat, takuto segera mengenali megumi. Takuto tersenyum pada Megumi. Gadis itu berjalan mendekati takuto.




“kenapa kau disini?” Tanya megumi.
Takuto tertawa “akhirnya kita bertemu juga”

“apa kita di universitas yang sama?” Tanya megumi.
“dijurusan yang sama juga” sahut takuto. Megumi dan yang lain juga terkejut.

“apa kau sudah mengenalku sebelumnya?” Tanya megumi lagi
“tidak.. saat itu adalah pertama kalinya (saat wawancara)” jawab takuto.

Mamoru yang tak tau awal mula pertemuan takuto dan megumi jadi penasara “apa maksudmu “waktu itu” ?”  mamoru lalu melihat pada kedua gadis yang ada didepan mereka itu “hai aku sekelas dengannya. Senang berkenalan dengan kalian” 

Megumi mengangguk sapaan mamoru. Ia lalu berkata pada hina “hina, tunggu sebentar”
Megumi lalu melangkah menjauhi teman-temannya sambil melambaikan tangannya pada takuto agar mendekat padanya.




Semua jadi heran dengan Megumi. Takuto berjalan mendekati megumi dengan penasaran.
“bagaimana dengan wawancaranya waktu itu? aku tidak diterima disana.” Kata megumi
“aku juga” sahut takuto

“lalu bagaimana dengan perusahaan lain? Aku masih belom juga mendapatkan pekerjaan.” Lanjut megumi malu.
“aku juga” sahut takuto tersenyum.

“maaf.. “ ucap megumi bersalah.
“aku rasa bukan karena alasan waktu itu (telpon)” kata takuto.

“tapi bisa jadi itu alasannya.. maaf ya” sesal megumi.

Takuto lalu bertanya apa mereka perlu bertanya pada perusahaan alasan kenapa mereka tidak diterima disana? Mereka berdua lalu memutuskan pergi ke perusahaan itu. 


Dari resepsionis perusahaan itu memberi tahu mereka keterangan hrd klo alasan mereka ditolak adalah krn perusahaan sudah menemukan kandidat yang lebih cocok dengan persyaratan mereka. Meski mereka tidak suka dengan jawaban yang seperti itu tapi apa boleh buat mereka berdua tak bisa memaksa lagi.


Takuto bertanya apa megumi menyesal pergi bertanya ke perusahaan itu? megumi menjawab tidak. Ia sering kali ditolak bekerja diperusahaan dan ia sebenarnya penasaran dengan alasan mereka, tapi ia tak punya keberanian untuk bertanya. Jadi ini pengalaman baru yang menarik baginya.
 
Takuto bertanya apa yang akan dilakukan megumi sekarang? Megumi berkata kllo ia ingin melarikan diri dari kenyataan. Takuto mengajaknya untuk melakukan itu, melarikan diri dari kenyataan hidup.





Mereka berdua pergi ke sebuah pantai. Mereka datang dengan membawa champagne. Begitu melihat laut megumi langsung berlari lebih dekat ke pinggir pantai. Mereka duduk bersebelahan diatas pasir. Takuta membuka botol champangenya dan menaruh digelas plastic untuk mereka berdua. 
 


“laut sangat indah ya.. aku merasa keberadaanku dan kekuatiranku jadi mengecil.” Ucap Megumi. Takuto memberikan gelas champagne pada megumi.
“aku tak tau untuk apa tapi.. kanpaiii (bersulang)” kata takuto tertawa mendekatkan gelasnya pada gelas megumi.
Gadis itu juga tertawa “kanpaiiiii..”
Mereka lalu meneguk minumannya.

“megu, apa kau bisa minum banyak?” Tanya takuto
“megu?” ucap megumi heran dengan panggilan takuto pada megumi. “tidak.. aku tak bisa minum banyak” lanjut megumi.

“ohhh..” gumam takuto.
“lalu bagaimana denganmu?” Tanya megumi balik.
“panggil aku takuto saja… “ sahut takuto. 


Mereka terus minum dan berbicara  tentang keheranan mereka yang tak pernah kenal sama sekali bahkan belum pernah bertemu di kampus mereka.
“mengapa kita tak pernah bertemu sampai hari ini ya?” Tanya megumi heran.
“karena kita dikelas yang berbeda” sahut takuto.

“pasti ribuan orang dikampus yang tidak bisa kita jumpai bahkan sampai kelulusan ya. Sungguh memalukan..”ucap megumi.
“begitukah?” gumam takuto
“hmmm?”gumam megumi

“aku rasa kau akan bertemu dengan seseorang yang memang ditakdirkan untuk kau temui. “ sahut takuto
“kau benar..” angguk megumi memperhatikan takuto dan ternyata takuto juga sedang menatapnya. keduanya jadi salah tingkah.


