Kamis, 18 Juli 2013

Sinopsis : Itazura Na Kiss, Love In Tokyo - Ep. 7



Episode 7 : Servis Ace Cinta

(service ace = istilah servis dalam tenis)


Ayah kotoko mengatakan pada bapak dan Ibu irie soal rencananya pindah dari rumah keluarga irie. Ibu Irie melarangnya karena ia tak ingin berpisah dengan kotoko, ia sudah terlajur sayang pada kotoko. 

Ayah irie juga meminta ayah kotoko tetap tinggal disana karena selama ini kan ayah kotoko juga memberikan uang perbulan jadi ayah kotoko tak perlu sungkan tinggal disana. 

Ayah kotoko bilang ini untuk kebaikan kotoko agar bisa melupakan naoki.
Ibu irie bilang klo ia akan meminta naoki bersama kotoko. Ayah kotoko bilang tidak perlu karena itu adalah urusan keduanya biar diselesaikan sendiri.



Yuki diam-diam mendengarkan pembicaraan mereka ia segera pergi ke kamar kakaknya dan melaporkannya dengan senang sampai melompat-lompat. 

“onii-chan, kotoko akan pindah! Yayyyy.. dia telah memberi kita banyak masalah, sekarang dia tidak bisa menyebar kuman bodohnya lagi.  Yataaa… senangnya! Dasar kotoko bodoh!”
Naoki hanya dia mendengarkan.




Kotoko mengemasi barang-barangnya didalam kamar. Ia menatap seluruh ruangan yang setahun ini sudah ia tempati.
Kotoko dan ayahpun pergi meninggalkan rumah keluarga irie. Kotoko menangis sedih didalam mobil saat perjalanan ke rumah baru mereka.


Sesampai dirumah yang dikatakan ayahnya ternyata ayah mengajaknya ke sebuah apartemen. Ayah bilang ini rumah sementara mereka karena status rumah yang disewa mereka sedang proses pindahan oleh penghuni lamanya.
“rumah tanpa irie-kun.. mulai hari ini, hidupku tanpa irie kun dimulai.”


Disekolah kotoko memberi tahu satomi dan jinko klo ia pindah ke apartemen untuk sementara waktu. Jinko bilang berarti nanti hubungan kotoko dan naoki akan berakhir. Satomi memarahi jinko yang tidak bisa melihat kondisi kotoko yang pasti sedih harus berpisah dengan naoki.

“tak apa-apa aku sudah menyerah pada irie-kun”
“tak mungkin!” teriak satomi dan jinko dengan kompaknya.
“kau tak boleh menyerah sejahat  apapun dia padamu..” ucap jinko lagi
“tutup mulutmu” sahut satomi marah pada jinko. Jinko menyadari ia terlalu banyak bicara.
“aku bukan diriku lagi, aku tak mau mengejar irie-kun. Aku juga tak akan pergi ke fakultas teknik lagi.” Sahut kotoko.

Satomi bertanya apa yang terjadi dengan kotoko kenapa berubah pikiran. Kotoko bilang ini karena ayahnya menasehatinya untuk tidak mengejar naoki karena sepertinya naoki tidak suka padanya.
Kin-chan menyediakan omurice yang diberi lilin sebagai tanda kelahiran baru kotoko. 


Naoki pulang ke rumah dan terkejut melihat ayah dan yuki sedang didapur untuk memask.
Ia bertanya apa yang sedang terjadi. 

“apa yang terjadi? Dimana ibu?” Tanya naoki
“dia agak tertekan. Dia bilang dia tidak nafsu makan dan tidak mau melakukan apapun. Dia letih.” Jawab ayah irie.

Sementara ibu irie ada dikamar bekas kotoko dan sedang melihat album foto berisi foto-foto kotoko dengan sedihnya.
Para pria dirumah keluarga irie lalu membagi tugas rumah untuk tiap-tiap orang sampai ibunya kembali normal perasaannya.


Kotoko pulang ke apartement sementaranya. Saat ia membuka pintu, ia teringat masa-masa ia bersama keluarga irie. “ tidak… aku mau melupakan irie-kun.. aku tidak mau kembali ke keluarga irie. “ gumam kotoko.

Dirumah keluarga irie. Yuki heran dengan keadaan ibunya yang belum masih bad mood itu “ onii –chan, ibu sebenarnya kenapa? Kuharap dia tidak seperti itu karena kotoko bodoh iitu pergi!”

“yuki, bukankah kau sudah punya kamarmu sendiri? Karena kamarmu sudah kembali, kau tak perlu disini setiap hari.” Sahut naoki terus membaca bukunya tanpa melihat Yuki.
Yuki tertawa “aku tau.. tapi aku sudah terbiasa ke kamarmu..” Yukipun pergi meninggalkan kamar kakaknya.




Kotoko tetap ikut klub tenisnya. Satomi dan jinko heran dengan kotoko yang katanya mau melupakan naoki harusnya sudah tak perlu lagi ikut klub tenis.

Anggota baru harus latihan push up, semua kelelahan sampai tiduran di paving luar sekolah. Dari sekian banyak anggota baru sekarang tinggal mereka yang bertahan, termasuk kotoko. 

Sebagai hadiah pada anggota baru yang bertahan, sudo mengijinkan mereka masuk ke lapangan.

Semua senang karena dikira sudah diperbolehkan bermain. Ternyata mereka hanya ditugaskan untuk ambil bola yang jatuh didalam lapangan.




Yuko yang melihat kotoko mengambil bola mendekatinya “jadi kau belom menyerah juga? Klo aku, aku tidak akan bisa menanggungnya. Latihan otot dan mengumpulkan bola setiap hari. Irie-kun bahkan tidak pernah datang”

“aku tak lakukan ini untuk irie kun” jawab kotoko
“benarkah?” sahut yuko tak percaya.  Ia menunjuk bola-bola tenis yang berjajar di lapangan seperti menyuruh kotoko mengambilnya. Kotoko segera berjongkok untuk mengumpulkannya. Ia terus menunduk dan mengambil bola.

Tapi ada sebuah kaki yang menginjak bola yang akan diambilnya.
“permisi, kau menginjak bola. Kalau kau pemain tenis..”
“oiyy.. kau masih mengumpulkan bola?” Tanya naoki. Mendengar suara noaki kotoko langsung mendongak.

“irie kun kenapa kau disini?”
“karena aku ikut klub tenis” jawab naoki.
“tapi kau kan tak perlu latihan..” (karena naoki sudah ahli jadi diijinkan tidak ikut latihan oleh seniornya)

“apa aku tak diijinkan?” sahut naoki dan berjalan ke tengah lapangan.
“irie-kun kesini.. kita latihan bersama” panggil Yuko.
Kotoko melihat naoki bersama yuko ia menggelengkan kepalanya “tidak.. aku sudah putuskan melupakan irie-kun. Dia tak tau apa yang kurasakan. Betapa sulitnya melupakanmu. “ batin kotoko.
 


Sudo yang melihat naoki datang segera menyapanya “tumben kau datang latihan naoki. Kau ingin bertanding denganku kan?” kata sudo sambil mengambil raketnya dan dia berubah seperti orang yang kerasukan.

“tak masalah tapi aku tak ingin membuatmu malu lagi.” Jawab naoki dengan percaya dirinya.

“kalau kau bisa buktikan.. apa kau bisa terima syarat apapun yang kuberikan dan bertanding denganku?”
“tentu” jawab naoki
“kalau begitu kita bermain ganda. Aku dengan Yuko matsumoto dan kau dengan aihara kotoko (curang.. kotoko kan gak bisa main tenis!).”

“hah.. aku?” seru kotoko kaget
“jangan bercanda “ tawa naoki

“kau tak suka? Matsumoto mahasiswi, aihara juga mahasiswi, ini kombinasi yang adil”

“apa adilnya? Ini sangat tidak adil.” Naoki menunjuk pada kotoko. “kalau kau bisa menang pertandingan ganda dengan orang seperti dia, kau bisa jadi juara dunia.” Ucap naoki saking kesalnya.

“irie-kun, kau tak perlu bilang begitu.” Kata kotoko pelan dan malu-malu.
“tapi dia benar. “ sahut yuko
“kau bilang kau akan terima apapun syaratnya.” Ucap sudo. “matsumoto, aihara, masuk ke lapangan.”perintahnya.

Yuko mendekati naoki “aku kasihan padamu, tapi aku tak mudah dikalahkan begitu saja. Maafkan soal itu” ia lalu pergi ke sisi sudo untuk bersiap-siap bertanding. 

Naoki menghela nafasnya dan melirik kotoko.
“mustahilkan?” tawa kotoko  “mustahil.. mustahil.. mustahil..”
“kau mau bilang apa irie?” teriak sudo dari ujung lapangan lainnya. “kau mau batalkan? Atau kau mau kabur dari permainan?sebagai pria, itu menyedihan sekali. Benarkan yuko?” teriak sudo .

Naoki merasa tertantang, dia berjalan mendekati kotoko “ kau tak usah memukul bola.”
“apa.? Kita sungguh ikut?” Tanya kotoko kuatir. 

“tak ada pilihan lain. Kita tak bisa batalkan. Yang jelas yang perlu kau lakukan adalah bertahan tapi jangan pernah halangi aku mengerti?” 

“jangan halangi aku.. kurasa irie kun pernah bicara begitu padaku saat kita masih SMA.”

Pertandinngan dimulai. 
Semua berkumpul menonton. Kotoko seperti sudah diduga ia maah berlari lari menghindari bola malah seperti penari balet dilapangan. Dan beberapa kali bola tenis juga mengenai tubuhnya. 

Pertandingan akhirnya dimenangkan sudo dan yuko.
Sudo dengan mengejek mengatakan untuk bertanding lagi minggu depan dengan pasangan seperti ini. Naoki langsung menyetujuinya. Sudo yang sebenarnya Cuma mengejek jadi terkejut tapi akhirnya mereka setuju untuk bertanding ulang. 


Kotoko datang terlambat untuk latihan tenis ia berjalan mengendap-endap agar tak ketahuan tapi ternyata naoki sudah menghadang didepannya. 

“kau terlambat” seru naoki.
Kotoko tertawa-tawa mencoba mencari alasan. “maaf.. ada perpanjangan jadwal kuliah dan..”
“aku tak mau mendengarnya.. kita mulai latihan” kata naoki menyela alasan kotoko.

Tapi sudo menghadang mereka. Ia meminta kotoko mengambil bola karena kotoko belum pernah lulus tes latihan.  Naoki bilang klo ia butuh latihan dengan kotoko karena pertandingan mereka minggu depan. Sudo bilang peraturan tetap peraturan. Akhirnya kotoko berakhir dengan menngambil bola-bola.

Karena tak berhasil melatih kotoko, naoki punya ide untuk melatih kotoko. Ia mengambil bola dan memukulnya pelan  kea rah keranjang didepan kotoko.
Kotoko terjatuh karena terkejut. 

“kau sedang apa?” seru kotoko terkejut
Naoki berjalan mendekatinya. “jangan tutup matamu.  Jangan lihat lapangan saat kau akan mengambil bola. Buka matamu dan lihat bolanya. Gerakkan badanmu kea rah bolanya datang. Mengerti?”
Kotoko mengangguk. “iya..”


Saat latihan selesai dan semua bubar untuk pulang. Kotoko pun segera berjalan pergi untuk keluar lapangan. Tiba-tiba naoki menarik kerah belakang kotoko untuk mencegahnya pulang.

“kau harus latihan sekarang..” kata naoki.
“aku lelah.. seperti yang kau bilang aku membuka mataku dan memukulnya beberapa kali. ” ucap kotoko 

“kita tak punya pilihan karena kau tak bisa latihan selama klub berlangsung. Skarang ayunkan raketmu seratus kali.” Perintah naoki.

Kotoko mau menolak dengan alasan “hujan”
Tapi naoki tak membiarkannya ia tetap meminta kotoko latihan dibawah guyuran hujan.
Selesai latihan kotoko yang kelelahan langsung tertidur dikasurnya. Ayah pulang dan kasian melihat kotoko yang penuh luka lebam.


Karena latihan terus pagi dan malam hari. Kotoko benar-benar kecapean. Dikampus ia juga sampai tiduran. Kin-chan datang membawakan makan untuk kotoko yang langsung memakannya. Kin-chan melihat luka lebam ditangan kotoko dan kasian.

“kau latihan terus apakah agar kau bisa bersama dengan irie-kun? Kau tak bisa melupakannya kan?”

“dia bilang “jangan halangi aku”. Kau bilang “hari ini ulang tahun kotoko” bagi orang yang terlahir kembali  aku ingin berhenti menghalanginya (berhenti mengejar naoki). Aku sudah bilang aku akan melupakannya. Tapi aku sadar aku Cuma pura-pura tegar.” Gumam kotoko melamun tapi ia ingat ia bersama kin-chan “kurasa aku tak bisa melupakannya. “

“aku tau. Kau sedang mengatasi masalahmu soal irie. Pasti butuh waktu lama tapi aku pasti mendukungmu… tapi sebaliknya aku tak akan pernah menyerah padamu. Aku sangat gigih. Jangan lupa itu” ucap kin-chan menepuk kepala kotoko lembut. Kotoko hanya tertawa mendengar ungkapan cinta kin-chan itu.




Naoki terus melatih kotoko mengayun raketnya malam dan pagi hari. cuaca terang ataupun hujan mereka terus berlatih.
Yuko melihat mereka berdua dari pinggir lapangan dengan kesal.


Ibu irie pergi ke kampus untuk bertemu dengan kotoko. Ia berpakaian menyamar biar tidak ketahuan naoki. Ia bertemu jinko dan satomi
 
Jinko kelepasan bicara dengan ibu irie “kami kira kotoko dan irie kun akan berakhir bersama. Nyatanya mereka sangat dekat bahkan mereka pernah ciuman. “
“tunggu.. tutup.. tutup mulutmu” kata satomi mengingatkan jinko. Tapi ibu irie sudah terlanjur mendengarnya.

“ciuman? Maksudmu benar-benar “ciuman” ?” Tanya ibu irie menunjuk ke bibir.
“iya benar. Kizu.. (kiss – ciuman)” jawab satomi dan jinko berbarengan.
“mereka berdua berciuman???” ibu irie gelisah menyakinkannya pada jinko dan satomi. Keduanya mengangguk. “yahoooooooo..!!” teriak ibu irie gembira. Ia berjanji akan membawa pulang kotoko kerumahnya.


Dilapangan naoki terus mentraining kotoko service bola dan membetulkan posisi badan kotoko. Kotoko mencoba servis bola tapi selalu gagal sampai akhirnya ia bisa memukul bolanya ia langsung senang dan melompat memeluk naoki.

“yay.. masukk… irie-kun ini pertama kalinya aku berhasil!!”” teriak kotoko kegirangan melompat-lompat sambil terus memeluk naoki.

Naoki diam saja dan hanya melirik kotoko.
Kotoko menyadari posisinya dan melepas pelukannya “gomenasai.. maaf”
“anak kecil saja bisa latihan servis dalam sehari. “ ejek naoki
“hehhe.. iya benar.. “ sahut kotoko tertawa

“menyenangkan rasanya kau punya banyak hal menarik dalam hidupmu” ucap naoki mengambil bola untuk servis.
“eihh.. apa?”
“terkadang aku iri padamu.”ucap naoki. Kotoko terdiam. Mereka lalu melanjutkan latihan lagi.



Hari pertandingan.
Sebelum kotoko pergi ke kampusnya ayah berpesan klo mereka bisa pindah hari ini dan kotoko tidak usah kembali  ke apartemen tapi langsung ke rumah barunya saja.
Disekolah kin-chan memberikannya bento untuk dimakannya. Saat sedang makan bento buatan kin-chan di ruang ganti yuko datang dan mengatakan klo naoki sia-sia melatih kotoko.

Ia juga bilang klo kotoko hanya pengganggu naoki membuat hidup naoki dalam masalah terus. 

Pertandinganpu dimulai
“denngar jangan biarkan usaha 1 minggumu sia-sia. Pastikan buka matamu dan ikuti arah bolanya. Mngerti?” ucap naoki 

“iya “ jawab kotoko mengangguk. Ia terlihat depresi mungkin karena  ucapan yuko tadi atau karena pertandingan saja.

Melihat kotoko yang sepertinya depresi naoki langsung menguatkan kotoko “kau tak sendiri aku bersamamu. Jadi jangan takut. “

Dilapangan kotoko sering berbuat kesalahan tapi ia bisa memukul bola kin-chan yang super cepat itu  meski bola tak bisa dikembalikan ke arah yang benar. dan membuat kin-chan jadi kesal. Kotoko semakin lama semakin percaya diri. 

Kin-chan mengincar kotoko dengan memberikan servis bola cepat ke arah kotoko.
'kotoko.." seru naoki mengingatkan

Kotoko yang sudah dilatih naoki untuk menatap bola dengan penuh percaya diri melihat bola sudo dan memukul bola sampai kesisi lapangan sudo. Kotoko terkejut dan juga penonton yang lain. 

Kotoko senang namun tiba-tiba kakinya sakit dan ia terjatuh dilapangan. Kotoko mengaduh menahan sakitnya. Naoki mendekatinya dengan kuatir.


“kakimu keseleo?”Tanya naoki dan memegang kaki kotoko “disini?”
Kotoko lanngsung kesakitan kakinya dipegang naoki “ouw.. sakit..”
“kau tak bisa bermain lagi” kata naoki dan melihat ke sudo “sudo san. Aku akan membatalkannya. “

Naoki langsung jongkok dan mengangkat kotoko dan ia mengendong kotoko. 

Kotoko terkejut dan terus menatap naoki dengan tak percaya. 
Yuko dipinggir lapangan menatap tidak suka. “maaf kita kalah lagi..”ucap kotoko didalam pelukan naoki.
“aku sudah merasa kita tak akan menang dari awalnya” jawab naoki
“Tuhan kalau aku bilang aku tambah menyukai irie-kun apa engkau akan marah?”




Naoki mengantar kotoko pulang karena kondisi kotoko yang tak memungkinkan berjalan kaki sendiri. Kotoko berjalan dengan terus berpegangan dengan naoki.  Ia terus senyum-senyum sendiri sepanjang jalan. 

Naoki bingung dengan rumah baru kotoko karena gadis itu tak memberinya arah (karena asyik melamun dan senyum-senyum sendiri) “kita ini kearah rumahmu atau tidak?” tanyanya

Kotoko langsung sadar dan melihat sekelilingnya. ia juga bingung arah  kerumah barunya.
“aneh .. terakhir aku kesini rumah itu dekat stasiun. Kurasa kita sudah dekat..”
“kau sudah bicara begitu beberapa kali.. ” gumam naoki.. ehhehe.. “karena itu kita harusnya naik taksi..”lanjut naoki

“itu buang-buang uang” jawab kotoko (hmmm.. buang-buang uang atau mo cari kesempatan buat meluk dan berlama-lama dengan naoki hayooo…. :P)

“pikirkan aku juga..” maksud naoki ia juga capek karena kotoko bergelayut dilengannya.

 

“irie kun.. selama pertandingan saat aku memukul bola Sudo san.. kau memanggil namaku kan?”

“masa sih..” jawab acuh naoki
“kau memanggil namaku untuk pertama kalinya. “

“sudah kubilang aku tak ingat. Aku Cuma konsentrasi di pertandingan. “ elak naoki
Kotoko melihat sekelilingnya dan melihat rumah barunya. “oh disini.. disini.. ini rumah baru kami”

Kotoko menekan bel dan naoki ijin untuk langsung pulang. Kotoko melarangnya dan minta naoki masuk menemui ayahnya dulu dan minum teh. Kotoko menarik-narik tangan naoki agar ikut dengannya dan akhirnya naoki setuju.


Mereka berjalan masuk ke halaman rumah
“oiyy..” seru seseorang
“ayah…” seru kotoko mengira yang menyapanya ayahnya. Tapi ternyata seorang kakek-kakeh. Kotoko terkejut tak mengenali kakek itu.

“apa dia kakekmu?” Tanya naoki. Kotoko menggeleng.” Aku tak tau dia”
“maaf ada siapa ?” Tanya kotoko pada kakek itu dengan sopan. “maaf ada siapa? Kasar sekali.. kau siapa?” Tanya balik kakek itu

“aku tinggal dirumah ini” kata kotoko menunjuk rumah itu.
“ini rumahku” kata kakek itu
“tidak mungkin. Aku rasa rumah ini sungguh rumahku. Aku pernah kesini.” Sahut kotoko panik

“yang jelas disini tempat tinggalku.” Jawab kakek itu
“hah… apa maksudnya?” kotoko tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dengan rumah barunya.


*** BERSAMBUNG EPISODE 8 ***





Selasa, 16 Juli 2013

Sinopsis : Itazura Na Kiss, Love in Tokyo - Ep. 6

Episode  6 : Saingan muncul! Cinta yang penuh masalah.


Setelah ciuman pertamanya itu dengan naoki, kotoko terus menatap bibirnya dikaca bahkan saat ia sikat gigi dikamar mandi. 

“Irie ku dan aku benar berciuman kan?” batin kotoko mengingat ciuman naoki itu. Kotoko lalu menyentuh sikat gigi naoki yang ada di atas meja wastafel. 

Tiba-tiba ia mendengar gagang pintu dibuka seseorang, kotoko lantas menaruh lai sikat gigi naoki ditempatnya dan ia juga langsung berkumur. Naoki masuk ke dalam ruangan wastafel itu dan kotoko langsung cepat-cepat mau keluar.

“gomen..” ucap naoki tanpa menoleh ke kotoko “aku malu atas kejadian saat itu. Aku tak bisa jujur.”
Keduanya terdiam, kotoko menoleh kea rah naoki begitu juga naoki yang menoleh pada kotoko dan langsung mendekati kotoko.

Jarak mereka begitu dekat serasa ia mau mencium kotoko, jadi kotoko langsung menutup matanya.
Kotoko terus menanti ciuman naoki yang kedua tapi ternyata justru ia tersadar dari mimpinya dan yang akan diciumnya tadi hanyalah boneka tedy bearnya. 

“mimpi..” gumam kotoko

“aku sudah terbangun dari mimpi ini sejak hari itu… tapi bahkan tidak ada ciuman kedua … hubungan antara aku dan irie-kunn tidak ada kemajuan. Dan liburan musim semi singkat ini sudah berakhir.”



Naoki dan kotoko berjalan bersama menyusuri jalanan yang hari itu penuh dengan mekarnya bunga sakura.
“mulai hari ini, irie-kun dan aku jadi mahasiswa. “

Kotoko terus berjalan mengikuti naoki sampai ia tidak sadar, ia sudah sampai di universitas tonan dan mengikuti naoki sampai digedung jurusan teknik. 

“hey..”panggil naoki  berhenti berjalan dan tanpa menoleh melanjutkan kata-katanya lagi “sampai kapan kau akan mengikuti? Kau di jurusan teknik sains?” 

Kotoko tersadar dan melihat sekitarnya “benar. Aku ke jurusan satra.”
Naoki berjalan pergi meninggalkan kotoko. Sementara kotoko langsung melambaikan tangannya pada naoki meski cowok itu tak menoleh padanya “ja ne..”




Selesai upacara penerimaan mahasiswa di jurusan sastra, kotoko mengajak satomi dan jinko ke gedung teknik sains. 

Mereka duduk di taman dekat pintu keluar masuk jurusan teknik sains. Kotoko terus memperhataikan pintu masuk gedung sains berharap ada naoki yang keluar gedung.

“jadi kau datang ke jurusan teknik sains untuk memata-atai irie?”Tanya jinko melihat ulah temannya yang mengintip dari kursinya ke arah pintu keluar masuk jurusan sains

“kau bahkan tidak punya kemajuan sejak SMA kotoko. Kualitas kotoko benar-benar tidak berubah” sahut satomi 

“tapi kulihat Cuma cowok-cowok saja yang ada dijurusan teknik sains” ucap jinko memperhatikan orang yang lalu lalang di depan jurusan teknik sains itu.

“spertinya kau tidak usah khawatir soal gadis-gadis di sekitar irie, kau aman kotoko” sambung satomi.

Kotoko tersenyum tentram mendengarnya. Mereka bertiga menoleh pada pintu masuk jurusan teknik sains lagi dan melihat disana ada seorang wanita yang berjalan keluar dari gedung.

“kotoko lihat gadis itu” seru satomi. Mereka melihat seorang gadis yang cantik, anggun dan bersinar-sinar.
“si..siapa gadis cantik iitu..?” gumam kotoko yang langsung gugup.
“heihhh.. dia berkilau, dikampus ini yang penuh dengan cowok.” Seru jinko kagum.

 

Mereka terus memperhatikan gadis itu sampai mereka melihat sosok naoki keluar dari gedung dan melewati gadis itu.

Melihat naoki melewati, gadis itu lalu bergegas menyusul langkah naoki .
“irie kun..” panggilnya dan mereka terlihat berjalan bersama “apa kau sudah memilih mata kuliahmu?”
“belom”

Kotoko cs yang melihatnya jadi langsung tidak suka. Saat naoki mau melewati kursi dimana mereka duduk. Jinko langsung mendorong kotoko sampai kotoko terdorong sampai didepan naoki

“heihh jinko, satomi!” seru kotoko kaget tanpa menyadari ia sudah ada didepan naoki.  

Begitu ia menoleh ia melihat naoki dan gadis itu sudah ada didepannya. Ia langsung berdiri tegak dan tersenyum sambil membetulkan rambutnya. 

“kau mau apa?”Tanya naoki
“aku ingin tau meja seperti apa yang dipakai di jurusan teknik sains. “jawab kotoko.
“dia benar-benar payah” gumam jinko dan satomi kesal.
“dia pacaramu?” Tanya gadis cantik itu pada naoki. 

“tidak mungkin”jawab naoki dan pergi melewati kotoko. 


Gadis itu lalu menyusul naoki tapi begitu sampai didepan kotoko , ia menilai kotoko dari atas sampai bawah kaki kotoko.  Ia lalu tersenyum seperti mengejek pada kotoko membuat kotoko  merasa diremehkan.

“’tidak mungkin…?’  meski kita sudah berciuman tapi masih ‘tidak mungkin’?” batin kotoko mengulang-ulang kata-kata naoki tadi “bagaimana dengan kehidupan kampusku..



“Kau berciuman?!” teriak satomi dan jinko saat kotoko membuka rahasia first kissnya pada teman-temannya.  

“jangan teriak-teriak” seru kotoko
“mana mungkin aku tidak teriak mendengar ini?” sahut jinko “irie ku menciummu?” ucap jinkomasih tak  percaya.

“tapi dari yang kulihat, sepertinya dia tidak seperti itu.” Kata satomi
“aku tau..” jawab kotoko malu-malu, ia teringat ciuman naoki lagi dan kata-kata naoki barusan yang menyakiti hatinya “aku sama sekali tidak mengerti apa yang dipikirkan irie-kun. 

“berhenti  jadi pengecut. Kau berikan ciuman pertama berhargamu pada irie.” Kata satomi
“benar. Kau harus tegar kita mahasiswa.” Sahut jinko memberi semangat

 “ditambah lagi ini musim semi. Musim kita bertemu orang baru” ucap satomi berapi-api. Mereka menatap cowok-cowok yang ada disekeliling mereka.

“kalau kau Cuma duduk diam saja, gadis-gadis cantik akan merebut irie.”lanjut satomi. Mendengarnya kotoko jadi kuatir itu akan terjadi.


Malam harinya, ayah kotoko mengundang seluruh anggota keluarga irie untuk makan malam bersama direstaurannya, merayakaan hari pertama kuliah kotoko dan naoki.

Kotoko duduk persis didepan naoki sehingga ia sering menatap wajah naoki terus . seorang pelayan cowok datang dan meletakkan minuman didepan kotoko. “selamat datang..” sapanya . 

Kotoko merasa mengenali suara itu dan ia langsung menoleh pada laki-laki itu.
“kin-chan!” seru kotoko terkejut dan semua keluarga irie langsung melihat kin-chan. 


“oh kau terlihat berbeda sekali. Aku jadi tak mengenalmu” seru ibu irie terkagum. “kau terlihat tampan” puji ibu irie. Naoki langsung melirik ibunya dengan tidak suka dan juga melirik kotoko yang sepertinya juga terkagum pada kin-chan. 

“terima kasih nyonya.” Jawab kin-chan
“tapi kenapa kau bekerja di Aihara?” Tanya kotoko
“aku mulai magang disini untuk jadi koki professional.

“begitu ya. Kau benar-benar hebat dalam memasak” puji kotoko menatap kin-chan dengan tersenyum senang. 

Naoki menatap kotoko yang sedang memuji kin-chan didepannya.
“dibanding dengan koki professional, makanan buatanku belum sempurna. Tapi aku akan berusaha keras dan jadi koki yang lebih baik dri ayahmu dan aku akan jadi koki terbaik di jepang.” Sahut kin-chan menoleh pada naoki “aku tidak akan kalah darimu.” 

Naoki tetap datar, tidak menanggapinya. “aku akan jadi koki professional dan menghasilkan banyak uang dan aku akan datang menjemputmu. 

kin-chan menoleh pada naoki lagi “bersiaplah!”
Seseorang memanggil kin-chan agar tidak berlama-lama di sana. Kin-chanpun pamit pergi. Kotoko menatap kin-chan terus yang pergi ke belakang.  Naoki melihat kotoko dengan pandangan dinginnya.. jealous yahhh…



Didapur belakang kin-chan sedang dilatih membuat masakan oleh koki aihara.

 Kotoko melihat kin-chan sedang membersihkan meja, lalu menyusul pergi ke sana. “kin-chan, kau temukan yang ingin kau lakukan. Aku terkesan. Semoga beruntung. “
“ya, kau juga berjuanglah di universitas!” sahut kin-chan sambil membelai kepala kotoko.



Malam hari saat kotoko turun ditangga, ia berpapasan naoki  yang barusan keluar dari kamar mandi.’”kau  bisa mandi sekarang” kata naoki pada kotoko sambil masih terus berjalan.

“hmmm irie-kun…”panggil kotoko menghentikan langkah kaki naoki.
“ada apa?” Tanya naoki menoleh pada kotoko. Gadis itu langsung grogi ditatap Naoki seperti itu dengan rambut naoki yang masih terlihat basah… seksihhh.. 

“mmm.. siapa gadis dari jurusan teknik itu..?” Tanya kotoko ragu-ragu
“ohhh.. Yuko Matsumoto?”
“hahhhh.. kau sudah tau nama lengkapnya?”
“aku tidak akan lupa jika aku mendengarnya sekali saja.”
“mungkinkah Matsumoto –san menyukaimu?” Tanya kotoko malu-malu bertanya. Naoki langsung melirik kotoko menyelidiki arah pembicaraan kotoko.



“hahh.. apa kau cemburu?” goda naoki
“ahhh.. tidak.. tidak”elak kotoko mengibas-kibaskan tangannya.
Naoki tersenyum “kalau dipikir-pikir, dia sangatt cantik. Penampilannya bagus.. dan dia cerdas” puji naoki pada Yuko didepan kotoko. “dia bilang dia pernah diposisi kelima dari ujian nasional’

“mengapa orang seperti dia ikut kuliah disini?” Tanya kotoko heran dengan keputusan yuko yang punya kemampuan bagus seperti itu. 

“tidak tau, mungkin dia punya tujuan lain.” Kotoko terdiam mendengarnya. Naoki menoleh pada kotoko lagi “apa-apaan ini? Kukira kau mau melupakanku.” 

Kotoko semakin salah tingkah didepan naoki “ oh benar juga.. kitakan sudah berciuman” bisik naoki sambil mendekat pada kotoko yang terkejut. “sekarang kau tidak bisa melupakanku kan?” lanjut naoki menatap kotoko yang terus menatap wajah naokki yang mendekat padanya itu. 

Kotoko langsung memejamkan matanya menanti sebuah ciuman “mungkinkahhhh… ciuman kedua…?” batin kotoko. 

Naoki yang melihat kotoko memejamkan matanya saat ia mendekat jadi tertawa melihatnya. Ia lalu pergi meninggalkan kotoko disana. 

Kotoko mendengar langkah naoki dan membuka matanya. Ia mellihat naoki sudah melangkah ke kamarnya “aku telah dipermainkan.. irie-kun tidak peduli kita telah berciuman..tidak adil…”
 


Keesokkan harinya disekolah.. kotoko dan sahabatnya pergi ke kantin sambil bercakap-cakap.
“oh namanya yuko matsumoto ya. Dia cantik dan cerdas. Dia seperti irie versi wanita. “ucap jinko

“yah kurasa aku bisa bilang, irie dan dia adalah pasangan serasi” sambung satomi
“kau tek perlu bilang seperti itu”gerutu kotoko
“tapi kita harus realistis. Tentu saja dia suka dengan irie. Kau sedang dalam masalah” lanjut satomi

Kotoko langsung terlihat sedih.. “ayo makan” ajak jinko
Kotoko melihat menu makanan yang tersedia, matanya memang menatap menu makanan tapi sebenarnya dia sedang melamun. Dia tidak pesan-pesan padahal satomi dan jinko sudah memesan makanannya.

“kotoko kau tidak pesan makanan?” Tanya satomi heran
“ahh aku melamun, gomen”
“kita cari tempat duduk dulu ya?” ucap jinko

“baiklah” kata kotoko. “yah.. makanan A : hamburger steak, makanan B : udang goreng. “ kotoko berbicara sendiri, bingung memilih makanan yang akan dipilihnya

“kau musti bicara sekeras itu ya?” ucap naoki yang tiba-tiba sudah ada didekatnya.
“boleh pesan makanan A?”pesan naoki pada pelayan kantin. 

“aku mau…” seru kotoko menyusul disebelah naoki yang sedang pesan makanan.
“disini tidak ada makanan F” ejek naoki makanan F (klas nya kotoko klass F)
“aku juga pesan makanan A” seru kotoko agak kesal mendengar sindiran naoki itu.

Pelayan segera memberikan pesanan makanan keduanya. Betapa terkejutnya naoki dan kotoko saat melihat isi pesanannya berbeda padahal sama-sama pesan menu makanan A. Nasi dan isi makanan kotoko lebih banyak dari porsi yang diberikan untuk naoki.

“kenapa beda?” Tanya naoki pada petugas kantin
“permisi ada yang bisa dibantu?” Tanya pelayan itu. Naoki dan kotoko langsung melihat pada petugas didepan mereka itu. 

“kau complain soal porsiku. Lancang sekali” seru petugas kantin sambil menengadahkah wajahnya yang agak terhalang topinya itu.
“kin-chan”teriak kotoko begitu melihat petugas kantin itu adalah kin-chan. Cowok itu langsung tertawa melihat keterkejutan kotoko. “kau bilang kau temukan yang ingin kau lakukan. Kau tidak bekerja di restaurant ayahku?”

“aku bekerja di restorannya malam hari. Disiang hari aku kerja di kantin ini. Aku mau belajar bagaimana memasak makanan yang murah sampai ke restoran kelas atas. Luar biasa kan?” kata kin-chan menjelaskan. “dan juga aku harus menjaga kotoko dari pria brengsek itu.”lanjut kin-chan menatap naoki penuh tantangan “kau mau bicara apa, jenius? Kau terkejut sampai kau tidak bisa berkata-kata?”

“ah aku sangat terkesan. Orang itu bisa mengubah hidupnya hanya karena seorang gadis. Yeaa… Aku tak bisa melakukan itu” jawab naoki
“apa katamu?”
“kutinggalkan kalian berdua. Selamat menikmati?” kata naoki membawa makanannya dan pergi

“hahha,, aku yakin kau akan ketakutan dengan kekuatan cintaku.” Seru kin-chan. Kotoko hanya diam dan mengambil makanan dan segera pergi tanpa pamit pada kinc-han. “benarkan kotoko?” Tanya kin-chan tapi saat menoleh ia melihat kotoko sudah berjalan pergi meninggalkannya.

 

“tapi klo dipikirkan, kin-chan benar juga. Pria mulai tertarik pada wanita yang mendekatinya” ucap jinko  pada kotoko. 
Saat ia melirik kotoko ternyata kotoko sedang melamun memperhatikan naoki yang sedang makan dimeja sebrang mereka.  Dari arah lain kin-chan sedang memperhatikannya dan melambai-lambaikan topinya padanya. 

“kotoko kau harus belajar dari Kin-chan.”ucap jinko
“yeah, meski kalian berdua dikampus yang sama, dia dijurusan teknik dan kau dijurusan sastra. Kau ditempat yang berbeda.  itu tidak sama saat di SMA.”kata satomi
Jinko “ yuko matsumoto dari fakultas yang sama punya keuntungan besar.”

Satomi “terlebih lagi, dia cantik dan tubuhnya sempurna..”
Kotoko tambah sedih mendengar temannya memuji yuko terus. 

Seorang laki-laki mendekati naoki dan mengajaknya untuk bergabung dengannya di klub yang diketuainya. Ia mengajak naoki bertemu setelah pulang sekolah. Mendengar itu kedua teman kotoko memberi semangat pada kotoko untuk mengambil kesempatan itu agar bisa bersama dengan naoki.


“irie-kun, kau mau ikut klub?klub apa yang kau ikuti” Tanya kotoko pada naoki saat pulang kuliah.
“tak akan kuberitahuku” sahut naoki
“mengapa?”
“karena aku merasa kau juga akan ikut klub yang sama” sindir naoki berlalu pergi.

Satomi dan jinko yang deket tempat mereka berbicara langsung mendekati kotoko “dia tau apa yang kita pikirkan.. benar-benar jenius”

“aku tak akan menyerang..  semangat” seru kotoko dan meninggalkan kedua temannya.

Strategi kotoko untuk mengetahui klub yang diikuti naoki adalah membuntutinya. Kotoko sepulang sekolah terus membuntuti naoki secara diam-diam. Meski begitu naoki ternyata tau ia diikuti naoki jadi ia masuk kedalam sebuah ruangan.

Kotoko langsung ikut masuk ke ruangan itu “bolehkah aku ikut gabung?” serunya membuka pintu kamar itu. Tapi betapa terkejutnya kotoko melihat ternyata itu klub anime. Ia bertanya pada mereka dimana naoki. Ternyata naoki keluar dari pintu lain. 

Kotoko segera keluar ruangan anime dan melihat Naoki ada dilantai atasnya sedang menatapnya penuh ejekan.



Kotoko mengejar naoki tapi ia kehilangan jejak. Kotoko terus mencari ke tiap lantai sampai akhirnya ia bertemu Yuko yang sedang berdiri disebuah ruangan. Beberapa menit kemudian Naoki datang menemui Yuko dan mereka berdua masuk ke ruangan itu.

Kotoko senang akhirnya ia menemukan klub yang diikuti naoki. Ia segera menyusul masuk ke dalam ruangan itu.
“permisi aku juga mau bergabung dengan klub ini!’ teriak kotoko membuka pintu ruangan. Semua terkejut dan menatapnya, termasuk naoki.

“siapa kau? Siapa yang merujukmu kesini” Tanya seniornya.
“tak ada tapi aku ingin bergabung di klub ini.” Seru Kotoko bersemangat “aku ingin bergabung dengan klub tenis ini. Kukira jika aku masuk ke universitas Tonan, aku sungguh ingin bergabung di klub tenis ini. Senang bertemu dengan kalian.”

“taka pa-apa kapten. Siapapun yang bersemangat dipersilakan”kata senior yang dulu pernah berbicara dengan naoki. Ia mendekati kotoko “ siapa namamu?” tanyanya
“aku kotoko aihara.”

“oh kotoko chan.. ayo..”ajaknya menarik kotoko ke tengah. “aku sudo. Aku bertanggung jawab pada anggota baru. Kami baru saja mulai pesta penyambutan bagi anggota baru kita…”
Acara penyambutanpun dimulai, kotoko melirik pada naoki tapi ia melihat Yuko meliriknya dengan kesal.
 


Ibu Naoki memberikan baju tenis dan raket tenis yang dulu pernah dipakainya pada kotoko. Saat naoki masuk ia langsung bertanya pada Naoki.

“naoki menurutmu pakaian kotoko chan manis kan? Bagaimana menurutmu” Tanya ibu Irie.  Noaki mendekati mereka dan melihat baju kotoko.

“aku rasa kurang bagus memulainya dengan pilihan pakaianmu.” Sahut naoki dan langsung pergi.

Ibu irie tetap senang karena keduanya ikut klub yang sama berarti mereka akan jatuh cinta.
Kotoko bilang klo naoki terkenal dan disukai gadis-gadis dikampusnya. Ibu irie menyarankan agar kotoko sering-sering berkunjung ke fakultasnya naoki.  Ibu irie bilang “kaulah gadis terbaik untuk Naoki.”
Ayah kotoko mendengarkan pembicaraan mereka tanpa sengaja dan memikirkan anaknya.
 

Diruang ganti klubnya kotoko bercermin sambil senyum-senyum “saatnya menyambut cintamu kotoko…” Yuko masuk dan heran melihat tingah kotoko itu.



Hari ini adalah latihan hari pertama dan semua anggota baru akan dites ketrampilan bermain tenisnya.  Lawan yang akan bermain dengan anggota baru adalah Sudo (teman naoki – orang yang sudah dikenal kotoko)

“syukurlah ternyata kudo” gumam kotoko yang berdiri disebelah naoki.
Naoki yang mendengarnya langsung  berkata “kau tak tau apa-apa”

“apa maksudmu?” Tanya kotoko. Ia melihat ke sudo yang sedang mengambil raket.  Sudo begitu menyentuh raket langsung berubah mengerikan membuat semua anggota baru takut. Apalagi sudo saat memukul bola tenis dengan kecepatan tinggi.



“dia disebut “sudo si setan” kata naoki .
Kotoko menjadi ketakutan. Satu persatu anggota baru di panggil untuk melawannya tapi tak ada yang Bisa memukul bola dari sudo. 

“jika sudo-san sudah memegang raket, sikapnya akan berubah.  Dia terkenal seperti itu saat ia masih sd. Klo Biasa ia lembut”

Tapi saat yuko menjadi lawannya, Yuko berhasil meladeni sudo karena Yuko memang atlet tenis, ia sudah sering menang.

Habis melawan Yuko , sudo langsung mengajak naoki bertanding.  Naoki berhasil mengalahkan sudo, membuat sudo kesal.

“aku kasian pada lawan selanjutnya.” Gumam yang lainnya. Sudo matanya berkeliling mencari lawan selanjutnya. 

“Kotoko Aihara, kau selanjutnya!” seru Sudo. 

Kotoko langsung gentar.. “i.. ii… i..ya..” jawab kotoko ketakutan.

Kotoko maju kelapangan dengan gemetar. Saat sudo mau memukul bola, kotoko mengagkat tangannya “tunggu.. aku bom pernah main tenis” seru kotoko ketakutan hampir menangis.

“diam! Aku mulai..” seru sudo.
Ia segera ambil posisi dan segera memukul bola.. melihat bola yang mengarah kepadanya kotoko ketakutan dan melempar raketnya dan berlari ketakutan.

Sementar itu dipinggir lapangan naoki malah tersenyum geli melihat tingkah kotoko itu.


Sudo meminta kotoko bersiap-siap lagi dan saat ia memukul bolanya lagi, kotoko tak memukul dengan raketnya dan alhasil bola sudo mengenai mukanya. Kotoko langsung terkapar ditengah lapangan.   

Kotoko pingsan dan naoki masih aja tertawa-tawa geli dipinggir lapangan.



Sampai dirumah ibu irie dengan penuh perhatian merawat luka kotoko.
Ayah kasian melihat kotoko yang seperti itu.

Direstaurannya ayah kotoko bertanya ada kin-chan keadaan kotoko dikampus. Apa kotoko dekat dengan laki-laki. 

Kin-chan berkata ayah tak perlu kuatir karena ia kan menjaga kotoko. Ayah bertanya juga hubungan kotoko dengan naoki. Kin-chan bilang klo hubungan mereka jadi jauh karena keduanya beda fakultas.

Siang harinya kin-chan saat bertemu kotoko dikantin mengatakan klo ayah kotoko ingin bertemu kotoko di restaurant aihara punya ayahnya untuk dinner nanti malam.

Saat latihan tenis kotoko mencari naoki, tapi ia tak menemukan naoki dan yuko. Dari yuko ia tau klo meski anggota baru mereka berdua punya hak khusus untuk tidak ikut latihan karena keduanya sdh ahli.

Kotoko pergi ke restaurant ayahnya dengan kesakitan pada tubuhnya. Ayah kuatir melihat kondisi kotoko dan ia mengajak kotoko duduk dulu. Ayah melihat kotoko yang makan dengan lahapnya kerana habis berolahraga.

“kau bahkan tidak pandai olahraga bola. Aku tau kau tidak tertarik main tenis. Kau lakukan itu untuk Naoki?” Tanya ayahnya.
“kenapa ayah tiba-tiba bertanya?”

“dengar kotoko, hampir setahun sejak kita pindah ke keluarga irie. Aku sudah memikirkan hal ini. Seharusnya kita tidak boleh bergantung terus pada kemurahan hati mereka.  Aku tau iri-chan dan nyonya irie memperlakukanmu dengan baik. Sejujurnya, aku berharap kau dan naoki akan bersama kedepannya. “

“ayah..” kotoko tak mengerti ayahnya yang tiba-tiba berbicara seperti itu.

“… tapi aku melihat kalian sejauh ini.. naoki sepertinya tidak tertarik padamu.  Aku tak yakin rencana ini akan berhasil.  Kita kembali ke kehidupan kita sendiri. Hanya kita berdua.  Bagaimana kotoko?” Tanya ayahnya.

Kotoko terkejut mendengar keputusan ayahnya itu.


Kotoko pulang dari restaurant ayahnya dengan lesu. Sepanjang jalan ia memikirkan saran dan keputusan ayahnya.

“tentu aku ingin menghargai  perasaanmu juga. Tapi aku temukan tempat yang bagus didekat sini. Aku ingin kau pertimbangkan perasaanku juga.  Aku.. aku tidak suka kau terluka” perkataan ayahnya terus tengiang dipikiran kotoko.

“tapi kalau aku  pindah dari rumah irie sekarang. Tak akan ada lagi yang menghubungkan irie dan aku.  

Kotoko melihat bintang jatuh melintas dilangit dan ia terus menatapnya.


 “kau menatap apa?” Tanya naoki yang tiba-tiba ada dibelakangnya.

“irie kun. Kau mau pulang sekarang? Kau darimana?”

“aku tak perlu beritahu kemana aku pergi.” Sahut naoki dan melangkah diikuti kotoko. “bagaimana denganmu? Ini sudah larut” Tanya balik naoki tanpa melihat kotoko yang mengikuti langkahnya.  (hmmm.. kuatirkah??)

“aku ke restoran ayahku.”
“ke ayahmu?”
“iya..”

“kau kesana ingin melihat orang itu.” (hmmm.. jealous????)
“orang itu?” kotoko tak mengerti maksud naoki adalah kkin-chan.
“ahh. Lupakan saja” gumam naoki malam (mungkin malu ketauan klo ia jealous..)

“ayahku bilang dia temukan tempat yang bagus untuk tempat tinggal.”
Naoki terkejut dan menghentikan langkah kaki.




Naoki melihat kotoko dengan rasa ingin tau “apa?”

“rumah baru kami. Dia bilang dia belum menandatangani sewanya.”  Naoki terdiam dan Nampak memikirkan sesuatu. “sudah hampir setahun sejak kami mulai tinggal dengan keluargamu. Karena itu dia sudah memikirkan soal ini. Karena itu..”

“jadi kau mau pindah?”Tanya naoki datar tapi juga ingin tau.

“jika seperti itu… kau akan merindukan kami?” Tanya kotoko berharap Naoki bilang iya atau melarang mereka pindah. 

Naoki menatapnya lagi, kotoko menunggu jawaban naoki.  Tapi naoki tak menjawabnya dan malah mengalihkan pandangannya 

 

“irie-kun?” kotoko masih menanti jawaban naoki.

“akhirnya hidupku kembali seperti sebelumnya..” jawab naoki  dan meneruskan langkahnya. Tapi saat berbalik menurutku wajah naoki terlihat bersedih. 

Kotoko kecewa mendengar jawaban naoki. “aku tak mengerti perasaanmu, Irie kun. Aku harus bagaimana?”
 

 
Catatan : Sudah sangat terlambat menulisnya.. sekarang aja sudah episode 15.. wah harus ngejar banyak banget.. ditambah sudah banyak juga yang buat synopsis itakiss. .. agak malas… Tapiiii.. karena dorama favoritku maka aku putuskan tetap menulis sinopnya saja .. ganbatte..!  fightingggggg….!