Selasa, 20 September 2016

Seisei Suruhodo Aishiteru - Ep. 7


Mia sangat malu dan sedih saat Yuka mempermalukan dirinya di bandara dengan berteriak klo ia pencuri suami Yuka. Mia melarikan dirinya dan Miyazawa mengejarnya. Miyazawa memeluk Mia dengan erat dan berjanji pada Mia klo ia akan selalu disisi Mia.

“aku benar-benar mencintaimu.. saat kau mencoba dengan sekuatmu untuk melakukan pekerjaanmu, saat kau lapar dan bad mood, saat kau menangis karena kelebihan berat badan, saat kau menua dan menjadi nenek kisut, ak-aku ingin terus berada disisimu disaat-saat seperti itu.” ucap Miyazawa sambil terus memeluk Mia yang menangis dipelukannya.

Sementara itu Kairi terus berada disisi Yuka yang tak sadarkan diri. Setelah beberapa lama Kairi memutuskan pergi. Begitu Kairi melangkah pergi dari kamar itu, Yuka membuka matanya, sepertinya ia sengaja tidak membuka matanya saat tau Kairi ada disampingnya.



Malam harinya Mia curhat pada teman-temannya di tempat makan Naoki.
“hubungan gelap tidak akan bertahan lama… dan tak ada orang yang bahagia.” Ucap Akari
“hei Mia sudah tau itu dari awal” protes Chiaki

“kau tidak jatuh cinta dengan otakmu.” Ucap Naoki
“Apa kau pernah membayangkan perasaan istrinya?” ucap Akari lagi
“hentikan!” tegur Chiaki pada Akari

 “apa kau mengerti perasaannya?lelaki yang di cintainya sudah dirampok itu bisa dimengerti klo ia menyebutmu seperti itu.” lanjut Akari lagi
“apa mengatakan ini ditujukan padaku?” tanya Chiaki pada Akari. Entah mengapa ia malah merasa Akari menyindirnya.

“tidak juga” jawab Akari santai
“sebenarnya kaulah yang berada ditengah-tengah aku dan Kuno-san, Akari” ucap Chiaki
‘apa maksudmu itu”

“kami adalah sepasangan kekasih” jawab Chiaki
Akari terkejut tapi tetap cuek “aku kira kau hanya bermain-main”
“kami serius” jawab Chiaki

“berhenti untuk mengunakan Mia jika sesuatu tidak berjalan dengan baik padamu” tegur Chiaki
“omong kosong! Aku meminta Mia berhenti untuk berselingkuh karena aku mengkhawatirkannya.” Seru Akari pada Chiaki.

 “hentikan sekarang!” seru Mia kesal pada keduanya. Ia duduk diantara kedua sahabatnya itu.
“Akari, Chiaki kalian berdua benar, aku tau aku lah yang salah. Aku tau itu” ucap Mia memegangi kepalanya.


Kairi dari rumah sakit langsung pergi ke apartemen Mia. Ia menekan tombol pintu rumah Mia beberapa kali. Tapi tidak ada suara apa-apa dari dalam rumah. Kairi berpikir mereka semua sedang pergi jadi ia menulis pesan di secarik kertas lalu memasukkannya ke dalam kotak surat itu.


Esok harinya manager Mukai mengumpulkan anak buahnya untuk memberitahu pengumuman penting buat mereka.
“mulai hari ini, wapres akan bertanggung jawab dalam pembukaan kantor pusat Osaka. Dia mungkin sudah dalam perjalanan kesana. “

Semua terkejut mendengar kabar tiba-tiba seperti itu.
“tempat itu akan menjadi tempat yang sangat penting sebagai kantor pusat kedua Tiffany di Jepang. Wapres sudah terpilih menempati posisi teratas. Aku akan mengambil alih pekerjaannya disini. Kalian mengerti? Sekarang kembali ke pekerjaan kalian masing-masing” ucap manager Mukai pada mereka.
“iya” jawab mereka membubarkan diri.


Mia malam harinya menceritakan itu pada Chiaki.
“transfer ke Osaka?”
“iya.. jangan-jangan wapres disana untuk menggantikanku” ucap Mia
“mungkin itu kebetulan saja. Jangan menafsirkan hal-hal yang sesuai dengan kenyamananmu.” Ucap Akari yang baru masuk kedalam rumah dan mendengar percakapan keduanya.
“Akari..  “

“apakah Miyoshi-san sudah menghubungimu?” tanya Chiaki
“tidak.. tidak ada satupun pesan” jawab Mia

“dia mengerikan sekali pergi tanpa mengatakan apapun. Entah apa yang dipikirkannya” ucap Akari sinis. Ia tadi sempat mengambil surat-surat masuk dari kotak surat, tanpa disadarinya secarik kertas yang ditulis Kairi terjatuh dan masuk ke bawah sofa tanpa dilihat siapapun.
“apakah aku harus menemuinya ke Osaka?” gumam Mia

“apa yang akan kau lakukan jika istrinya menemukanmu lagi?” tanya Akari
“aku ingin bertanya secara langsung apakah niatnya dia. Meskipun itu pembicaraan tentang putus.” Ucap Mia pelan.


Saat dikantornya Mia mengirim pesan untuk Kairi
“aku sudah mendengar kepindahanmu ke Osaka. Sangat tiba-tiba dan membuat sebuah orang di departemen PR jadi terkejut. Kami ingin membuat pesta perpisahan untukmu. Aku menunggu jawabanmu.” Tulis Mia
Tiba-tiba manager Mukai datang “ presdir memanggilmu” ucap manager Mukai.


Kairi membawa Yuka bersamanya ke Osaka dan membawanya ke rumah sakit yang terbaik di Osaka agar mendapatkan perawatan selama mereka disana. Saat berjalan disamping kursi roda Yuka ia merasakan Hpnya bergetar disaku celananya. Kairi mengambilnya dan melihat ada pesan dari Mia.
Kairi hanya sempat membacanya tapi tidak membalasnya.


Mia pergi ke ruangan presdir dan Mia sangat terkejut saat presdir mulai berbicara dengannya.
“tolong kau putus dengan Kairi” ucap Presdir
Mia masih mencoba menyangkal hubungan mereka didepan presdir “saya tidak tau maksud anda”

“Ogawa Haruka menghubungiku. Aku sudah mendengar semuanya.” Ucap presdir berdiri dari kursinya dan berjalan didepan Mia. “ Akulah yang menempatkan Kairi agar ia bertanggung jawab pada pembukaan kantor pusat di Osaka. Ini akan jadi waktu yang sangat penting buatnya sekarang. Tolong jangan hancurkan masa depan mereka lebih lagi. Aku mohon” ucap Presdir dan membungkuk didepan Mia. Mia sangat terkejut presdir membungkuk didepannya seperti itu untuk memohon kepadanya.


Yuka sebenarnya tau Kairi menerima pesan di Hpnya jadi sewaktu tidak ada orang lain disekeliling mereka, ia bertanya pada Kairi “siapa yang menghubungimu?”
“ohh.. itu pesan bisnis saja” jawab Kairi berbohong.

Yuka tak percaya begitu saja “Kairi, Hpmu” ucap Yuka mengulurkan tangannya pada Kairi untuk meminta HP dari Kairi.

Kairi dengan terpaksa memberikan Hpnya pada Yuka dan perempuan itu langsung membuka inbox Kairi “oh dari Kurihara-san” ucapnya tersenyum sinis.
“dia mengirimkannya sebagai perwakilan dari team PR.” Ucap Kairi “semua orang terkejut dengan kepindahanku yang tiba-tiba.”

“aku akan menyimpan ini” ucap Yuka sambil terus memperhatikan inbox di hp Kairi.
“apa yang harus aku lakukan untuk membuat kontak bisnis?” tanyanya.
Kairi kebingungan dengan ucapan Yuka.

“saat aku bersamamu, aku akan memberitahu isi pesan masuk setelah aku cek isinya. Hei itu tak masalahkan?”lanjut Yuka.

Kairi menghela nafas panjang ‘aku harap memorimu agar segera kembali”
“kenapa? Apa maksudnya itu?” ucap Yuka marah, ia membanting tasnya dan berteriak pada Kairi “itu semua salahmu. Kaulah yang mengkhianatiku. Kaulah yang membuatku bertingkah seperti ini”

Semua orang yang ada diruang tunggu rumah sakit langsung menoleh ke arah mereka berdua. Kairi juga sebenarnya sangat kesal dengan tingkah Yuka. Tapi ia mencoba menahannya meski ia sangat malu sekali didepan puluhan mata menatap ke arahnya.


Akari bertemu dengan Kuno untuk membahas novel Kuno. Akari memberikan catatan di novel yang sudah dibuat Kuno.
“sebelum pertemuan selanjutnya, tolong selesaikan membaca semuanya” ucap Akari
“tentu.. aku akan mengunakannya untuk acuan” jawab Kuno sambil memasukkannya ke dalam tasnya.
Akari bangkit berdiri “ dan selamat untukmu”
“apa?” Kuno bingung
“kau dan Chiaki sekarang sepasang kekasih kan? Tolong baik-baiklah dengannya” ucap Akari dan membuat Kuno terkejut lalu ia tersenyum.
“jangan mau dibodohi oleh Chiaki-chan” ucap Kuno
“hah?”


Mia sedang makan malam bersama dengan teman sekantornya. Tiba-tiba Miyazawa datang ke tempat itu. Sebenarnya itu mmg acara untuk merayakan tunangan mereka yang diadakan teman PR Mia.

“ah aku menemukanmu Mia” seru Miyazawa
Semua langsung memperhatikan Miyazawa. “kenapa kau kesini?” tanya Mia bingung dan bangkit berdiri dari kursinya.

Saeki yang sudah mengenal Miyazawa lansung  berseru “oh ini dia tunanganmu”
Semua berteriak heboh pada keduanya.
Miyazawa menoleh dan melambaikan tangannya pada teman-teman Mia dengan ramahnya “halo”

“kalian berdua benar-benar penuh cinta!” canda takako dan membuat semuanya tertawa.
“maaf sudah mengganggu kalian” ucap Miyazawa.
“tak masalah, mengapa tak bergabung dengan kami saja?” tanya Takako
“apa kau yakin? Klo begitu thanks!” ucap Miyazawa menerima permintaan teman-teman Mia.
Miyazawa berjalan mencari tempat duduk yang kosong. Mia menatapnya dengan sedikit kesal karena mau saja disuruh temannya.

“kesini, kau disebelahnya Mia ya”  saeki yang duduk disebelah Mia berdiri dan memberikan tempatnya untuk Miyazawa.
Miyazawa lalu duduk disebelah Mia
“wah sebentar lagi menjadi Miyazawa-san ya” goda mereka pada Mia.
“iya” jawab Miyazawa tertawa.

Mia kesal dan duduk cemberut melirik Miyazawa.


Manager Mukai yang barusan untuk menerima telpon langsung menghampiri Miyazawa.
“Miyazawa-san apa kabar? Saya Mukai” ucap manager Mukai memperkenalkan dirinya.
“hai.. saya Miyazawa dari Jimmy Choo, terima kasih sudah mengundang saya.” Ucap Miyazawa.

Manager Mukai duduk dikursinya dan saeki bertanya padanya “apa yang terjadi?”
“ada beberapa masalah dengan penerbit Naniwa di Osaka. Mereka ingin agar aku mengirimkan seseorang akhir minggu ini. “ ucap manager Mukai

Mia langsung tertarik begitu mendengar manager Mukai akan mengirim seseorang ke Osaka.
“saeki kau pergi” ucapnya pada Saeki
“hah? Aku?” Saeki kaget dan wajahnya terlihat kecewa.
“aku bisa pergi” seru Mia tiba-tiba. “aku bertanggung jawab pada penerbit naniwa jadi..”
Saeki tersenyum lega ada yang mau menggantikannya “ akhir minggu ini aku punya acara perjodohan”

“kau dengar aku saeki, kau pergi” ucap manager Mukai bersikeras saeki yang pergi karena manager Mukai tau Mia setuju pasti karena ada Kairi di Osaka.
“iya baiklah” ucap Saeki tidak bisa membantah lagi.


Mia kecewa dan Miyazawa yang memperhatikan Mia mengetahui kekecewaannya.
Miyazawa menoleh pada manager Mukai “sebuah perjalan bisnis ke Osaka ya? Kebetulan sekali! Kami juga akan pergi ke sana kan Mia?” seru Miyazawa berbohong.
Mia kaget dan hanya memperhatikan Miyazawa yang masih berbicara.

“untuk pernikahan temanku, aku akan memperkenalkan tunanganku pada mereka.” Ucap Miyazawa melanjutkan kalimatnya.
Mia jadi paham klo Miyazawa coba membuatnya bisa pergi ke Osaka sesuai dengan keinginannya.

“oh iya.. jadi karena sejalan jadi aku tidak keberatan” ucap Mia bersemangat.
Saeki tertawa” benarkah? Jadi bisakah aku memintamu itu”

Miyazawa menoleh pada Mia “Mia itu sangat loyal dengan pekerjaannya” ucap Miyazawa
Mia tertawa “iya karena pekerjaan adalah hidupku..”

“kita bisa irit biaya traveling bukankah itu bagus?” ucap saeki pada Manager Mukai agar di setujui Mia yang ke Osaka.

“aku akan ‘menjaganya’ jadi bagiamana manager Mukai?” tanya Miyazawa
Mia menatap manager Mukai penuh harap. Akhirnya manager Mukai menyetujuinya.


Mia pulang bersama dengan Miyazawa.

“kau barusan sudah menyelamatkanku. Seperti yang sudah diduga kau ini benar-benar ahlinya pembohong Miyazawa-san” ucap Mia

“pujian macam apa itu? aku tidak senang” gerutu Miyazawa sok cemberut pada Mia “lagian itu bukan sebuah kebohongan kok”
“hah?”

“semua akan dimulai sabtu ini jam 2 siang. Tolong kau bersiap-siap..” ucap Miyazawa
“hah? Jadi benar aka nada pernikahan?” seru Mia

“iya.. banyak orang dalam industry kita aka nada disana. Aku rasa disana juga akan ada orang yang dikenal manager Mukai. Apakah tak masalah ia mengetahuinya?” ucap Miyazawa.

“baiklah aku mengerti” gerutu Mia yang mau tak mau harus ikut Miyazawa ke acara pernikahan teman Miyazawa agar tidak ketahuan manager Mukai klo mereka berbohong

“hah kau begitu cepat setuju..” seru Miyazawa keheranan. BIasanya Mia bakal ngomong panjang lebar untuk tidak menuruti omongannya.

“aku berterima kasih padamu karena sudah membuatku bisa pergi ke Osaka” jawab Mia
Miyazawa terus memperhatikan Mia yang berjalan disampingnya. “apa kau sangat ingin bertemu dengannya?”

Mia terkejut dan menatap Miyazawa.
“Miyoshi-san ditransfer kan?” ucap Miyazawa menjawab tatapan mata Mia “apa yang akan kau lakukan klo kau bertemu dengannya?”

“aku tak tau. Aku hanya ingin melihatnya dan berbicara baik-baik. Itu yang bisa aku katakan sekarang”
“tapi tempat yang akan kau datangi adalah penerbit naniwa. Kau tidak akan tau jika kau bisa bertemu dengannya atau tidak. Bisa bertemu dengannya atau tidak itu akan seperti taruhan. “ ucap Miyazawa menatap Mia.
“taruhan?”

Miyazawa melanjutkan langkahnya, meninggalkan Mia. Mia ikut melanjutkan langkahnya mengejar langkah Miyazawa.
“tentu saja aku tidak tau akan bertemu wapres atau tidak. Jika kami dapat bertemu, apa yang akan terjadi pada kita? Apa reaksinya wapres nanti?” batin Mia sambil melangkah disamping Miyazawa.


Sampai dirumahnya Mia melihat HPnya dan ia tau pesan yang ia kirimkan ke Kairi sudah dibaca pria itu.
“lagi-lagi dia sudah membaca tapi mengabaikannya.” Gumam Mia sedih
“jika kita tidak bisa bertemu, apakah itu akan menjadi akhir dari kami?”

Sebenarnya pesan yang barusan dikirim Mia dibuka oleh Yuka lalu dihapus oleh Yuka.
“aku tidak mau meninggalkan sesuatu seperti ini. Aku ingin bertaruh untuk kemungkinan bertemu dengannya. Aku ingin tau takdir kami.”


Haruka mengunjungi Yuka dan Kairi. Haruka terlihat agak frustasi melihat rekeningnya.
“kak bagaimana hasil peninjauan toko kedua kita?” tanya Yuka pada kakaknya.
“sepertinya baik-baik saja.” Jawab Haruka.

“aku sangat menunggunya. Aku akan membuat banyak sketsa desain.” Kata Yuka
“yang penting bagaimana kau dan Kairi? Kau bisa mendesain tapi--” tanya Haruka mengalihkan pembicaraan mereka tentang tokonya.
“itu bukan urusanku kak! Jangan ikut campur!” seru Yuka yang tiba-tiba marah.

Haruka menerima telpon masuk yang dari Yota. Ia buru-buru berdiri menjauh dari Yuka.
“ada apa?” tanya Haruka.
“aku sudah mencari alasan kenapa kau mendorong Mia.” Ucap Yota

Haruka tertawa “ kaulah orang yang melakukannya”
“tokomu dalam masalah keuangankan? Bukankah kau sedang mengharapkan kekayaan keluarga Miyoshi kan?” sindir yota

“berhenti memberikan tuduhan palsu. Tak ada buktinya.”
“aku akan menemukan buktinya” janji Yota
Haruka terkejut saat mendengar suara sesuatu terjatuh. Ia mengetikan telponnya dan mencari tau.

Haruka melihat Yuka terjatuh dilantai dapur. “Yuka apa yang terjadi denganmu?” tanyanya khawatir. Yuka terlihat seperti orang depresi.


Kurihara pergi ke kantor penerbit di Osaka dan semua berjalan dengan baik dan permasalahan bisa diselesaikan. Kurihara bertanya pada manager penerbitan apakah wapres pernah ke penerbit. Manager penerbit mengatakan klo ia belum pernah bertemu dengan Kairi sama sekali. Mia lalu pamit pulang.


Mia pergi ke restaurant untuk makan siang. Ia lalu mengetik pesan untuk Kairi.
“aku baru selesai bekerja. Sayang sekali aku tidak bisa bertemu denganmu. Wapres kamu dimana?”

Mia lalu menekan tombol kirim dan pesan itu langsung terkirim. Mia langsung terkejut setelah melihat pesan yang barusan dikirimnya itu terlihat sudah dibaca tapi Kairi tidak membalas pesannya itu.

“hatimu selalu bersamaku , bukankah itu yang kau katakan kan?” batin Mia dan menghela nafas panjang.


Mia pergi menemani Miyazawa ke pemberkatan pernikahan teman Miyazawa. Mia terharu sampai menangis terharu melihat pasangan yang sedang berbahagia itu sudah diberkati pendeta. (iya sama, aku juga klo liat orang lagi mengucap janji pernikahan digereja juga ikut nangis terharu, maklum sensitive perasaanku.. hehe)

“aku bingung melihat kau tiba-tiba menangis seperti ini” ucap Miyazawa menatap Mia yang ada disampingnya.
Mereka keluar dari gereja dan Mia masih terharu  “ ini sangat menyentuh sekali” ucap Mia
Miyazawa tersenyum.



“Miyazawa!” panggil seseorang.
Miyazawa menoleh dan melihat teman-teman cowok sedang berkumpul disebuah sofa panjang.

“heii.. lama ga bertemu..” seru Miyazawa akrab pada teman-temannya.
Teman-temannya langsung memperhatikan Mia “apakah ini orang yang kau bicarakan di telp?”
“iya, ini kurihara Mia-san, dia bekerja di Tiffany. ” jawab Miyazawa memperkenalkan Mia
Mia tersenyum menyapa kedua pria teman Miyazawa itu.
“dia bilang di telpon, ‘aku akan membawa orang yang paling penting di hidupku’” ucap seorang teman Miyazawa pada Mia.

Miyazawa langsung malu dan salah tingkah. Sedetik kemudian ia mulai dengan sikap becandanya lagi “apa.. apa.. siapa cowok tampan yang mengatakan itu. wah dia kerennn!”
Temannya malah memperhatikan Miyazawa dengan heran “apa kau tidak malu, hentikan!”
Mia ikut tertawa melihat tingkah Miyazawa dan teman-temannya itu.

“omong-omong apa kalian sudah bertemu Shiho?” tanya Miyazawa
“belum.. tapi kemungkinan dia sudah disini’ jawab seorang temannya.
Sebenarnya saat itu wanita yang bernama Shiho itu sedang memperhatikan mereka dari lantai 2. Dia melihat Mia juga yang berdiri disebelah Miyazawa.


Kairi duduk disebelah tempat tidur Yuka.
“apa kau sudah baikan?” tanya Kairi
“maaf atas semuanya padahal kau sedang sibuk begini”
“untuk lebih amannya lebih baik kau dirumah sakit saja” ucap Kairi
“tidak.. jika aku dirumah sakit maka aku akan memburuk” Tolak Yuka
“baiklah… hmm sekarang aku harus pergi bekerja” ucap Kairi bersiap-siap pergi tapi tangan Yuka segera menarik tangan Kairi.
“tolong tetaplah disini bersamaku. Nanti aku ada check up jadi aku ingin kau tetap bersama disisiku. tolonglah” mohon Yuka pelan.
“baiklah..” jawab Kairi pelan.


Miyazawa, Mia dan teman-temannya sudah berkumpul untuk menunggu pelemparan bunga dari sang pengantin.
“sekarang pengantin akan melemparkan rangkaian bunganya.” Ucap MC
Para cewek maju ke depan untuk menangkap rangkaian bunga itu kecuali Mia yang tetap berdiri disebelah Miyazawa.

Miyazawa menoleh pada Mia dan menyenggol Mia “kenapa kau tidak maju ke depan?” tanyanya
“ah tidak..” jawab Mia
Pengantin wanitapun melemparkan rangkaian bunganya ke udara. Miyazawa langsung mendorong Mia kedepan dan tepat saat itu bunga jatuh ke pelukan Mia.
“wah hebat..” semua bertepuk tangan melihat ke Mia.



Tiba-tiba seorang cewek datang mendekati Mia dan menampar Mia dihadapan puluhan mata yang sedang melihat Mia. Semua terkejut dengan kejadian yang sangat cepat itu.
Apalagi Mia juga sangat shock karena ia tidak mengenal wanita yang sudah menamparnya itu.

“kau wanita jahat yang sudah merusak laki-laki orang” ucap wanita itu menyerang Mia.
Miyazawa segera mencegah wanita itu menyerang Mia lagi.
“hey apa yang kau lakukan” ucap Miyazawa memegangi wanita itu.
“ini kesalahan wanita ini” ucap wanita yang bernama Shiho itu sambil mencoba melepaskan diri dari pegangan tangan Miayzawa.

“shiho hentikan ini!” seru Miyazawa kehilangan kesabarannya. Ia berdiri didepan Mia melindungi Mia dari serangan Shiho lagi.
“apa yang kau lakukan? Menjauh dari wanita itu!” teriak Shiho pada Miyazawa.


Mereka bertiga lalu berbicara di tempat yang sepi.
“shiho kau minta maaf” ucap Miyazawa pada shiho.
“dia layak mendapatkannya.. wanita jalang itu” seru Shiho menatap Mia dengan garang. “jangan berpura-pura jadi gadis yang baik. Aku akan memberitahu wapres semua hal tentangmu.”

Mia bingung sama sekali tidak tau kenapa Shiho marah padanya dan mengatainya seperti itu.
“apa maksudmu?”

“pasienku adalah istri dari wapres Tiffani” ucap Shiho “aku juga bertemu dengan wapres setiap hari. Dia dapat dengan mudahnya memindahkanmu kemanapun”

Mia menghela nafas panjang sekarang ia baru menyadari kenapa Shiho marah padanya, mungkin shiho sudah mendengar tentangnya dari Yuka.
“jika wanita ini tidak ada ditengah-tengah kita, mungkin sekarang aku sudah…” shiho terdiam tidak melanjutkan kata-katanya.

Miyazawa mengerti apa kelanjutan kata-kata yang akan diucapkan Shiho. Ia berbalik menatap Mia “ maaf bisakah aku berbicara dengannya berdua saja?”
Mia mengangguk kecil “iya..”
Mia lalu pergi meninggalkan keduanya.



“aku sedang mengajukan permohonan pindah ke rumah sakit di Tokyo” ucap Shiho. “jika aku bisa tinggal didekatmu mungkin kita bisa kembali bersama.”
“aku dulu juga mencintaimu Shiho. Itu satu hal yang tidak bisa aku bohongi pada diriku sendiri. “ ucap Miyazawa

“mengapa? Mengapa bukan aku?” ucap Shiho.
“aku telah bertemu dengan seseorang yang dengannya aku ingin menghabiskan disepanjang hidupku. Aku benar-benar minta maaf” Ucap Miyazawa serius.

Shiho terkejut melihat keseriusan Miyazawa. Mia sebenarnya berdiri dibelakang pilar tidak jauh dari tempat keduanya berdiri jadi ia bisa mendengar percakapan mereka.

“karena kau menunjukkan perhatianmu padanya didepanku makanya aku ingin memberikan pukulan padanya.” Shiho lalu menatap Miyazawa dengan mata berkaca-kaca “Ryo-chan, jika kau tidak menemukan kebahagiaanmu, maka aku tidak akan memaafkanmu.”
Miyazawa tersenyum “terima kasih”



Mia dan Miyazawa pulang bersama dan dijalan mereka membahas kejadian bersama shiho tadi.
“apakah tak masalah jadi seperti ini?” tanya Mia

“aku memang ingin bertemu dengannya dan mengucapkan perpisahan dengan baik-baik. Yah Shiho yang akhirnya yang mengatakan lebih dulu. Aku tidak bisa tidak jujur dengan perasaanku. Aku akhirnya bertemu dengan seorang wanita yang ditakdirkan untukku. “ ucap Miyazawa menghentikan langkahnya dan menatap Mia.

“pikiranmu sekarang mungkin penuh dengan Miyoshi-san, tapi aku akan tetap bersabar. Aku akan terus berada disisimu sampai kau melupakan Miyoshi-san. Sekarang apa yang akan kau lakukan. Apakah kau mau pergi ke rumah sakitnya Miyoshi-san?”

Mia kaget dengan ide Miyazawa untuk pergi menemui Kairi tapi memang ia sangat ingin bertemu dengan Kairi.
“bisakah kita?” harap Mia

Miyazawa sudah tau Mia ingin kesana “kau ingin pergi kan? Saat ini mungkin dia sudah pergi. “
“tak apa” jawab Mia “aku hanya ingin tau kemanakah takdirku akan membawaku.”
“baiklah.. aku tunggu apa yang akan terjadi dengan apa yang sudah kau pertaruhkan” jawab Miyazawa.


Kairi memang masih di rumah sakit bersama Yuka untuk menemui dokter mereka. Dokter menasehati Yuka untuk tidak terlalu mencoba mengingat semua. Saat mereka berbicara pandangan mata Yuka melihat Mia dan Miyazawa yang berjalan di sudut jalan lainnya.
“ada apa?” tanya Kairi heran melihat Yuka.

“tidak apa, bisakah kau membelikan aku minuman di toko dilantai satu sana? Aku haus”    
“baiklah..’ angguk Kairi



Mia dan Miyazawa tidak menemukan Kairi dilantai dua jadi mereka turun kelantai 1 lagi.
“sudah kuduga dia sudah tidak berada disini. Dan juga sudah hampir penutupan waktu penerimaan pasien juga.” ucap Miyazawa

Sebuah pesan masuk di Hp Mia membuatnya menghentikan langkahnya untuk melihat pesan masuk itu. Mia membukanya dan melihat pesan dari Kairi.

“sekarang kau ada di rumah sakit Osaka Daichi kan? Bisakah kau datang ke toko lantai satu? Aku akan segera kesana”

Miyazawa ikut membaca pesan Kairi itu “sepertinya kau menang taruhan itu”


Mia lalu berjalan cepat menuju toko yang dimaksud dipesan itu. Sampai didepan toko Mia melihat Kairi yang barusan keluar dari toko itu.
“Wapres” sapa Mia.

Kairi terkejut melihat Mia ada didepannya.
“kurihara bagaimana kau tau aku ada disini?” tanya Kairi keheranan.
Mia ikut kaget “mengapa kau tidak pernah mencoba menghubungiku?”
Kairi teringat pesan yang ia tinggalkan dikotak pos apartemen Mia.
“apa kau tidak membacanya?” tanya Kairi
“apa?” tanya Mia bingung

“apa yang kau lakukan” seru Yuka yang sedang menuruni tangga.
Yuka tersenyum pada Mia “oh kurihara san, Miyazawa san apa yang kalian lakukan disini?”
Ia lalu berjalan mendekati ke tempat Mia, Kairi dan Miyazawa berdiri.

Mia teringat kejadian di bandara waktu itu. Wajah Mia jadi pucat khawatir klo Yuka akan melabraknya seperti dulu saat di bandara.

Miyazawa melihat wajah kekhawatiran Mia. Miyazawa mengambil langkah secepatnya “temanku sedang dirawat dirumah sakit, jadi kami datang untuk menengoknya. Sungguh suatu kebetulan ya” ucap Miyazawa berbohong.

“oh benar” jawab Yuka berpura-pura percaya dengan omongan Miyazawa.
“oh iya, klo kalian mau kenapa tidak mampir ke rumah kami saja? Sangat dekat kok” ucap Yuka

Semua terkejut dengan tawaran Yuka yang tiba-tiba itu. waktu dibandara Yuka terlihat marah pada Mia tapi sekarang ia berubah berbaik-baik?
“Yuka” seru Kairi memperingatkan.

“maaf, aku khawatir kami tidak bisa mengejar kereta cepatnya.” Tolak Miyazawa
‘ayolah.. kalian sudah sampai sini juga.. aku ingin mengajak kalian makan malam bersama kami” ajak Yuka lagi.
Mereka bertiga menatap Yuka dengan curiga maksud ajakan Yuka ke rumah Kairi di Osaka.


Sementara itu di Tokyo, Akari yang sudah mengetahui kebohongan Chiaki bertanya pada sahabatnya itu. “apakah kau berbohong soal hubunganmu dan Kuno-san? Mengapa kau berbohong?”

“apa kau belum mengerti? Meskipun kita selalu bersama sejak kita TK.” Jawab Chiaki
“mengapa kau selalu mengambil laki-laki yang aku sukai dariku? Apa kau punya dendam denganku?” tanya Akari kesal

“aku sudah membencimu sejak dulu” jawab Chiaki santai         
“jika kau menemukan sesuatu yang tidak kau sukai tentangku, kau harusnya memberitahuku.” Ucap Akari. Ia berjalan mendekati Chiaki yang duduk membelakanginya disofa.

“jika kau membenci diriku dari dulu kenapa kau berpura-pura menjadi sahabatku, ini benar-benar tidak masuk akal!” seru Akari marah
Chiaki berdiri menatap Akari dengan marah “itulah sebabnya! Kau tidak pernah peka dengan perasaan orang dan sangat kaku. Saat aku melihatmu seperti itu, aku jadi jengkel.” Seru Chiaki mendorong tubuh Akari

“apa yang kau lakukan?!” seru Akari marah dan mendorong tubuh Chiaki. Mereka lalu saling mendorong dan membuat keduanya terjatuh ke sofa dan menangis bersama.
“aku tidak mengerti lagi, apa maksudnya persahabatan?” seru Akari
“setidaknya bagiku tidak ada perasaan seperti itu” sahut Chiaki berdiri dan meninggalkan Akari.



Miyazawa dan Mia sampai dirumah Chiaki.
“wah rumah yang besar” ucap Miyazawa mencoba mengusir ketegangan suasana “ wow atapnya sangat tinggi juga. “
“terima kasih..” jawab Yuka “aku akan memasak” berjalan mau pergi.
“kau tidak perlu memasak” ucap Kairi
Yuka berpura-pura tidak mendengarkannya “kurihara-san, bisakah kau membantuku?” ucap Yuka menoleh pada Mia dan membuat ketiga orang sama-sama kaget dan curiga.

Mia meski kaget tapi tidak bisa berbuat apa-apa ia hanya mengangguk kecil “iya”
Mia lalu berjalan menyusul Yuka ke dapur.
Kedua pria menatap kedua wanita itu dengan khawatir.
Miyazawa berjalan mendekati Kairi dan berbisik pelan “Miyoshi-san, bisakah aku berbicara denganmu sebentar?”


Didapur Mia mencoba membantu Yuka untuk memasak.
“kau pasti kaget dengan kepindahan yang tiba-tiba ini”
“iya”
“aku mendengar ada dokter yang sangat bagus disini, jadi aku meminta paman (presdir) untuk pindah kesini.”
‘oh begitu..”

“dan lagian kakakku akan membuka toko keduanya disini juga. Dia menjual pakaian yang aku rancang juga. Aku bertemu Kairi saat aku di TK. Kakakku dan Kairi yang saat itu satu SMA berada di satu klub basket, aku kesana untuk melihat permainan mereka. Aku berpura-pura melihat permainan kakakku, Tapi sebenarnya aku melihat ke Kairi saja. Aku sangat terkejut saat bertemu dengan Kairi di Amerika. Aku tersadar klo benang merah takdir benar-benar ada. “

Mia hanya diam mendengarkan ucapan Yuka.
“aku sangat mencintai Kairi.” Lanjut Yuka  “sejak aku berumur 11 tahun aku sudah mencintai Kairi dan hanya Kairi saja. Aku tidak bisa hidup tanpanya. Aku memisahkan kalian berdua tapi masih saja… mengapa kau mengikutinya?”

Mia kaget dengan ucapan Yuka yang lama-lama ketahuan aslinya mengajak Mia ke rumah mereka.

“jangan menghalangi kami” ucap Yuka dan mengeluarkan foto Mia dan Kairi “kakakku mengatakan klo akan berlebihan klo aku menyebarkannya ke perusahaan. Padahal aku sudah tak peduli lagi meski Kairi harus dipecat juga. Atau mungkin itu lebih baik buat Kairi. Iyakan Kurihara-san?”


“aku akan membuat Kurihara-san bahagia” ucap Miyazawa pada Kairi
Kairi menatap Miyazawa dengan kesal

“Miyoshi-san, kau tidak pada posisi bisa marah atau menghentikanku. Kau tidak melakukan apapun tapi kau justru membuatnya tidak bahagia. Kau sudah menikah, kau harus mempertimbangkan posisimu sebagai wapres atau kau hidup menjauh. Kau tidak punya apapun selain alasan. Aku rasa kau tidak berniat membuatnya bahagia. Mengapa kau tidak diam-diam meninggalkannya saja? “ ucap Miyazawa menatap Kairi tajam

Dari ruang bawah Yuka melihat keduanya “Kairi dinner sudah hampir siap, maukah kau membantuku?” teriak Yuka.
“iya” jawab Kairi


Mereka mempersiapkan meja makan dan akhirnya mereka duduk untuk menikmati makan malam mereka. Menu hari itu adalah daging burger jadi mereka memakai pisau untuk mengiris daging burgernya.

“wah enak.. rasanya seperti makanan dari restaurant. Aku beri nilai 3 bintang untuk kokinya “ puji Miyazawa setelah memasukkan potongan daging ke dalam mulutnya.
“yeyy!” seru Yuka dengan girangnya.
“kurihara-san apa kau menyukainya?” tanya Yuka
Mia mengangguk “iya”


“oh begitu.. lalu apa yang akan kau bicarakan dengan Kairi?” tanya Yuka tiba-tiba pada hal pribadi mereka.

Mia menatap Yuka dengan kaget.
“aku tau kau kesini untuk bertemu dengan Kairi.” Lanjut Yuka.

Semua terdiam membeku, tidak tau harus mengatakan apa. “oh iya… kau datang untuk memberitahu Kairi klo kau tidak akan bertemu dengannya lagi kan? Pasti begitu.. klo tidak maka aku akan menyimpulkan dirimu sebagai wanita yang memiliki hati besi. Tapi tolong bicarakan didepanku aku ingin mendengarnya.”

Mia terus memperhatikan Yuka bersiap-siap dengan apa yang akan dikatakan dan dilakukan Yuka lebih jauh lagi.
“oh aku harusnya memanggil pengacaraku. Oh apakah aku harus merekam ini untuk referensi kedepannya?”
“Yuka!” protes Kairi

“jika kau berjanji klo kau tidak akan menemuinya lagi maka aku tidak akan membuat keributan lagi. Dan lagi kau harus berhenti dari perusahaan itu. kau sudah punya Miyazawa-san jadi kau bisa jadi ibu rumah tangga saja. “
“Yuka!”  protes Kairi lagi
Suasana jadi sunyi senyap.



“kita harus bicara” ajak Kairi pada Yuka.
“apa? Kita sekarang masih ada tamu.” Jawab Yuka
“aku ingin bicara berdua denganmu saja” ucap Kairi lagi
“jika kau ingin bicara, lakukan disini saja atau ada sesuatu yang tidak bisa kau katakana didepan orang lain?” tantang Yuka pada Kairi.

Kairi berpikir mungkin ini saatnya ia berkata yang sejujurnya karena Yuka bersikap paling benar dan terus menyalahkan Mia.

“sebelum kecelakan itu kita sedang perjalanan untuk melakukan perceraian” ucap Kairi pelan.
Yuka hanya diam menatap Kairi tidak nampak keterkejutannya sama sekali (?). Kairi berdiri dan mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan memberikannya pada Yuka.

Sebuah formulir perceraian yang sudah ditanda tanganinya dan ada tanda tangan Yuka juga.

“kau mengisi formulir ini sendiri.     “ ucap Kairi pelan.
Dalam pikiran Yuka ia teringat kejadian saat Kairi mempergokinya sedang tidur bersama dengan seorang bule.

“aku akan memberitahumu satu persatu apa yang terjadi sebelum kecelakaan itu. aku ingin kau mengingatnya sedikit demi sedikit..”

“mengapa?” ucap Yuka pelan. Ia menoleh pada Mia dengan tatapan penuh kebencian “ini karena wanita ini, karena dia yang memintamu. Kau coba menulis ulang memoriku untuk kenyamananmu.”

“tidak, itu salah” bantah Kairi
“aku ingin kau mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Aku ingin melangkah maju meskipun hanya selangkah kecil.” Ucap Kairi

Yuka menoleh menatap Kairi dengan mata yang berkaca-kaca “apa kau ingin membuangku? Kairi, kau berbohong kan? Itu bohong… sebuah kebohongan.. bohong… ” Seru Yuka dan kemudian semua memori sebelum kecelakaan dan saat kecelakaan berkelibat dipikiran Yuka. Dia bangkit berdiri dengan panik ‘kau salah! Itu semua karenamu.. ini semua karenamu!” teriak Yuka pada Mia. Ia lalu mengobrak-abrik semua yang ada dimeja makan.


Yuka melihat pisau makan yang tergeletak dilantai dan mengambilnya.
Semua terkejut melihat Yuka yang mengacungkan pisau kepada mereka.
Yuka menatap Kairi dengan ke frustasiannya
“aku tidak akan memaafkanmu.. “ teriak Yuka
“Yuka san berhati-hatilah” seru Miyazawa kaget melihat Yuka.
“aku tidak akan pernah putus denganmu!” ucap Yuka pada Kairi.
“Yuka tenanglah, ayo kita bicara baik-baik” ucap Kairi
“Kairi, ayo mati bersamaku.. “ semua terkejut mendengar ucapan Yuka yang sudah kehilangan akal sehatnya.

Saat Yuka sedang konsentrasi pada Kairi, Miyazawa memegang Yuka dan mau mengambil pisau dari tangan Yuka . mereka berdua terjatuh dan pisau tergeletak tidak jauh dari Yuka. Yuka segera mengambilnya dengan cepat dan segera mengacungkan pada Kairi lagi.
Namun tiba-tiba Yuka membalikkan pisau itu kea rah dirinya sendiri. Semua bertambah kaget.

“Kairi.. “ Yuka menatap pisaunya dan perlahan mengarahkannya ke dirinya sendiri dengan tangan gemetar.



Mia sudah tidak bisa menahan perasaan shocknya atas apa yang terjadi didepannya. “HENTIKANNNN!” teriak Mia

“aku.. aku tidak akan menemuin wapres lagi. Maafkan aku, ini semua salahku” isak Mia. Airmatanya membanjiri wajah Mia. Ia lalu membungkuk didepan mereka “maafkan aku.. aku benar-benar meminta maaf!”

Mia segera berlari keluar rumah Kairi.
“Kurihara!” teriak Kairi berlari menyusul Mia tapi Yuka memeganginya “Kairi tunggu!” Yuka lalu pingsan dan membuat Kairi panic “Yuka.. Yuka..”


Miyazawa segera berlari mengejar Mia yang tadi menangis.

“Mia..” panggil Miyazawa dan ia berlari didepan Mia.
“jika aku tau akan seperti ini, aku harusnya tidak menemuinya” sesal Mia
“taruhan itu.. aku memenangkannya tapi aku merasa sepertinya aku kehilangannya.” Isak Mia menangis.

Miyazawa berjalan mendekat dan memeluk Mia. “ jangan pikirkan itu..” bisiknya memeluk Mia erat.


Kairi duduk disamping sofa tempat Yuka berbaring.
“aku akan memaafkanmu.. aku akan mencoba untuk memaafkanmu. Setiap orang membuat kesalahan. Tapi.. aku satu-satunya yang kau cintai kan?” ucap Yuka menatap Kairi
“maaf” bantah Kairi pelan
Yuka menampar Kairi. Ia berlari dan mengambil formulir perceraian mereka dan merobek-robeknya “aku tidak akan menyerah! Aku tidak akan menceraikanmu!” teriak Yuka sambil menangis.

malam itu juga kairi pergi ke Tokyo menyusul Mia.


Mia sudah sampai di Tokyo. Miyazawa masih menemani Mia di apartemennya meskipun Akari dan Chiaki juga ada di apartemen.

“aku sangat bodoh.. Akari kau sudah mencoba untuk menghentikanku, meski aku tetap berada disisinya. Aku hanya akan memberikan masalah pada wapres. Aku akhirnya menyadari itu. aku .. aku akan putus dengan Wapres” ucap Mia
Semua terkejut memperhatikan Mia.

“aku minta maaf sudah melibatkan kalian dalam masalahku. Aku terlalu picik untuk memahami takdirku. Tapi jika ini adalah jawaban dari semuanya, aku tidak punya pilihan lain selain menerimanya. Berharap kebahagiaan untuk orang yang aku cintai, aku harus melangkah maju kearah takdir akan membawaku.” Ucap Mia pada semuanya.
Miyazawa lalu pulang dan disepanjang perjalanan ia terus terngiang ucapan Mia.


Mia langsung berbaring di tempat tidurnya meninggalkan Akari dan Chiaki di ruang living room. Mereka berdua termenung dan ikut sedih pada kisah cinta Mia.

Mereka berdua terkejut saat mendengar bel pintu dimalam itu. Chiaki segera melihat siapa yang bertamu diapartemen mereka dari layar lcd. Ia terkejut saat melihat Kairi sudah berdiri didepan pintu mereka.

“Mia!” teriak Chiaki berlari ke kamar Mia “Mia, ada Miyoshi-san.”
Mia terkejut tapi hanya terdiam saja di tempat tidurnya.
“aku akan membuka pintu kamarmu” ucap Chiaki dan ia segera membuka pintu kamar Mia.
“Mia..”

“jika aku melihat wajahnya aku tidak akan mampu putus dengannya.” Ucap Mia pelan.
Chiaki menghela nafas panjang tidak bisa berbuat apa-apa.


Akari yang membuka pintu apartemen mereka dan menemui Kairi.
“apa kurihara dirumah?” tanya Kairi begitu melihat wajah Akari,.
“dia bilang klo dia tidak ingin bertemu denganmu.” Jawab Akari pelan. Lalu Akari sedikit membungkuk meminta maaf lalu menutup pintunya.


“dia tidak apa-apa kan?” ucap Akari pada Chiaki.
“ini bukan sesuatu yang bisa kita putuskan” ucap Chiaki.
Akari berdiri dan saat berjalan kertas yang dibawanya terjatuh. Dan pada saat itu matanya melihat kertas Kairi yang terjatuh dibawah sofa. Akari mengambilnya dan melihat tulisan Kairi didalamnya.

Chiaki ikut melihatnya dan keduanya lalu berjalan ke kamar Mia.
“Mia..” panggil Akari memasuki kamar Mia “aku menemukan ini dilantai”
Mia masih tidur membelakangi mereka.

“ini dari Miyoshi-san, tampaknya dia datang kesini sebelum dia pindah ke Osaka.” Lanjut Akari

Mia langsung bangun dan duduk di tempat tidurnya.
Akari mengulurkan kertas itu pada Mia.

“apa kau bahagia saat kau jatuh cinta pada Miyoshi-san? Jika kau bahagia maka aku tidak akan menghentikanmu lagi. Jadi jangan pernah membuat penyesalan.” ucap Akari pelan
Mia lalu membuka pesan yang ditulis Kairi sebelum pria itu pergi ke Osaka.

“kurihara.. aku ingin meminta maaf atas apa yang terjadi dibandara. Aku meminta maaf atas kejadian mengerikan terjadi itu. aku tidak bisa mengatakannya langsung padanya, tapi mulai besok kita tidak bisa bertemu untuk sementara waktu. Aku sudah dipindah ke Osaka. Karena Yuka, akan sangat sulit buat kita untuk menghubungi satu sama lain. Tidak tepatnya karena semua yang sudah terjadi kita tidak bisa bertemu sampai semuanya terselesaikan. Tapi ingatlah Kurihara, kau dan aku selalu terhubung. Meskipun kita tidak bertemu langsung, berpegangan tangan, atau tertawa bersama, hatiku akan selalu merindukanmu Kurihara. Bisakah aku percaya klo kau merasakan hal yang sama? Aku pasti akan kembali padamu. Satu-satunya yang aku cintai hanya kau Kurihara. Surat ini sudah tertuliskan takdirku untukku,

Selesai membaca surat itu Mia segera mengambil dompet dan kunci apartemen Kairi. Mia segera pergi ke rumah Kairi. 


Sampai didepan apartemen Kairi, Mia sedikit ragu lalu ia memutuskan membuka pintu apartemen Kairi dengan kunci yang dibawanya.

Mia membuka pintu kamar Kairi perlahan dan ia mendengar suara music rock yang sangat keras. Mia terkejut dan berjalan pelan menuju ruang tamu apartemen Kairi. Mia semakin terkejut saat melihat Kairi sedang menari dengan gaya ala rocker dengan suara music rock yang sangat keras diruang tamu. Kairi hanya memakai kaos dalam saja.

Kairi masih asyik  bergaya ala rocker dan berputar-putar seperti memaikan gitarnya. Tiba-tiba ia terkejut saat tubuhnya menghadap ke pintu dan melihat Mia yang sedang bengong memperhatikannya.


Kairi kaget, malu tapi berpura-pura tetap terlihat cool. Ia berjalan pelan dan mematikan music rocknya.

“kau mau kopi?” tanya Kairi membuka percakapan
“eihh?” Mia yang masih kaget tidak paham maksud ucapan Kairi yang tiba-tiba.
“aku hanya punya kopi hitam tak masalah kan?” tanya Kairi lagi dan berjalan ke dapur.
Mia masih linglung setelah melihat Kairi ala rocker berjalan mengikuti Kairi ke dapur.

“itu tadi apa?” tanya Mia
“apa maksudmu?” tanya Kairi berpura-pura tidak paham.
“yang barusan tadi yang seperti ini..” Mia lalu menirukan gaya Kairi yang memegang gitar dan bergaya seperti rocker tadi.

“mungkin kau mimpi atau apalah..” bantah Kairi masih sok cool
“tidak.. tidak.. tidak..” Mia menahan tawanya.
Kairi selesai membuatkan kopi untuk dirinya dan Mia. Lalu mereka duduk di sofa ruang tamu.



“ahh baiklah ini sangat mengejutkan” goda Mia setelah meneguk sedikit kopinya.
“sudah cukup” sahut Kairi menghentikan Mia agar tidak membahas apa yang sudah dilihat Mia tadi.
Mia tertawa “tidak… kau tadi terlihat keren.. seperti kau sedang menunjuk ke sesuatu.. “ ucap Mia menirukan gaya Kairi lagi.

“iya aku mengerti” ucap Kairi salah tingkah dan malu namun akhirnya ia ikut geli sendiri.
“aku sangat bahagia membaca suratmu. Maaf aku tidak segera melihatnya. Aku menyesal kenapa aku tidak mempercayaimu lebih lagi. Tapi aku senang bahwa aku jatuh cinta padamu.” Ucap Mia

Kairi mendekat dan memeluk Mia. “aku minta maaf sudah membuatmu sangat menderita. Tentang Yuka aku akan menyelesaikannya dengan baik-baik sehingga kau akan merasa lebih terjamin. “

“wapres, kau sudah memberitahu istrimu tentang perceraian itu dan hanya itu saja sudah cukup buatku.” Jawab Mia

Kairi melepaskan pelukannya dan menatap Mia “aku akan menyelesaikannya dengan baik-baik. Mia.. aku ingin bersamamu dengan kepala tegak.”
Mia terharu dan matanya berkaca-kaca dan Kairi juga sama.

“sejak aku bertemu denganmu, aku sudah merasakan perasaan yang tak mudah. Apakah aku jatuh cinta padamu? Apakah aku bisa disampingmu seperti ini? Apakah aku orang jahat? Tapi saat aku bersamamu aku dapat melupakan segalanya. Aku sangat bahagia, aku memujamu, kau sangat berharga. Aku sangat bahagia aku dapat mencintaimu seperti ini, kau memberikan waktu yang tak tergantikan. Aku sangat berterima kasih.” Ucap Mia



Kairi menyentuh tangan Mia “mari kita teruskan waktu yang seperti ini selamanya.”
Mia menatap Kairi dengan mata penuh kesedihan. Perlahan ia melepaskan pegangan tangannya dari Kairi.

Kairi terkejut dan menatap Mia penuh pertanyaan.

“saat seperti itu hanya sementara saja dan tidak akan berlangsung lama. Aku bertanya-tanya jika semua berbeda, jika aku bisa membaca suratmu hari itu… semua tidak berjalan baik. Entah mengapa pasti ada sesuatu yang salah. Saat aku ingin berada disisimu, wapress.. kau selalu jauh. Saat perasaanku sedang sedih.. wapres kau selalu tidak ada disisiku.. ini yang terjadi” ucap Mia dengan suara bergetar menahan kesedihannya.
 Airmata menetes dari sudut matanya dan Mia menghapusnya pelan.

Mia mencoba tersenyum melihat Kairi yang sedang mencerna semua kalimatnya.
“kita tidak bisa melawan takdir kita” ucap Mia melanjutkan kalimatnya. “semua seperti sebuah mimpi. Selamat tinggal” ucap Mia dan berlari pergi meninggalkan Kairi.

Kairi terdiam merenung semua ucapan Mia, perpisahan yang akhirnya diputuskan Mia atas hubungan mereka berdua yang penuh dengan masalah itu.


Pagi harinya Mia bersiap-siap ke kantornya. Ia juga mempersiapkan surat pengunduran dirinya dari perusahaan Tiffany.

“inilah takdirku..”



BERSAMBUNG EPISODE 8


NB: episode 8 nya bikin kesal dan penuh airmata.. hiks..hiks..


16 komentar: