Rabu, 11 Juni 2014

Fujoshi Kanojo - Part 3 Ending


Yoriko menemui kasumi tentang masalah yang dihadapinya dengan hinata. Kasumi berkata klo ia tau pergi ke London adalah mimpi yoriko dari sekolah. Karena yoriko sampai ikut pertukaran pelajar. Ia tau juga yoriko susah meninggalkan Hinata tapi ia ingin yoriko juga menghargai mimpinya.
  


Sementara itu hinata cerita pada koji tentang hubungannya dengan yoriko.
“dia tidak mempercayaiku.. karena aku lebih muda darinya.. karena aku masih kuliah.. aku pikir yoriko benar-benar membutuhkanku.. aku benar-benar seperti orang bodoh.  Aku hanya seorang butler (pelayan) mainan untuk menyenangkannya saja. “ ucap hinata
“menjadi muda atau menjadi mahasiswa tidak ada hubungannya dengan itu semua.” Kata koji
“heih?”
“dia membutuhkanmu dengan caranya sendiri.” Lanjut koji
Hinata tersenyum “kau nampaknya lebih memahami dia dibanding aku. Kau bisa mengatakan seperti itu”
“apa yang ingin kau katakan? Jika kau berkata itu adalah keputusannya sendiri, maka dia tak akan pernah membahasnya denganmu. Aku juga tidak akan, jika aku jadi dia. ”
  



Yoriko menemui miki yang sedang ditaman bermain bersama anaknya. Miki bilang klo ia sudah tau apa yang dialami yoriko. Ia menyampaikan pada yoriko klo kasumi menyesal memarahi yoriko. Mikir berkata ia sebenarnya tak ingin yoriko pergi tapi ia tidak memaksa yoriko tinggal.

Yoriko berkata klo ia tidak pergi maka selamanya ia akan menyesali keputusannya itu. tapi hal sangat mengerikan baginya untuk meninggalkan jepang adalah karena saat ini ia sudah sangat bahagia dengan kehidupannya. Ia takut dengan perasaannya akan berubah saat dilondon nanti. Ia takut kehilangan orang-orang yang membuatnya bahagia ini.


Untuk beberapa hari Yoriko dan hinata tidak bertemu. Yoriko memutuskan untuk pergi ke london. Ia menghubungi ibunya untuk pamit ke London. 
Dirumahnya hinata juga gelisah, bingung dengan hubungan mereka dan keadaan yoriko. Mereka berdua sering melamun, memikirkan jalan terbaik buat mereka.


Yoriko menghubungi hinata untuk bertemu disebuah taman. Hinata sudah datang lebih dulu. Sampai akhirnya ia melihat yoriko berjalan kearahnya. Hinata bangkit dari tempat duduknya menunggu yoriko.


“apa kau sudah menunggu lama? Gomen ne”Tanya yoriko
“jangan kuatir.. tak apa.. bagaimana klo kita jalan?”
“baiklah..” sahut yoriko

Mereka berjalan sendiri-sendiri sampai hinata berhenti dan menoleh pada yoriko.
“apa kau mau.. bergandengan tangan?”
“baiklah” sahut yoriko.
Mereka melangkah bersama ketempat dimana dulu mereka jadian.


“yoriko-san….” Hinata menatap yoriko tanpa melepaskan pegangannya. “…tetaplah bersamaku selamanya…  aku tak bisa membayangkan hidupku tanpamu.”
“aku sudah memutuskan…”ucap yoriko “aku akan pergi ke London. “

Hinata hanya terdiam lama dan yoriko menunggu ucapan hinata.

“apa kau tak mau mengucapkan selamat padaku?” kata yoriko agak terisak.
“jangan pergi..” ucap hinata menatap yoriko sedih.


Tangis yorikopun tak terbendung lagi. Ia menangis menatap hinata “uuu…aku kira kau tak akan mencoba mencegahku pergi..”isak yoriko

Hinata memeluk yoriko erat yang menangis dipelukannya.. “yoriko.. pergilah kelondon.. kau sudah bekerja keras untuk ini… aku mendukung penuh padamu.. selamat ya”
Hinata lalu memeluk yoriko lebih erat dengan sedihnya. Mereka pulang dan menghabiskan malam bersama diapartemen hinata.


Saat tengah malam Yoriko terbangun dari tidurnya. ia melihat hinata masih tertidur disampingnya. Yoriko terus menatap sedih wajah hinata lalu ia mengelus lembut wajah hinata dan merebahkan kepalanya di dada hinata.
Sebenarnya saat itu hinata juga tak bisa tidur jadi ia berpura-pura tertidur saat yoriko menyentuhnya.  Ia membuka matanya saat yoriko rebah didadanya. mata Hinata menyiratkan kesedihannya.



Pagi harinya, hinata memotong kuku kaki yoriko.
“kau harus bisa menyesuaikan diri disana jadi kau juga bisa memotong (kuku) sendiri. “
“iya suatu hari nanti.”

“mereka akan terus tumbuh jika kau tak memotongnya. “ kata hinata lagi
“mereka tumbuhnya lama”
“tapi kau harus belajar memotongnya sendiri”

“aku akan memintamu memotongnya” ucap yoriko tersenyum.
“mereka akan lepas sebelum aku sempat memotongnya.”
“tapi aku ingin kau memotongnya… tapi… “
“aku tak akan ada disekitar mu.. aku membayangkannya akan sangat sulit.  Tapi itu hadiah dari Tuhan atas kerja kerasmu selama ini. kau tak boleh menyia-nyiakannya..  waktu 2 tahun itu sangat cepat” kata hinata

“terasa cepat karena kita terus bersama-sama..” sahut yoriko. Mereka terdiam hanya ada bunyi kuku yang terpotong.


“ahh ini sudah waktunya pergi” ucap yoriko.
Hinata memaksakan tersenyum menatap keluar jendela “ah kau benar.. begitu cepat..”
Hianata membawakan tas yoriko yang terlihat sangat berat.
“aku akan menaruh kunci apartemen dimeja” kata yoriko menaruh kunci apartemen hinata yang dibawanya di meja.

“baiklah.” jawab hinata tanpa menoleh kebelakang. 


Mereka berjalan beriringan. Sampai disebuah jembatan. “hei…” panggil yoriko.
Hinata berhenti dan yoriko menarik tasnya yang dibawa hinata.
“mari kita berpisah dari sini saja” kata yoriko
“eihhhh?’”

“aku tak ingin terlihat sedih dibandara. Aku akan naik taxi dari sini. “
Hinata gelisah sebelum akhirnya ia tersenyum “baiklah” hinata terdiam menatap yoriko dan kembali tersenyum “yoriko-san.. selamat atas perpindahanmu ke London”

“terima kasih” sahut yoriko menunduk. Yoriko berbalik dan melangkah meninggalkan hinata yang terus menatap punggung yoriko yang perlahan-lahan menghilang.


Hinata pulang ke apartemennya dan langsung merasakan kesunyian apartemennya. Ia melihat sekelilingnya. ketempat dimana yoriko sering menaruh barangnya disana. Hinata melihat kunci apartemen yang pernah diberikannya pada yoriko.

Hinata melihat ada amplop kecil yang ditaruh dibawah kunci itu. ia mengambilnya dan membuka isinya. Hinata langsung terkejut dan shock melihat cincin yang diberikannya pada yoriko juga dikembalikan yoriko padanya.  Hinatapun menangis keras dan terduduk lemas. Hinata sangat down dan sedih sekali.

“itu adalah bagaimana aku dan pacar Fujoshiku berpisah… “


Beberapa waktu kemudian
Yoriko sibuk dengan pekerjaannya dilondon. Dirumahpun ia masih mengerjakan tugasnya. Tiba-tiba Hpnya berbunyi dan ia mengangkatnya
“haloo…” sapa yoriko dengan logat bule.

“konichiwa..” kata suara disebrang sana.  Yoriko terkejut mengenali suara dengan bahasa jepang itu.
“hinata?”

Hinata tertawa diujung telpon “aku akhirnya benar bisa menghubungimu setelah sekian lama” ucap hinata.
“apa kau tak kangen jepang?” Tanya hinata lagi.
“kau pikir siapa aku?” bantah yoriko
“orang yang selalu fokus seperti biasanya..” sahut hinata.
“itu benar.” Sahut yoriko.

Ditempat hinata berdiri, ia berjalan menaiki tangga sebuah gedung dengan masih berbicara dengan yoriko. “aku sedang berpikir untuk mendapatkan gelar MBA.”
“benarkah? Bagus untukmu!” ucap yoriko memberi semangat.
“tentu saja.. aku tak bisa masuk ke Cambridge.. tapi aku masih ingin melakukannya di London. “
“heih?”
“yoriko-san.. aku akan mengatakannya lagi.. aku benar-benar ingin kau bersamaku selamanya. “
Dikamarnya yoriko terlihat sedih “kau harusnya tak mengatakan hal sepertii itu ditelpon." katanya mencoba bercanda.
Hinata tersenyum menaiki tangga  “kau benar..”
Yoriko mendengar ada ketukan dipintu apartemennya “tunggu sebentar ya” katanya pada hinata.
“baiklah” sahut hinata.


Yoriko bangkit dari kursinya dan pergi membuka pintunya.  Yoriko melihat seorang kurir datang membawa sedua paket untuknya. Yoriko menerimanya.

Saat menandatangani resi paketan, yoriko berbicara dengan hinata dengan telpon yang ia jepit antara kepala dan bahunya “ah gomen.. aku menerima paketan.. “ kata yoriko pada hinata di telpon.

“apakah itu?” Tanya hinata.

“ah cangkir yang aku pesan sebelumnya” jawab yoriko dan tersenyum pada kurier paket sebagai ucapan terima kasih. Kurir itupun pergi.


“kalau begitu bagaimana klo kita minum bersama dengan cangkir ini?” Tanya hinata yang tiba tiba muncul ditangga depan apartemen yoriko bersisipan dengan kurier tadi.
.
Yoriko terkejut melihat hinata ada didepannya.  Hinata menutup telponnya dan berjalan mendekati yoriko yang  juga langsung menutup telponnya. Saat hinata sudah didepan pintu apartemen yoriko, mereka masih saling menatap.


“bisakah kau berhenti membuat denyut jantungnya meningkat seperti ini?” ucap yoriko jujur.
Hinata tersenyum “sepertinya itu tak mungkin.”

Yoriko yang masih shock dan capek memegang dus cangkir itu tiba-tiba limbung dan mau jatuh. Hinata buru-buru memegangi dus dan yoriko agar tidak terjatuh.

“apakah kau baik-baik saja?” Tanya hinata dan membawa yoriko masuk kedalam apartemen yoriko.


Hinata menaruh dus itu kesebuah kursi. Sementara yoriko masih mematung terus menatap hinata yang ada didepannya.

Hinata mengambil hp yang ada ditangan kaku yoriko dan menaruh dimeja. Lalu ia menatap wajah shock yoriko didepannya.

Hinata mengambil sesuatu dari saku jaketnya. “butuh waktu sebulan untuk memilihnya.. “ kata hinata dan menaruh barang itu ketangan yoriko.


Yoriko melihat kotak warna pink itu. hinata lalu membuka tutupnya. Ternyata ada cincin yang sangat indah didalamnya.

Yoriko masih terdiam melihat cincin itu. Hinata tersenyum “ini type baru.”
Hinata melihat yoriko masih diam menatap cincin itu.

“yoriko-san…”panggilnya. Yoriko mendongak dan menatap hinata.
“tetaplah bersamaku selamanya” ucap hinata sungguh sungguh.

yoriko terdiam lama...


“ini tak adil.. diwaktu seperti ini…”ucap yoriko gugup
“benarkah?”
“ini… cincin ini adalah.. “
Hinata masih tersenyum menatap yoriko “iya cincin ini benar seperti  makna tampilannya.”

“tapi aku orang yang egois dan seorang fujoshi.. dan aku rasa aku akan terus memanggilmu sebase selamanya.. “
“baiklah..”hinata menjawab

“ini akan jadi imbalan yang tak pantas!” 
Hinata mengambil cincin dikotaknya dan memasukkannya ke jari kiri yoriko. “tapi aku mendapatkanmu (sebagai imbalannya)”


Yoriko terharu melihat cincin dijarinya itu dan ia menangis “saat kecil apa kau tak pernah belajar klo kau tak boleh membuat seorang gadis menangis..” isak yoriko

“iya aku pernah mendengarnya” jawab hinata tersenyum.

“tapi kau sudah membuatku menangis.. dasar bodoh.. ini tak bagus.. aku bisa marah” isak yoriko tertunduk.
“gomenasai…” kata hinata

“klo begitu.. ijinkan aku bersandar dibahumu…. Aku butuh sesuatu untu membersihkan mata dan hidungku!” kata yoriko manja.

Hinata tertawa lebar dan berkata kalem. “silahkan”
Yoriko lalu memeluk hinata erat dan rebah dibahu hinata.. hinata juga membalas pelukan yoriko dengan erat.


Setelah beberapa saat, yoriko berdiri tegak menatap hinata “mulai sekarang, kau terjebak bersamaku sampai selamanya sebase..”

Hinanta menyingkirkan rambut yoriko yang terurai dikeningnya.  Merekapun lalu saling mendekat untuk berciuman. Tapi saat hidung mereka bersentuhan, tangan yoriko menutup mulut hinanta untuk menghentikannya. Hinata terkejut.

“tapi kau harus menghidangkan teh yang paling enak” ucap Yoriko. Hinata tersenyum “iya nyonya”
Yorikopun mendekat dan mencium Hinanta dan hinantapun membalas ciuman kekasihnya itu dengan  mesra .


 Sementara hinata pergi, ia memberikan belahan hati yang dulu dipasang di HPnya dan HP yoriko pada anaknya Miki dan sekarang dipakai untuk kalung anaknya Miki. kasumi dan miki masih tetap mengunjungi butler cafe seperti saat masih ada yoriko.

Hinata juga memberikan Aquarium kecilnya pada koji dan kekasihnya untuk dirawat mereka.


pelajaran apa yang kita dapat  dari film ini?? 
cintailah pasanganmu apa adanya diri mereka sendiri... 




*** TAMAT ***


2 komentar:

  1. Daebak^^

    semangat unni..
    ditunggu drama selanjutnya:)

    BalasHapus
  2. "Cintailah pasanganmu apa adanya diri mereka sendiri..."
    Hmmm...benar mb....
    Thx sinopsisx mb...

    BalasHapus