Minggu, 05 Juli 2015

Ao Haru Ride - Part 2




Didalam kelas sedang ada pemilihan pengurus kelas. Butuh 5 orang siswa siswi untuk mewakili tiap kelas. Nanti juga aka nada orientasi pemimpin masing-masing kelas untuk membuat rencana kegiatan disekolah seperti festival atletik, festival sekolah dan wisata.

Saat Tanaka-Sensei menanyakan siapa yang mau jadi pengurus kelas, semua hanya diam.
Futaba jadi teringat klo ia ingin berubah dan ia harus memulai sesuatu dalam hidupnya. Futaba lalu mengangkat tangannya  ”Aku!”



 ”Aku juga! “ sahut Yuuri, si cewek imut dan feminim itu.
”Aku juga ikut!” Murao gadis cantik berambut panjang jg ikut mengangkat tangannya

”Aku! Aku ikut!” seru kominato bersemangat saat melihat gadis yang ia sukai mendaftar jadi pengurus kelas. ”Dan Mabuchi-kun juga!” lanjutnya sambil mengangkat tangan Kou ke atas.

Kou terkejut kominato tiba-tiba mengangkat tangannya agar ia jadi pengurus kelas. ”Apaan kau—“
”Sudah terlanjur!” seru Kominato tertawa.
”Yang benar saja?” gerutu Kou tapi ia tak bisa apa-apa. Semua tertawa melihat kelakuan kominato itu.




Acara Orientasi pengurus kelas diadakan di luar sekolah. Mereka harus bekerja keras dalam tim untuk mempersiapkan semuanya.

”Selama dua hari, mulai dari sekarang, kalian akan makan dan tidur bersama dalam Orientasi Pemimpin ini. Dengar, kalian dilatih untuk bisa membantu teman-teman di kelas.” Ucap Tanaka-sensei.
”Baik!” Jawab Futaba dan semua pengurus kelas.


Semua sudah sibuk mempersiapkan makan siang dan acara orientasi lainnya. Murao sibuk membawa kayu bakar untuk memasak.
Kominato mendekati Murao ”Biar kubawakan, nanti tanganmu kotor.” Ucapnya sok perhatian pada gadis yang disukainya itu.

Murao cuek dan melanjutkan langkahnya ”Tenang saja aku memakai sarung tangan.” Tolaknya.
Kominato bengong yang melihat Murao begitu cuek padanya seperti itu.



Murao meletakkan kayu bakar yang dibawahnya di depan guru yang ia cintai..  yang sangat ganteng itu *tambahanku sendiri  hihihi…:P , Tanaka-sensei.

Murao melihat Tanaka-sensei yang sedang memasak, matanya terkena cipratan masakannya(bahasa Indonesia cipratan apa ya? Abaikan…). Tanaka-sensei mencoba mengusap matanya dengan punggung tangannya. Melihatnya Murao lalu mengambil sapu tangannya dan diberikannya pada Tanaka-sensei.


Tanaka-sensei terkejut namun ia menerima uluran sapu tangan itu.
”terima kasih” ucapnya tanaka-sensei tulus.
”Aku tahu Sensei menyembunyikan sesuatu.” Kata murao tiba-tiba sambil jongkok didepan gurunya itu.

”Hm?” Tanaka sensei tak mengerti maksud Murao.
”Tahi lalat di lipatan matamu.” Jawab Murao tersenyum.

”Ini?” Tanaka sensei menutup matanya dan menunjuk ke tahi lalat di kelopak matanya. kyaaaa ganteng buanget…. Sensei… chuu..* abaikan!!
”Kau yang pertama menyadarinya.” Lanjut tanaka –sensei tersenyum.

”Kalau begitu jangan beritahukan pada orang lain tentang tahi lalat ini. Jangan pernah.” Ucap Murao tegas/ galak (?)
”Aku tidak bisa berjanji seperti itu.”  Sahut Tanaka-sensei. Ia lalu mengulurkan sapu tangan itu pada Murao ”Ini, kembalilah dengan tugasmu.”
Murao lalu pergi meninggalkan gurunya itu. Ia melewati Kou dan kominato yang sedang memperhatikannya dengan cemburu dan curiga.





Kominato menyenggol bahu Kou.”Mabuchi.. Maksudnya apa? Ini Bisa jadi…kan?” gumamnya tidak jelas

Futaba mengangkat kayu bakar dengan beratnya. Ia melihat Kou dan kominato yang sedang berbicara itu dan ia berseru ”Hei, bantu aku.”

Kou menoleh dan sok cuek “Kau sepertinya masih bisa mengatasinya..”





”Aduh!” teriak Yuuri yang sedang mengupas wortel.
Kou buru-buru mendekati Yuuri dengan perhatian ”Kau tak apa?” Tanya kou ”Sini, biar kubantu. Kau Duduk saja.” Ucap Kou sambil meraih wortel dari tangan Yuuri. Kou melirik Futaba sedikit mengejek mau melihat ekspresi Futaba.
”Terima kasih.” Ucap Yuuri

Futaba kesal melihat Kou yang membantu Yuuri yang hanya mengupas wortel. Padahal ia pekerjaannya lebih berat dan kou tidak membantunya ”Apa-apaan dia?” gerutu futaba.

Ia melihat Kominato sedang jongkok didepannya mengerjakan pekerjaan yang tidak penting juga.
 ”Kominato-kun, bawa kayu bakarnya.” Pintanya tapi Kominato sepertinya tidak mendengarnya sepertinya ia masih memikirkan kedekatan Murao dan Tanaka-sensei tadi.

Futaba berjalan lagi dan melihat Murao duduk melamun didepannya.
”Murao-san! Nanti—“

”Kepalaku agak pusing.” Ucap Murao tanpa mendengar lanjutan perkataan Futaba dan langsung nyelonong pergi.




Futaba menghela nafasnya melihat teman-temannya begitu tak perhatian padanya. Ia lalu berjalan membawa kayu bakar lagi. Tali yang mengikat kayu bakarnya tiba-tiba lepas dan semua berserakan ditanah. Futaba mengumpulkan lagi kayu bakarnya.

”Kau tak apa, Yoshioka-san?” Tanya sebuah suara cowok. Futaba menengok ada seorang cowok imut bingitss *tambahan penulis ada didepannya, menatapnya dengan penuh perhatian. Futaba heran ia belum mengenal cowok imut itu tapi cowok itu sepertinya mengenal namanya.

Merasa Futaba tidak mengenalnya, cowok itu segera memperkenalkan dirinya ”Aku Kikuchi dari kelas 6.  Kelas 2 sepertinya sedang repot, ya.” Kata Kikuchi sambil jongkok didepan Futaba dan ikut mengumpulkan  kayu bakar Futaba.

”Iya. Tapi, aku suka rela melakukan ini, jadi... Jika aku tak berusaha, bagaimana dengan yang lain?” jawab Futaba.

”Memikul beban sendirian itu bukanlah kepemimpinan.” Sahut Kikuchi sambil tersenyum. Ia lalu mengangkat sebagian kayu bakar itu ”Kubawakan, ya?” ucapnya dan pergi.

Saat orientasi didalam ruangan pertemuan, tanaka-sensei bertanya pada perwakilan tiap kelas tentang pendapat mereka mengenai makna kegiatan sekolah.




Tanaka-sensei bertanya pada kelasnya Kikuchi, Kelas 6.
Kikuchi lalu membacakan makna kegiatan sekolah bagi kelompoknya.
”merencanakan suatu kegiatan yang tak bisa diselesaikan kecuali secara berkelompok. Kita perlu meningkatan perasaan kita terhadap orang lain. Berkaitan dengan perasaan sendiri, melakukan sesuatu dengan orang lain akan membantu membentuk sikap seseorang, tanggung jawab, dan perilaku. Jika kita menganggap penting hasil sebuah kegiatan,maka akan membuat kita lebih baik lagi.” 

Futaba terkesima mendengar jawaban kelas 6, ia jadi malu dengan jawaban kelasnya “Gawat...” gumamnya.

 “Luar biasa!” puji tanaka-sensei.  “Selanjutnya kelas 2.”

“ baik” Futaba terkejut kelasnya harus menjawab makna kegiatan sekolah.





Futaba gelisah dan ragu-ragu berdiri membaca tulisannya “Tujuan dari kegiatan sekolah adalah… adalah… untuk membuat.. kenangan yang menyenangkan…” ucap Futaba mengakhiri jawaban kelasnya dengan ragu. “Itu saja.”

Semua langsung berbisik-bisik menertawakan jawaban Futaba. “Apa kau anak SD?” sebuah suara mengejeknya.

Tanaka-sensei menghela nafasnya dan dengan tenang ia berbicara. “Kau memikirkannya sendiri, 'kan? Ternyata kelas 2 itu seperti ini... Hari ini kalian tidak punya waktu luang… coba pikirkan bersama-sama… Persembahkan sesuatu sebelum orientasi berakhir.” Ucap Tanaka-Sensei “Selanjutnya kelas 4.”

Perwakilan kelas 4 lalu membacakan makna kegiatan kelas didalam timnya.

Futaba duduk kembali dikursinya dengan malu. Semua teman setimnya, murao, kominata, yuri dan kou juga sepertinya malu.




Kou pergi keluar kamar menginapnya untuk melihat-lihat. Ia terkejut melihat di ruang depan wisma ada Futaba yang tertidur dengan meja yang penuh dengan kertas dan buku. Sepertinya Futaba sedang mencari kalimat yang pas atas pertanyaan orientasi sekolah itu.

Perlahan Kou mendekati meja dimana Futaba tertidur. Kou meraih kertas yang berisi pertanyaan makna kegiatan sekolah. Kou tersenyum melihat tulisan tangan Futaba.
 “Tulisannya juga berantakan…” gumamnya pelan sambil duduk dikursi sebelah Futaba. 






Kou lalu memperhatikan Futaba lagi. Kou menyangga kepalanya dengan tangannya agar bisa terus menatap Futaba lama dalam diam.

Perlahan Kou merebahkan kepalanya ke meja dengan posisi menatap wajah Futaba. Wajah mereka begitu dekat sekali dan Kou tak pernah melepaskan pandangan matanya ke Futaba dengan segenap perasaan.









Futaba terbangun dari tidurnya, ia tersadar ia tertidur dimeja saat mengerjakan tugasnya. Futaba kaget melihat ada jaket yang menyelimutinya. Futaba juga kaget saat melihat kertas yang berisi makna kegiatan sekolah sudah penuh dengan kalimat-kalimat.





Futaba keluar dari tempat penginapan untuk melihat matahari terbit. Futaba menaiki daerah yang sedikit berbukit. Suasana masih gelap dan matahari pagi juga sepertinya belum menampakkan sinarnya.
Dalam cahaya yang temaram, Futaba melihat sosok Kou berdiri menanti matahari terbit. Pelan Futaba mendekatinya





Semburat jingga matahari terbit terlihat jauh diujung sana.
 “Indahnya.” Gumam Futaba pelan berdiri disebelah Kou.
Kou menoleh pada Futaba yang sudah terbangun dan berdiri disebelahnya itu.

“Susah untuk bilang ini pagi atau malam.. Sama sepertimu.” ucap Futaba menyindir Kou.

“Hah?” Kou melirik Futaba tak mengerti

 “Apa sebenarnya kau jahat.. atau baik… Aku sama sekali tidak tahu.” Jawab Futaba

“Kau pun demikian.Lemah atau berkemauan keras aku tak tau.. “ ucap kou

Futaba tersenyum dan duduk dipagar bukit sebelah Kou. “Tapi kupikir menjadi pemimpin itu berlebihan juga” sesalnya karena sudah mencalonkan diri menjadi pengurus kelas.

 “Tak apa, 'kan? Tak seorang pun terganggu jika kau menyerah begitu cepat.” sahut Kou.

“hahaha….” Futaba tertawa mendengar komentar kou itu 






“achuu…” saking dinginnya Futaba jadi bersin-bersih.

Kou melirik Futaba lalu ia menarik hood jaket yang dipakai Futaba ke atas kepala gadis itu. Futaba tertegun, kou begitu perhatian padanya.




 “Menurutku itu bagus.Membuat kenangan yang menyenangkan…” Kou membuka percakapan lagi setelah keduanya terdiam cukup lama. Ia berkomentar tentang makna sekolah yang dibacakan Futaba sebelumnya.

 “Kau tahu, kegiatan sekolah itu... Setelah selesai, saat kau mengingatnya, hal-hal yang kau alami bersama teman-teman terlihat lebih menyenangkan. Menjadi kenangan yang menyenangkan…” ucap Kou menyatakan pemikirannya.


Futaba melirik Kou yang terlihat tulus menghargai kenangan bersama teman-temannya. Kou merasa malu dilirik Futaba seperti itu. Mungkin malu juga dengan perkataannya yang tidak sesuai dengan wajah  “cuek/dingin” yang selama ia pasang didepan teman-temannya.
Wajahnya tersenyum malu-malu saat kou menyelesaikan ucapannya  “Seperti itulah…”

Futaba tersenyum “Oh  begitu…  Benar juga!”





Yuri mencari Futaba untuk menyerahkan jawaban makna kegiatan sekolah yang dibuatnya. Ia tidak enak klo Futaba mengerjakannya sendiri. Tapi ia tidak menemukan Futaba di mejanya.

“Loh? Di mana Futaba?” murao datang juga membawa kertas jawaban makna sekolah.
 “Wah, kau membuatnya juga” Yuuri melihat kertas yang dibawa Murao itu. Keduanya tersenyum melihat kertas yang dibawa temannya.

“Hei, kau tahu ke mana Mabuchi?”  Tanya Kominato yang datang juga membawa kertas jawaban. Ketiganya tersenyum bersama. Mereka ternyata peduli juga dengan Timnya.




Mereka lalu pergi mencari Futaba dan Kou diluar. Mereka melihat Futaba dan  kou duduk sambil melihat sunrise.
 “Woi, woi.apa kalian tidak terlalu berjauhan..” seruKominato mendekati mereka.

“Indahnya!”seru yuurrri  berdiri disebelah Futaba.
 “Ini dia.Dimulainya hari baru.” Seru kominato.
 “Iya.” Sahut Murao yang tajub melihat keindahan sunrise.



Futaba melompat dari tempatnya duduk,menarik perhatian  teman-teman melihatnya.
“Aku...Takkan melupakan saat kita melihat matahari terbit ini!” seru Futaba bahagia.begitu juga yang lain ikut tersenyum seolah mengiyakan apa yang dikatakan futaba.

“Aku juga! Saat ini adalah Aoharu/masa remaja…mari kita lalui masa remaja bersama-sama”pekik Kominato bersemangat sampai mengepalkan tangannya ke atasss.

Semua tertawa gelli melihat  dan mendengarkan Kominato yang begiitu bersemangat seperti itu.
“Hei, kalian...Jika kalian anggap ini memalukan maka berakhir sudah. Masa –masa dingin akan menanti terjadi sampai tua nanti!”’ ucap Kominato setelah ditertawakan temannya.

“Kominato-kun,kau sepertinya tak akan berubah meski kau sudah tua.” Ejek Yuuri.

“Kau memang cerewet.” Omel Murao pada Kominata tapi masih tersenyumm gelli.

Kominato langsung menengok ke Murao “Bentar, cerewet? Dikatain cerewet itu menyakitkan..” gerutunya 




Futaba yang sedari tadi hanya mendengarkan, tersenyum dan berbisik liriik pada Kou.. “Apa ini juga disebut pura-pura berteman?” futaba melirik kou yang disebelahnya yang ternyata juga meliriknya sambil tersenyum tipis tanpa menjawab.






Setelah itu, kepemimpinan dipegang sesuai pimpinan Kominato.

“Saat ada tugas maupun tidak, kita berkumpul setiap minggu. Kau dengar, 'kan?” Kata kominato sambil  melihat Kou yang dari tadi tidak memperhatikannya.

 “Terserah kau saja.”jawab kou kesal karena memang dia sebenarnya tidak suka jadi pengurus keras.

“Pokoknya harus datang, absensi kehadiranmu rendah.  Kau datang semaumu saja, apa kau anak TK?” semprot Kominato pada Kou.
Futaba dan yang lain tertawa mendengarnya.


Kominato melanjutkannya“Baiklah, seperti yang kukatakan akan ada pertemuan di mana-mana-“

“Kalian sedang diskusi.”tiba-tiba Tanaka-sensei datang sambil membawa bulletin  sekolah.
Semua langsung membungkuk hormat paada guru ganteng itu #abaikan salah fokusku..hahaha

 “laporan orientasi untuk buletin sekolah..  Aku ingin kalian mengerjakannya. Siapa yang biisa?” Tanya tanaka-sensei memperhatikan satu persatu murid-muridnyaa ittu.


 “ahh Aku ada kelas tambahan...” gumam Yuri melihat temannya.
Murao yang menyuka Tanaka sensei bersiap bangkit berdiri “Aku saja—“

Melihatnya Kominato langsung tidak terima.ia cemburu melihat Murao dekat dengan Tanaka-sensei.

Kominato menoleh pada Kou“Kou!Kau pintar menulis, 'kan?”

 Kou bengong ditembak kominato “Hah?”

Kominato berbiisik pelan “Ini kesempatanku jalan dengan Shuuko.” 



Futaba melihat keengganan Kou  “Biar aku saja.. Akan kukerjakan.” Ucap Futaba percaya diri.
“Terima kasih.”UcaapTanaka sensei menyerahkan kertas pada Futaba.

Kou heran futaba bisa percaya dirinya sampai mengajukan diri seperti itu.

Kou menyerobot kertas ditangan Futaba “Jangan, jika kau yang melakukannya maka naanti hasilny seperti kerjaan anak SD.” Sindir Kou seperti yang terjadi sebelumnya saat orientasi.

Futaba tidak terima dan menarik kertasnya lagi “Biar aku saja.”

“Jangan, tulisanmu juga berantakan.” Kata Kou menarik kertas itu.

 “Aku bisa menulis dengan jelas.”bantah Futaba menarik kertasnya.
 “Kau takkan tepat waktu.”sahut kou mengambil lagi kertasnya.

 “Akan kuselesaikan! Kembalikan!” seru Futaba mencoba menarik kertas itu tapi kou tidak  melepaskannya.
 “Sudahlah! Pinjam pensilmu.”sahut Kou.
Tanpa mereka sadari Yuuri memperhatikan mereka berdua dengan  curiga.


 Yuuri dan Futaba berjalan di lorong sekolahan menuju kelasnya.

 “Futaba-chan. “”
“Hm?”

 “Menurutmu Mabuchi-kun itu bagaimana?” Tanya Yuurri ragu  “Aku...Sepertinya suka padanya.” Aku Yuuri.


Futaba terkejut dengan pernyataan Yuuri itu. “eihhh..Ohhhbegitu!”

 “Aku merasa kau juga menyukainya.” Lanjut Yuuri

 “Tidak, tidak, tidak! Kami hanya teman SD. sikapnya yang jelek itu... seolah Dia bilang "Bukankah aku keren?". Jadi, sekarang tidak...”’


“Sekarang?” Yuuri heran berarti dulu….

Futaba kaget sendiri  “Tidak untuk sekarang maupun nanti.  Tidak akan pernah.”jawabnya berbohong.

“Sungguh? Syukurlah. Aku takut. Aku tak tahu harus bagaimana jika saingan denganmu.”

“Itu tidak mungkin. Oh ya, nanti telat kelas tambahannya.” Kata Futaba mengalihkan pembicaraan berkepanjangan.
 “Iya’





Fubaba duduk semeja dengan Kou diperpustakaan.Kou sibuk menullis dibukunya sementara Futaba…Sibuk menatap kou dari samping.

 “bukan berarti aku menyukainya. Hanya... Tangannya yang kurus, tulisannya yang bagus,dan hampir tidak melihat mata di balik poninya.ini hal-hal yang jauh lebih menarik dari sebelumnya.” Batin Futaba menatap Kou terang-terangan dengan mulut yang terbuka..melongo (jawanya)





Kou mengusap rambut dan tengkuk sebelah kanannya dengan pelan.

 “ahhh…itu Kebiasaan yang sama seperti dulu!” seru Futaba menatap Kou..
Kou menoleh dan melihat Futaba dengan heran dan pandangan mata serius.

 “Apa kau menyukaiku?” Tanya Kou tiba-tiba.

Futaba kaget dan panic. “Ap….apaan sih…Bukan begitu… maksudku! Itu karena Kau berbeda dari sebelumnya, aku heran kenapa kau banyak berubah.” Futaba menjawab dengan wajah cemberut.

 “Maaf……. Jangan mencari tahu tentang diriku yang lama. Itu sangat mengganggu. Kau hanya akan menjadi pecundang selamanya jika terus mengingat kenangan semacam itu.” Kata Kou dengan dinginnya.

Futaba keluar dari perpustakaan dengan sangat kesalnya “aku sangat tidak menyukainya!”







Ia lalu mengumpulkan kertas untuk bulletin sekolah yang dikerjakannya bersama Kou diperpustaakaan pada Tanaka Sensei.

 “Mabuchi mana?”Tanya Tanaka-sensei yang heran Futaba menyerahkan kertas itu padanya.
“Sudah kusuruh pulang!” sahut Futaba dengan wajah Galak.
Tanaka-sensei melihat wajahn galaknya muridnya itu sampai speakless. “ohhh..”



Futaba lalu bergegas ke loker sekolah untuk ganti sepatu dan pulang. Futaba terkejut melihat ada Kou berdiri mematung disana. Menunggunya?

“kenapa kau di sini?” Tanya Futaba saat Kou menyadari kedatangannya.
 “ eihhh?…Soalnya... Kau tadi bilang akan menyerahkannya dan menyuruhku jalan  duluan.”kou menjawab memberi alasan. Ia mengira disuruh duluan ke pintu keluar.

Maksudku kau duluan pulang.” Sahut futaba.
Keduanya salah tingkah dengan kejadian itu. Kou sedikit malu karena sudah menunggu futaba disana tapi Futaba tak mengharapkan ditunggu! Ia mengusap sebelah tengkuknya. 






Kou menatap Futaba dinginn “apa kau berpikir aku mencari alasan dan akan menunggumu—“

“Tidak kok.” Sahut futaba manyun.

Kou sedikit geli dan salah tingkah lagi mengusap tengkuknya.“Yah…sudahlah… Ayo pulang” ajak Kou berbalik pergggi.

Futaba tersenyum bahagia diajak pulang bersama Kou.ia segera berjalan mengejar Kou dengan senangnya.






Selesai sekolah Futaba,Yuuri dan Murao pergi ke sebuah Café.

“Maaf, Yuuri. Aku juga menyukai Kou.” Aku futaba menunduk meminta maaf pada sahabatnya itu. Yuuri dan Murao terkejut.
 “Saat melihatnya lagi, kupikir aku tidak menyukai Kou yang baru. Berkat dirimu, Aku sadar telah membohongi diriku sendiri.”

Yuuri mencoba tersenyum didepan sahabatnya itu “Sudah kuduga, kau juga.  Aku berpikiran begitu…Jadi, apa pun yang terjadi mulai sekarang, kita jangan bermusuhan, ya? Tapi jika kau (lawanku) sepertinya tidak mungkin aku mengalahkanmu.”

Futaba sedikit lega melihat senyuman diwajah Yuuri “Yuuri...”’

“oke..Aku ke toilet sebentar…” pamit Yuuri paada kedua temannya. Murao menatap kepergian yuuri dengan khawatir.




“Sebenarnya aku takut mengatakannya. Kupikir aku akan kehilangan teman berhargaku. Tapi, karena dia teman berhargaku, aku harus mengatakannya.” Futaba menjelaskan pada murao. 

Ia tak ingin menjadi musuh Yuuri dengan diam-diam mencoba mendapatkan Kou. Dengan berterus terang seperti itu ia  merasa tidak menghianati sahabatny.setidaknya mereka bbisa bersaing sehat.

Sementara itu Yuuri di toilet sedang menangis setelah mendengar pengakuan sahabatnya. Yuuri sudah merasa ia akan kalah dari Futaba. Ia bisa melilhat kedekatan Futaba dan Kou selama ini.






Setelah menenangkan diri ditoilet,yuuri dengan langkah berat kembali ke teman-temannya.
 “Aku kembali…” yuuri duduk dikursinya. Futaba dan Murao memperhatikan yuuri dan mereka melihat mata yuuri sembab habis menangis.

Yuuri tau kedua sahabatnya itu curiga padanya.ia  mengalihkan suasana itu dengan berbicara  “Aku lapar, bagaimana kalau memesan sesuatu?”

Murao menoleh dan melihat klo Futaba sedih dan merasa bersalah melihat mata bengkak yuuri itu.
 
 “Aku menyukai Tanaka-sensei.”ucapMurao  tiba-tiba
Futaba dan Yuuri kaget “heh…
“Kenapa tiba-tiba?”Tanya Futaba

“Yah...  Kupikir itulah yang harus kukatakan pada kalian.” Lanjut Murao.ia ingin  jujur tentang perasaannya pada sahabatnya seperti yang dilakukan kedua sahabatnya itu.ia tak ingin menyembunyikannya.



Futaba dan yuuripun tersenyum pada Murao.
“Yah, Mabuchi-lah yang akan menentukan. Dia bisa saja menolak kalian berdua. Dan jika salah satu dari kalian dipilih,  aku akan bersikap netral pada kalian.  Kalian berdua, berjuanglah.” Kata Murao memberi semangat pada teman-temannya untuk memperjuangkan cinta mereka. mereka  lalu berpelukan.


Diperpustakaan sekolah, Kominato membuntuti Kou untuk curhat .

“Jadi, masalahnya adalah Tanaka-sensei.  Aku tidak mengerti perasaan cewek yang suka pada cowok yang lebih tua!” ucap kominato mengekor dibelakang Kou sampai Kou duduk disebuah kursi.
 
Kominato duduk disebelah kou “padahal Kulitku lebih kencang, 'kan?(lebih muda)” Kou hanya diam sibuk dengan buku yang dibacanya.Kominato jadi kesal.
 “Hei, kau dengar tidak? Hei!..”

3 cowok kelas lain melewati mereka berdua.
“Hei, Kominato. Kau selalu saja berisik.”
“Berhentilah main-main dan belajar. Kau akan menurunkan jumlah kelulusan.”

Kou dan Kominato melirik kebelakang tapi tidak menanggapi omongan mereka.

Salah satu cowok berbisik pada kedua cowok lainnya.
“cowok sebelahnya, dia dari SMA Nagasaki Seiran.”
“Sungguh? Dari Seiran datang ke sini itu bukan hall yang istimewa.”

Kou dan kominato masih mendengarkan pembicaran mereka, begitu juga kikuichi yang berjalan dibelakang 3 cowok itu.

3 cowok itu berjalan sambil bergosip lagi.

“Apa terjadi sesuatu?
“mungkin dia Kalah saing?”
“Seiran bukan masalah besar.”



Kikuichi sebenarnya mau menegur  ketiga teman sekelaasnya itu tapi tiba-tiba Kominato menarik tangannya dengan keras.
 “Hei.. Berhentilah bersikap begitu.” Kata Kominato marah-marah

 “ heih..Dia tidak ada hubungannya. Dan kenapa malah kau yang marah?” cegah Kou pada sahabatnya sambil menarik tangan Kominato yang memegang tangan Kikuichi. Ia tau klo yang bergosip tadi bukan Kikuichi. Jadi Kominato tidak paada tempatnya marah-marah pada Kikuichi.


“Kau bilang apa?Jika temanmu dihina seperti ini,kau sudah pasti juga akan ikut marah. “ kominato melihat ke Kikuicchi lagi “Cepat pergi dari sini”

Ketiga teman kikuichi langsung mengajak Kikuichi segera pergi daripada terjadi pertengkaran lagi.




Kou sedang berjalan pulang seorang diri saat Futaba berlari dan memanggil namanya.

 “Kou!”
 Kou menengok dan melihat wajah ceria temannya itu  “Apa?”
 “Tidak kok…Aku sekarang sudah menyerah mencari tahu tentang Kou yang lama.”

“Hah?”
“Aku ingin tahu tentang Kou yang baru. Semua yang tak kuketahui selama 4 tahun Kou di Nagasaki.”

Kou hanya diam dan melanjutkan langkahnya enggan mengomentari Futaba.





 “Hei, kenapa kau kembali ke sini?”Tanya futaba.
“karena Beberapa hal.” Jawab kou.

 “Kau sekarang tinggal di tempat yang sama?”
“Ya” kou menjawab singkat

“Dengan ibumu?”
“Tidak.”

“eh Kenapa?” futaba heran

Kou menghentikan langkahnya dan melihat futaba tidak suka
“Tidak penting, 'kan? Tak ada hubungannya denganmu.”

“memang tak ada hubungannya denganku! Tiba-tiba pergi, lalu tiba-tiba muncul... Ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu! Aku bertanya karena aku tidak bisa menghilangkannya dari kepalaku!”

 “Tolong jangan memasuki kehidupan orang lain lebih dari yang sudah kau lakukan” kata Kou  tegas dan berjalan meninggalkan Futaba yang hanya bisa memperhatikannya.





Saat libur musim ppanas, Kominato mengajak teman-temannya berkumpul dirumahnya. Anehnya kenapa pakai seragam ya  klo liburan?

“Panas!”kata Kominato sambil kipasan “Kou tidak hadir lagi?”

 “Kenapa pas liburan juga ada pertemuan?”gerutu murao  “Dan di rumahmu pula.”

 “Kau tahu, festival dan karyawisata akan segera dimulai setelah semester baru. Kita kan harus siap-siap, 'kan?”kata Kominato membela diri.

“aku khawatir apakah terjadi sesuatu dengan Mabuchi-kun ya?”kata yuuri
 “LINE-ku saja belum dibalas.” Sahut Kominato

“ Dia sepertinya menghindari kita.” Kata murao.semua langsung termenung.
 


Karena khawatir dengan kondisi Kou maka Futabapun pergi ke rumah kou.
wihhh aku mau lingkungan rumah seperti ituuuu..keren bangett…

Ditembok rumah itu tertulis nama pemilik/penghuni rumah ” Tanaka, Mabuchi”

Futaba menekan tombol rumah itu dan ada suara pria menjawab “Iya!”



Seseorang membuka pintu rumah.
“Yoshioka!” seorang pria yang membuka pintu itu kaget melihat muridnya ada di depan pintu.

Futaba juga kaget melihat gurunya ada dirumah kou “Tanaka-sensei!Kenapa-?”

Tanaka-sensei tau,futaba pasti kesitu untuk mencari kou jadi karena sudah terlanjur Futaba disana,Tanaka-sensei lalu menjelaskan pada Futaba.

 “Sebenarnya Kou itu adikku.” Jawab Tanaka-sensei tersenyum malu..duh senyumnya
Futaba sangat terkejut “Adikmu?”
 



Tanaka-sensei lalu mengajak Futaba masuk ke dalam rumahnya.

“agar di sekolah lebih nyaman, Kami memang menyembunyikan rahasia ini dari para siswa.”
Mereka tidak mau klo nanti karena hubungan saudara seperti itu dia dituduh yang tidak-tidak saat memberi nilai atau apapun juga.

“Aku juga ingin tanya sesuatu tentang Kou padamu. Didepanmu kou sepertinya bisa berekpresi lepas.” Tanya Tanaka-sensei sambil membuatkan minuman untuk futaba. Ia heran adiknya yang begitu dingin saat bersama Futaba bisa marah dan tersenyum.


“Ini…” tanaka-sensei meletakkan minuman diatas meja dan duduk berhadapan dengan Futaba. ‘”Di tahun pertama SMP, orangtua kami bercerai, dan aku tinggal di sini bersama ayah. Kou ikut ibunya ke Nagasaki.”

 “Kenapa dia kembali?”Tanya futaba penasaran.

Tanaka-sensei terdiam sampai akhirnya ia melirik altar sembayang ibunya. Futaba ikut melirik dan baru menyadari ada meja sembayang dengan foto ibu Kou disana.


 Tanaka-sensei lalu menceritakan hidup Kou yan berat dimana kou harus merawat ibunya yang sakit kanker. Paru-paru seorang diri.Kou harus melihat ibunyayang kesakitan. Pulang sekolah ia juga harus segera ke rumah sakit untuk menunggui ibunya. Tapi nyawa ibunya tak tertolong karena kanker paru-parunya sudah stadium akhir. Kou sangat sedih,kehilangan dan merasa bersalah pada ibunya. Kou tak bisa memaafkan dirinya sendiri. Ia merasa tak pantas bahagia setelah ibunya meninggal.

Tanaka-sensei juga merasa sangat bersalah karena dulu takut melihat penderitan ibunya sehingga Tanaka-sensei dulu selalu beralasan banyak pekerjaan atau Nagasaki terlalu jauh untuknya mengunjungi ibunya.


Semakin mendengar cerita kehidupan Kou di Nagasaki,kekhawatiran Futaba jadi semakin bertambah. Ia langsung pergi mencari Kou.

Futaba pergi mencari kou di berbagai tempat. Di tempat game dan ditaman. Setelah beberapa lama futaba  melihat sosok Kou yang duduk ditangga taman sedang bermain dengan seekor kucing.
Kou menyadari kehadiran seseorang dibelakangnya. Ia menengok dan melihat Futaba disana.


Mereka berdua lalu berjalan pulang. Futaba menceritakan pada Kou apa yang sudah di ceritakan tanaka sensei padanya.

“Oh begitu….”ucap Kou setelah futaba bercerita.  “Kakakku sudah memberitahumu…Saat aku ke Nagasaki,  aku berjanji padanya kalau aku akan menjaga ibu….seperti anak kecil…aku giat belajar Agar ibu bisa hidup nyaman saat aku menjadi dokter. Aku tidak sadar kalau ia sakit. Heh Menggelikan kan….Di satu sisi ia semakin kurus. Setiap hari seolah-olah ia siap meninggalkan dunia ini... Apa yang saat itu aku pikirkan?”

Kou melihat futaba yang terdiam didepannya dengan wajah khawatir dan sedih itu.
 “Kau tak mengerti, 'kan? Kau tak perlu mengerti…. Kau akan  bosan dengan beberapa hal saat menemukan hal yang lebih penting bagimu.”ucap kou sedih.

Ia berjalan melewati futaba.



 “Kou! “ teriak Futaba sangat keras .
Kou berbalik melihat Futaba yang berlari ke arahnya.

Futaba menabrak tubuh Kou dengan tubuhnya sampai keduanya terjatuh ke tanah.
Futaba duduk diatas tubuh Kou yang kaget memandang futaba.



“aku tidak mengerti! Aku... tidak tahu sama sekali! Tapi... Dari lubuk hatiku aku ingin mengerti, apa tidak boleh?” ucap Futaba sedih. “Takut kehilangan seseorang yang penting tak ada harus sampai kau menjauh dari temanmu. Karena ….Bagi kami, kau itu orang yang penting!” seru Futaba tegas.

 “Jika kau memikirkan sesuatu, dan seseorang membuatmu sulit, maka kami takkan memaafkannya! jika ada orang seperti itu, meskipun dia ibumu,  akan kuhajar dia!” ucap futaba penuh amarah.


Kou masih terdiam menatap futaba yang begitu mengerti dirinya, begitu ingin melindunginya. tanpa terasa airmata menetes dari kelopak mata kou.
Futaba kaget, begitu juga kou yang tersadar ia menangis.


Kou tiba-tiba menarik Futaba ke dalam pelukannya dan menyembunyikan wajahnya dibahu Futaba. Kou memeluk Futaba sangat erat.
 “Kou?” Futaba khawatir setelah melihat airmata Kou tadi, futaba ingin melihat wajah Kou. futaba berusaha mengendurkan pelukan kou tapi Kou justru semakin mempererat peluknya.

“Jangan lepaskan dulu.” Gumam pelan kou ditelinga Futaba sambil terus mempererat pelukannya.
Futaba tau Kou tidak mau menunjukkan wajah sedihnya pada dirinya. Futaba  memberikan waktu agar kou bisa mengontrol perasaannya dulu. Futaba membiarkan Kou bersandar dan memeluknya.
 


BERSAMBUNG


 

10 komentar:

  1. suka sma persahabatan mereka. ahh apa lagi kou dan futaba so sweet bgt. :) makasi kk.

    BalasHapus
  2. Liat futaba sma kou so sweet bngt..ditunggu ya min kelanjutan nya. Ganbate...

    BalasHapus
  3. suka kou... kou dan futaba, love, love.. ^^

    BalasHapus
  4. Waa, terbantu banget sama sinopsisnya. Kalo nonton film nya aja, perlu beberapa kali nonton biar ngerti. Hehe

    Aku juga suka banget sama Tanaka-sensei di sini, cakep amat sih jadi guru, murid" nya pasti betah lama" belajar sama dia^^

    BalasHapus
  5. wait... tanaka sensei kayak mantan drumer nya One ok rock yah,,, hahaha hampir mirip entah itu dia atau bukan.... v asli aku suka banget sama filmnya ini, apalahi animenya uhhh aku smpe gak bosan nonntnnya...

    BalasHapus
  6. Jaket seperti yang dikasihkan futaba bisa dibeli dimana ya? :D

    BalasHapus