Keduanya melangkah ke pinggir pantai. Takuto melihat kulit kerang di pasir dan berniat mengambilnya. Megumi mendekati takuto untuk ikut melihat namun tiba-tiba ada ombak pantai yang membuat air mendekati mereka. Megumi berteriak untuk menghindar begitu juga takuto sgera berlari menghindar dari air laut itu.


Mereka lalu bermain pasir pantai dan membentuk sebuah bangunan. Namun karena kurang hati-hati, megumi meruntuhkan bangunan itu. mereka tertawa.



Mereka duduk berhadapan lalu bermain pingsut/hompimpa (hayo siapa yang tau kata terjemahan bahasa Indonesia untuk pingsut?? Hihihi)

Dengan cepat mereka beradu kertas, gunting, batu. Takuto kalah dan melampiaskannya dengan berguling dipasir. Tanpa sengaja tangannya menyengol botol champangenya dan membuat isinya tumpah sampai tak bersisa. 
 



Takuto memperhatikan botol yang sudah kosong itu dan menemukan sebuah ide “ayo kita menaruh sesuatu didalamnya dan  menguburnya”
“sesuatu?”
“iya”

“apakah suatu saat nanti kita akan menggalinya lagi?”Tanya megumi sambil berpikir “hmm bagaimana dengan surat?bagaimana klo Surat untuk diri kita sendiri?”
“iya ide bagus” sahut takuto.




Takuto memberi sobekan kecil kertas pada megumi. Keduanya berpikir keras apa yang akan mereka tulis disana. Megumi melirik takuto dan ternyata takuto juga sedang melirik padanya. Megumi jadi grogi dan mengalihkan pandangan matanya. Mereka lalu mulai menulis.
hmmm... sudah berapa kali tuh mereka saling curi pandang gitu ya...
 
Takuto mencoba melihat apa yang ditulis megumi dikertasnya.
“hei jangan melihat” kata megumi menyembunyikan kertasnya.

“berapa tahun lagi dari sekarang(untuk menggalinya)?” Tanya takuto
“bagaimana klo setahun” sahut megumi.
“apakah itu tak terlalu cepat?”

“5 tahun?” Tanya megumi lagi.
“kita pasti akan melupakannya (terlalu lama)”

“baiklah 3 tahun saja” kata megumi memutuskan
“baiklah 3 tahun lagi” kata takuto menyetujui.
 



Mereka  melipatnya dan memasukkan kertas itu kedalam botol champagne itu.
Takuto segera menggali tanah. Ia membuang tanah yang digainya kebelakang kakinya padahal disana ada megumi. Gadis itu segera berlari menghindari lemparan pasir itu. ia tertawa dengan kelakuan takuto yang diisengaja itu. takuto juga tertawa sambil terus menggali lubang. 




Setelah agak dalam mereka segera menguburkan botol itu.  Mereka lalu menghitung langkah mereka menuju tempat botol itu dipendam agar mereka tak melupakan tempat itu jika mereka menggalinya nanti. 


Matahari sudah hampir terbenang dan menampilkan warna keemasan. Takuto melihat Megumi yang sedang membereskan barang-barangnya dan ia melihat handphone megumi. Ia berjongkok disebelah megumi dan bertanya apa ia bisa mendapatkan nomer telphon megumi? 
 
Megumi menoleh dan menyadari mereka duduk terlalu dekat sampai bahu mereka bersenggolan. Megumi mengambil handphonenya dan memberikan nomernya pada takuto. Saat mereka bertukar nomer itu jarak mereka yang sangat dekat membuat megumi salah tingkah. 




 Angin senja pantai yang dingin menerpa tubuh mereka berdua.
“dingin ya” gumam takuto
“iya sedikit” jawab megumi.
“ayo kita pulang saja”ajak takuto
“iya”
Takuto dan megumi pun berjalan meninggalkan pantai.

Selesai mandi dirumahnya, ibu megumi memberitahu gadis itu klo telphonnya berbunyi. Megumi langsung berlari cepat untuk mengambil hpnya. Sepertinya ia berharap “seseorang itu” menghubunginya. 
 
Ibu megumi memperhatikan anak gadisnya “apakah dari seorang kareshi-mu (cowokmu)?” goda ibunya.

“hah? Tidak aku blom punya” sanggah megumi. Ia melihat pesan yang masuk. Ternyata dari hina yang memberitahunya klo hina besok akan bolos seminar.
“jika kau punya pacar, kau harus membawanya ke rumah ya” suruh ibu Hongo.

“aku blom punya” sahut megumi lagi.
“aku tak akan peduli dengan siapapun yang akan kau bawa” 

“apa kau yakin itu?” Tanya megumi
“aku tak peduli selama dia sehat dan aktif” lanjut ibu hongo
“tapi aku memperdulikan siapa orangnya nanti” sahut megumi tersenyum “tapi sekarang aku sedang sibuk mencari pekerjaan.”



Dirumah takuto, mamoru tiduran dikursi tamu. ia meminjamkan buku tips untuk mendapatkan pekerjaan pada takuto. Ia berkata klo buku itu sangat membantunya dalam memperoleh pekerjaan. Takuto menerimanya.

Takuto mendengar ada pesan masuk di HPnya. ia buru-buru membuka dan membaca smsnya. 


Selesai membaca pesan itu, Takuto memberitahu Mamoru untuk membereskan barang-barangnya. Mamoru bertanya alasannya. Takuto memperlihatkan kamarnya yang penuh dengan barang-barang mamoru yang berserakan disegala penjuru. Mamoru tertawa malu melihat kekacauan dikamar takuto karena barang-barangnya itu.


Mamoru jadi  berpikir sesuatu. “ahhh.. pesan tadi dari megu-chan kan.. kau berpikir untuk mengundangnya kesini. Lalu kau akan melakukan hal “ini” dan itu” kan?” Tanya mamoru sambil memperagakan tiduran disofa ruang tamu takuto. Ia lalu menirukan suara megumi “tidak takuto-kun,… kau harus mematikan lampu jadi kita bisa lebih romantis..” 
 
“aku tak akan iri.. aku akan tentang perjaka sampai aku berumur 30 tahun” lanjut mamoru manyun cemburu membayangkan temannya akan bersama megumi.

“untuk apa seperti itu…”  tawa takuto.
“aku punya harga diri juga…”ucap mamoru masih kesal disuruh membereskan barang-barangnya dari rumah takuto.  

“sungguh tak masuk akal“ tawa takuto yang masih geli dengan mamoru yang cemburu padanya.

“maksudku adalah.. baiklah kau bisa melakukan hubungan seks sebanyak yang kau inginkan.” Kata mamoru sambil melempar bantal kursi kearah takuto.
 


Takuto menangkapnya dan melemparkannya pada mamoru lagi “adik laki-laki dan ibuku akan datang” katanya menjelaskan.
“oh begitu” mamoru tersenyum malu kecurigaannya ternyata salah.
“mereka akan datang untuk melihat sekolah dimana adikku akan mendaftar.”
“dimana?”
“kau tau.. sekolah kedokteran. Jika dia bisa masuk, dia kan tinggal disini bersamaku mulai april nanti. “

“kau sangat beruntung. Orangtuamu membelikan apartmen ini untuk tujuan itu. aku dengar keluargamu memiliki rumah sakit terkenal di Yamanashi. Kau bisa mendapatkan pekerjaan dari koneksi orangtuamu kan?”
“aku rasa tidak..” sahut takuto
“kau sebenarnya sudah punya pilihan (koneksi pekerjaan) kan tapi kau menyembunyikannya” tebak mamoru.

“jika aku punya koneksi maka aku akan mengunakannya secepatnya kan...ucap takuto. Maksudnya takuto pasti sudah tak perlu mencari pekerjaan lagi jika ia punya koneksi seperti yang dimaksud mamoru.
“kau benar juga” sahut mamoru.



Takuto pergi wawancara lagi. Seorang pewawancara bertanya padanya kenapa sampai sekarang ia blom mendapatkan pekerjaan? Apa takuto sudah menganalisa dirinya sendiri? Takuto terkejut dan hanya terdiam. Pewawancara itu lalu menyobek lamaran takuto dan berkata klo takuto tak layak untuk diterima bekerja disana. Takuto terkejut dan kecewa….
Takuto pulang dengan sedih.

Kasian takuto.. Kok orang bisa tanpa perasaan begitu ya… membuat down orang saja..




Sampai dirumah ia mendengar suara ibunya, adiknya dan ayahnya dari dalam apartemennya. Mereka sedang membicarakan sekolahan kedokteran adiknya itu. takuto menghela nafasnya untuk menenangkan dirinya. Ia lalu membuka pintunya.
“tadaima..” seru takuto tersenyum pada keluarganya yang sedang berkumpul dimeja makan.
“okaeri..” sahut ibunya. “kau harusnya memberitahu kami dulu klo kau akan pergi.” Gerutu ibunya sambil berjalan ke dapur.
“gomen.. gomen..” sahut takuto sambil melepas jasnya.


“kami tak tau kapan kau akan pulang rumah jadi kami makan lebih dulu.” Lanjut ibunya mengambilkan nasi untuk takuto.
“apa kau sehat saja?” Tanya ayahnya.
“iya.. kau juga datang ayah..”takuto tersenyum melihat ayahnya yang biasanya lebih memilih pekerjaan dibanding mengurusi anak-anaknya.
“iya” angguk ayahnya.
 


“apa kabar, sudah lama ya” kata rikuto adik takuto berbasa-basi.
“ya.. bagaimana tadi dengan sekolah itu?” Tanya takuto
“aku jadi lebih tertarik” sahut rikuto.
“oh begitu.. “ gumam takuto berjalan ke wastafel untuk mencuci tangan sebelum makan.

“sebenarnya dengan kau melihat sekolah itu maka kau sudah bisa membayangkan dirimu pergi kesana dan jadi semakin ingin lulus ujian masuk kesana.”lanjut rikuto lagi. “oh ini bisa juga diterapkan dalam mencari pekerjaan. Mengapa  kau tak pergi mengunjungi perusahaan itu juga? Dan bayangkan kau bekerja di perusahaan itu” 

Takuto sebenarnya agak tersingung dengan ucapan adiknya itu yang sepertinya bernada menguruinya itu. ia melihat kedua orangtuanya hanya terdiam mendengarkan dan sepertinya justru menyetujui ucapan adiknya itu. Takuto menyingkirkan perasaan tersinggungnyanya itu dan tersenyum “aku akan cobanya”
 




Takuto lalu duduk dimeja makan bersama keluarganya yang lain. “itadakimasu” ucapnya mengambil makanannya.
“oh ya.. kamar yang kau tiduri itu, bisakah kau berikan pada Riku-chan saat dia pindah kesini?” pinta ibunya. 

“ehhh?” takuto terkejut ibunya meminta kamarnya untuk diberikan pada riku-chan.
“itu adalah kamar yang paling nyaman. Saat ke sekolah kedokteran pasti akan banyak tugas. Aku ingin dia belajar dengan lingkungan yang terbaik” lanjut ibunya memberi alasan.

Meski agak kecewa dengan perlakuan ibunya padanya, takuto menyimpannya saja “baiklah” 

“arigatou” ucap ibunya tersenyum senang tanpa menyadari klo perkataannya yang mengistimewakan anaknya yang lain sangat menyakiti takuto. 
 
 


 “itu terlalu dini ibu, meski aku tau aku akan lulus ujian masuk.” Kata riku-chan percaya diri.
“besok kita akan pergi ke kuil Yushima tenjin. Kita akan berdoa pada Dewa pengetahuan.” Ajak ibunya
“itu tak perlu” tolak riku
“itu harus kita lakukan” paksa ibunya. 

Takuto terdiam dan memperhatikan ayahnya yang hanya diam dan mengangguk-angguk setuju dengan perkataan ibunya itu.
 


Didalam kamarnya takuto menyilang jadwal interview yang tadi sudah didatanginya. Seseorang mengetuk pintu kamarnya dan takuto mempersilahkannya masuk. Ternyata ayahnya yang masuk ke dalam kamarnya.


“sepertinya sangat sulit mendapatkan pekerjaan ya.” Kata pak Sawada, ayah takuto.
“tapi masih lowongan pekerjaan yang terbuka” jawab takuto optimis. Keduanya terdiam sebelum pak sawada bertanya lagi.

“apa kau mau bekerja  kantoran di rumah sakitku? Kau bis amenjadi manager kantor” Tanya ayahnya.
“tapi…”

“aku tau tak ada gunanya membicarakan masa lalu. Tapi jik saja kau mempertahankan nilaimu di SMA maka kau bisa dengan mudah masuk ke sekolah kedokteran.” Ungkit pak sawada tentang masa lalu takuto yang tak bisa diterima di sekolah kedokteran untuk jadi pewaris rumah sakitnya.

Takuto memaksakan tertawa “gomen tapi aku bukan orang yang bisa memperbaiki masa lalu. Aku akan mencoba mencari pekerjaan dengan usahaku sendiri.”



“maksud perkataanku adalah lebih baik jika kau bekerja di kantor rumah sakit daripada bekerja di perusahaan yang orang tak kenal.” Kata pak sawada kecewa dengan penolakan takuto.
Ia keluar dan agak membanting pintu kamar takuto. 
 



Takuto juga marah dengann pembicaraan mereka tadi ia melampiaskannya dengan memukul tempat tidurnya dengan jengkel.
Hari ini sepertinya hari yang menguji kesabaran takuto.




 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar