Tampilkan postingan dengan label Bokura Ga Ita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bokura Ga Ita. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 November 2012

OST. Bokura Ga Ita - Zenpen


Inori ~ Namida no Kidou

by : Mr. Children
Lyrics: Sakurai Kazutoshi
Composition: Sakurai Kazutoshi


Kajikanda kimi no te wo nigirishimeru to
“Konomama toki ga tomareba…” tte omou
Nozokikomu you na me ga uso wo sagashiteru
"Baka da na nanimo deteki ya shinai to waratte kotaeru

Tooi mirai wo yumemitari ureitari
Kyou mo atama no naka de ittari kittari
Sawaranai de naru dake te wo kuwaenu you ni
Kokoro no kidou wo mitodoketai

Sayounara sayounara sayounara
Yume ni doro wo nuritsukeru jibun no minikusa ni
Muboubi na musouka datte dareka ga yayu shite mo
Yuruganu omoi wo negai wo mochitsuzuketai

Minareta basho ga chigau kao shite mieru no mo
Hontou wa boku no mesen ga kawatte kita kara
“Junsui” ya “sunao” tte kotoba ni
Akui wo kanjite shimau no wa
Kitto boku ni mou jaki ga aru nda ne

Wasureyou to shite demo omoi okoshitari
Ikutsu ni natte mo minna nitari yottari
Nakushitakunai mono ga hitotsu mata hitotsu
Kokoro no kidou ni iro wo soete

Mayottara sono mune no kakou kara
Kikoete kuru nagare ni mimi wo sumaseba ii
Zawameita kirameita sukitooru nagare ni
Sasabune no you na inori wo ukabereba ii

Kimi ga naite waratte
Sono tabi kokoro wo yurasu
Motto tsuyoku aritai tte omoide
Mune wa furuete iru

Wasurenai de kimi ni yadotta hikari
Itsumademo kienu you ni mimamoritai

Sayounara sayounara sayounara
Akogare wo fumitsukeru jibun no yowasa ni
Kanashimi ga samishisa ga tokidoki koborete mo
Namida no kidou wa kirei na kawa ni kawaru
Soko ni
Sasabune no you na inori wo ukabereba ii



Doa ~ Aliran Airmata

Aku menggenggam tanganmu yang dingin dan mati rasa
Aku berpikir, "seandainya aku bisa menghentikan waktu pada saat ini."
Kau menatap mataku mencari tanda-tanda kebohongan
"Bodoh, kau tak akan menemukan apapun disana" kataku tersenyum

aku melihat impian masa depan kita yang jauh dan aku resah,
semua mondar-mandir lagi dalam pikiranku hari ini.
aku tidak akan menyentuh dan bimbang
aku lebih suka melihat kemana hatiku akhirnya akan pergi

Selamat tinggal, selamat tinggal , selamat tinggal
pada keburukan dalam diriku yang telah mengoleskan lumpur dalam mimpiku
Bahkan jika seseorang mengejek pemimpi tak berdaya ini
aku ingin tetap berpegang dan tak tergoyahkan pada harapan itu

alasan mengapa tempat yang akrab terlihat berbeda,
itu sebenarnya karena perspektifku telah berubah.
Alasan aku merasakan niat buruk dari kata-kata seperti
"Kemurnian" dan "kejujuran" pasti karena
ada kejahatan dalam diriku sekarang juga.

Aku mencoba melupakan tapi aku selalu kembali berpikir tentang hal itu
Tidak peduli berapa usia kita dapatkan, semua orang hampir sama
Hal-hal yang kita tidak pernah ingin kehilangan, satu demi satu....
menambah warna di aliran hati kita.

Jika kau tersesat, hanya coba dengarkan dengan cermat
suara mengalir datang dari muara hatimu
mengalir, berkilau, gemercik
dan kemudian lantunkan doa agar mengapung seperti perahu daun bambu

Setiap kali kau tertawa dan menangis
itu menggoncangkan hatiku
Dadaku bergetar dengan keinginanku,
aku ingin menjadi lebih kuat

Jangan pernah lupa cahaya yang diam didalammu.
Aku ingin selalu berjaga-jaga di atasnya sehingga tidak pernah padam.

Selamat tinggal, selamat tinggal, selamat tinggal
untuk kelemahan dalam diriku yang menginjak-injak impianku
bahkan jika kesedihan dan kesepian kadang-kadang meluap
aliran airmata akan menjadi sungai yang cantik,
dan kemudian
lantunkan doa agar mengapung seperti perahu daun bambu

***

Indonesian Translate by : Eunike Enny (Eunike's Diary)
(eunikenny.blogspot.com)


Selasa, 13 November 2012

Sinopsis Bokura Ga Ita = Kouhei - FINAL



Pulang dari perpisahan terakhir bersama Nanami, Yano pergi ke rumah sakit. ia menemani Yuri menunggu ibunya yang sedang kritis. Mungkin ini adalah saat terakhir ibunya Yuri. Yano duduk disebelah Yuri yang hanya diam disisi ibunya dan hanya memandang wajah ibunya tanpa ada kata-kata apapun.


“aku tak tau apa yang harus kukatakan padanya” ungkap Yuri pelan

“bagaimana klo kau menyampaikan keluhanmu saja?” kata Yano

“itu aku juga tak punya” jawab Yuri

“begitukah? Baiklah biar aku yang sampaikan saja” kata Yano sembari memajukan tubuhnya kedepan

“.. hey bibi, aku merasa berdosa mengatakan hal ini sekarang dalam kondisi seperti ini, tapi kan kamu orang yang terburuk. Anak tertuamu kecelakaan mobil dengan laki-laki tak berguna dan mati. Anak termudamu tak mau bicara padamu. Kenapa bisa begini? Pasti ada yang salah dalam kau mendidik anak-anakmu... atau itu karena.. tidak ada cinta yang cukup? Bisa dikatakan.. lebih dari memberikan cinta pada mereka, kau malah menginginkan mereka lebih mencintaimu kan?ini semua karena kau egois. Kami bingung karna kami tak tau apa kau sebenarnya mencintai kami.?”

Yano malah membayangkan ibunya saat mengatakanya. “ Jadi maafkan kami... tolong maafkan kami” kata Yano tertunduk suaranya gemetar menaha kesedihannya teringat akan ibunya. Ia seperti mengatakan itu untuk ibunya bukan ibu Yuri. “maafkan aku karena tak bisa membuatmu bahagia..” ucap Yano dan airmata menetes dari mata Yano. Yuri memperhatikan Yano yang menangis itu, ia sadar Yano mengatakannya untuk ibu Yano. “aku sudah selesai, sekarang giliranmu.” Bisik Yano pada Yuri. "Katakan padanya.. aku tak ingin kau mengalami hal yang sama yang aku lakukan. “

Yuri menggenggam tangan ibunya dan menatap ibunya . tiba-tiba tangan ibunya agak bergerak “tidak mungkin.. tangannya bergerak memegang tanganku..”Kata Yuri terkejut. Yuri langsung menangis histeris memanggil-manggil ibunya. “ibu.. maafkan aku.. maafkan aku..”

Itu adalah saat terakhir ibunya, esok paginya dokter menyatakan ibunya Yuri sudah meninggal dunia.



Yuri menemui Yano dihalaman rumah sakit “kata mereka genggaman tangan ibu hanya sebuah kontraksi otot saja..”
Yano menatap Yuri yang sedihh itu. “apa?”
“kata dokter hal itu bisa terjadi padanya untuk menggenggam tanganku.”

“aku yakin pesan itu bisa didengarnya.”

Yuri menatap Yano yang disampingnya “aku ingin membuat moto(Yano) bahagia.”

Yano menoleh ke Yuri tak mengerti apa maksud Yuri. “...aku ingin putus dengan laki-laki tak berguna itu, jadi dia tak akan melukai Yano lagi. Itu yang dikatakan kakakku dan itulah mengapa ia menemui laki-laki itu pada saat kecelakaan itu.”

Yano tersenyum pahit “kenapa kau katakan sekarang?”

“maafkan aku.. aku akan mengatakan padamu, tapi saat itu kau keburu mengucapkan kata-kata kotor.” Yuri menatap Yano “setiap orang tau betapa kau mencintai mereka.. kakakku dan aku yakin ibumu juga.



Akiko pergi berdua denga Take “jadi itu ya yang terjadi?”

“jalannya moto dan takahashi mungkin tak bisa dilalui lagi. Meskipun begitu, satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan Yano adalah Takahashi. Berapa tahunpun yang terlewati, aku ingin Takahashi terus menyakinkan dia, satu jawaban.”

“satu jawaban?” tanya akiko penasaran. Take tak menjawabnya “bantu aku katakan itu pada Takahashi..” lanjut Take.

Akiko menatap Take “ kau mungkin juga sama.”hmm?” “nothing” jawab Akiko tak mau mengatakan maksudnya tadi. Take meringis saja mendengarnya. Maksud Akiko adalah cinta Take pada Nanami yang tak mungkin sejalan.
“baiklah aku akan mengatakan padanya” kata Akiko. “...aku yakin (rasa)itu akan sampai pada mereka suatu hari nanti”





"Aku tau saatnya mengumpulkan semuanya menjadi kenangan. Kenangan itu selalu baik.. aku harap semua kenangan ini akan baik untukmu juga.”

Saat kata hati Nanami mengatakan kata-kata itu, mereka semua menatap langit yang sama ditempat yang beda; Yano yang sedang dipemakaman bersama yuri, Take yang bersama Akiko dan Nanami yang sedang berjalan sendirian.


***

1 tahun kemudian

Nanami mendapat undangan pernikahan sahabatnya, Taka-chan di Kushiro, kota asal Nanami dan lainnya. Take dan teman-teman SMA diundang semua. Ternyata mempelai prianya adalah sahabat Take dan Yano sejak SMP. Dulu pernah bertemu Nanami di festival kelas waktu kelas Nanami nyanyi paduan suara itu.


Dalam acara resepsi itu mereka (teman-teman Sma berkumpul semua) Take n gang dan Nanami dgn Gangnya. Saat mereka masih bercakap-cakap tiba-tiba Nanami berkata “Yano benar-benar tidak datang ya? Sungguh berhati dingin” canda Nanami dengan tersenyum. nada suaranya Nanami sudah normal, kayak tidak ada beban menyebut nama Yano itu. Take dan teman-teman tersenyum mendengarnya “lihatlah.. kau baru saja mengingat tentangnya. baguslah klo begitu.” goda Take

“aku dengar pagar sekolahan akan dibongkar” kata temannya
“benarkah..?”
“iya..”
merekapun sepakat mampir ke sekolahan SMAnya. “woahhh.. tidak berubah sedikitpun ya..” “padahal sudah lama sekali! Sudah berapa lama ya?”

Merekapun bermain-main di halaman sekolahan.
Nanami dan Take berjalan-jalan berdua. “ aku dengar Yamamoto sekarang di Sapporo.”

“apa?” (Sapporo kan dekat dengan Kushiro sebenarnya. )

“yuri menghubungiku. Dia sekarang belajar menjadi baker (pembuat roti). Dia sudah jadi kuat. Sepertinya Moto meninggalkan rumah (tidak serumah dengan Yuri).”

Nanami berkata enteng “syukurlah..” Take menoleh pada nanami ‘kau tak terkejut? Apa kau sudah melupakannya?”

Nanami terdiam dan kemudian menjawab “perasaanku tidak akan berubah, apapun yang terjadi. Hanya saja..” kata-kata terpotong oleh kata-kata Take melanjutkan apa yang akan dikatakn Nanami
“.....pasti ada alasan dia tidak ada disini ya?” mereka saling berpandangan dan tersenyum.

“sepertinya aku ingin jalan-jalan sebentar” gumam nanami menatap sekolahannya.

“apa mau aku temani?” tanya Take. Nanami menggeleng “bukankah sudah ada yang menunggumu dirumah?”goda Nanami.
Take tersadar dan tersenyum “oh iya..”
“kau harus mengajaknya jalan-jalan keliling Kushiro,”
“ okey..” jawab Take pelan tersenyum.


Take pulang kerumahnya, disana ia melihat Akiko, Ayaka dan seorang anak kecil (sepertinya anak Ayaka) sedang bercanda. Saat ia datang semua menoleh padanya dan Akiko menyambutnya ramah. Take ternyata sudah berkencan dengan Akiko (pasangan yang serasi, sama-sama baiknya).




Nanami melangkah menyusuri lorong sekolahannya. Ia melewati loker ganti sepatu. Ia membayangkan bayangan masa-masa SMAnya. Ia membayangkan Yano dengan baju olahraganya berlari dilorong itu.



“saat itu, kami pernah ada disini.
Dan kemudian terbawa oleh kehangatannya, kami melangkah ke masa depan.
Mengatasi kekuatiran kami dan ketidak pastian, kami menunggu hari esok. “



“saat itu, kami terus mengulang kesalahan dan kekeliruan.
Meski begitu kami terus berlari, percaya pada keabadian”


Nanami melangkah memasuki ruang kelasnya. (ingatkan kejadian ini.. ini adalah kejadian Bokura Ga Ita = Zenpen – part 1 bagian awal). Nanami melangkah ke meja Yano dan ke mejanya, ia teringat kenangannya dulu saat bersama Yano.


“suatu hari, ketika kami tiba-tiba terhenti,
bagi kami yang sekarang lebih mengerti bahwa tak ada sesuatu yang abadi,
masa lalu pribadi kami nanti akan menjadikan kami orang-orang yang bersinar terang dikemudian hari. Itu benar, karena itu hanya ada satu jawaban...”

Nanami membuka buku diary-nya. Ia membaca lembar demi lembar diarynya kemasa-masa indahnya bersama Yano. Ia masih terbayang kejadian itu semua. Nanamipun menutup buku diarynya.






Nanami berdiri diatas atap sekolahannya, Ia menatap langit nan luas dan agak mendung sambil menerawang jauh membayangkan Yano. ( Bokura Ga Ita = Zenpen – Part 1 )



Kata hati Nanami :

“dibawah langit yang tak berbatas ini...
"dimanakah kau berada...?

"siapakah yang kau temui hari ini...?
"apakah yang sedang kau bicarakan...?
"kemana kau pergi...?
"Kapan terakhir kau memikirkanku...?”
“siapakah orang yang kau cintai...?”



“TAKA..HASHI..!”
Seru sebuah suara yang amat sangat dikenalnya membuyarkan lamunan Nanami. Nanami segera menoleh, ia melihat bayangan Yano dengan seragam olahraga SMAnya berdiri menatapnya dengan tersenyum lebar
“akhirnya aku menemukanmu”kata Yano 
“Yano..”



Nanami tak percaya antara kenyataan atau itu hanya bayangan. Karena Nanami melihat bayangan Yano didepannya yang masih memakai seragam SMA. Keraguannya terkikis saat didengarnya kata-katanya lagi.

“aku tak bisa datang tepat waktu diupacara pernikahan Taka-chan.” Kata Yano itu dan tiba-tiba saja bayangan Yano yang 17 tahun itu berubah menjadi sosok Yano yang nyata didepannya. Tersenyum ramah, sangat tampan, rapi dan berpakaian resmi, memakai jas..


Nanami hanya memandang sosok yano itu tanpa berkedip sedikitpun. Masih tak percaya apakah ini nyata. Yano melangkah
“aku tak tau kemana akan kembali... seberat apapun aku mencari, saat kau melupakan sesuatu, kau mungkin tak bisa menemukannaya lagi”.

Yano semakin mendekati nanami yang mematung didepannya. “.. kemudian.. aku menemukan jawaban itu” lanjut Yano menunjukkan buku diary Nanami yang dipegangnya. Ternyata Buku diary Nanami tertinggal dikelasnya tadi dan ditemukan oleh..Yano!.


Yano menatap Nanami dengan pandangan penuh perasaan.

‘sejak pertama kali kita bertemu disini, aku selalu percaya dengan apa yang kau katakan. Itu tidak akan berubah.. “ mata Nanami mulai berkaca-kaca, mulutnya masih tertutup rapat, tak sanggup berbicara. Nanami hanya terus menatap yano.

“Takahashi,... kaulah kompasku (arahku)” Yano mengungkapan perasaannya yang selama ini di coba padamkan.




“Baka(bodoh).. Baka Yano!” isak Nanami menangis dan berlari memeluk Yano erat. Yano tersenyum memeluk Nanami. Nanamipun menangis dipelukan Yano yang hangat.



Nanami terisak dalam pelukan Yano. “sebenarnya aku punya banyak penyesalan. Tapi kau membuatku kuat Yano"

“Takahashi..”

“jadi masa 7 tahun yang berlalu ini. Aku tidak sesali semua yang dulu pernah aku sesali."


Yano melepaskan pelukannya dan menatap mata Nanami. Dengan keyakinanya Yano berkata “aku akan membuat kau bahagia mulai sekarang.” Nanami mencari kesungguhan dimata Yano dan ia tau Yano bersungguh-sungguh. Nanami tersenyum bahagia. “ayo kita buat masa depan yang tidak akan hilang jadi masa lalu..” Nanami mengangguk terharu.

“mulai saat ini.. kita akan terus bersama..?” Nanami mengangguk tanpa ragu lagi “tentu..” bisik nanami lembut. Mereka berpandangan mata dan kemudian Yano mencium Nanami hangat penuh kerinduan.....


Satu jawaban yang dimaksud Yano dan membuatnya yakin klo compasnya(arahnya) adalah Nanami, saat Yano menemukan buku harian Nanami yang tertinggal dikelas tadi dan Yano membaca tulisan diary yang baru ditulis Nanami.

Dibawah kaki mereka berdua, buku harian Nanami terbuka di tulisan yang barusan ditulis Nanami dikelas tadi..“bahkan sampai hari ini pun, aku masih mencarimu”




*****TAMAT*****








NB : akhirnya selesai sudah Bokura Ga Ita live action (movie).. bagi yang blom cukup umur.. gomen sdh menampilkan foto2 yang tidak layak diliat.. tapi berhubung yang nulis suka adegan kiss-nya.. yah.. dimaklumi saja klo gambarnya ditampilin disini yakk... hihihi.. arigatou sdh membaca. 



Minggu, 11 November 2012

Sinopsis Bokura Ga Ita = Kouhei - Part 4


Nanami baru pulang dari meeting dengan customernya, saat didalam Taxi ia melamun teringat percakapannya dengan Akiko.


“apa kau benar-benar baik-baik saja dengan tidak ingin bertemu dengannya?” Tanya Akiko “... Yano tidak terkejut sama sekali klo Takeuchi-kun dan kau berkencan. Dia bilang klo itu yang diinginkannya. apakah itu juga harapannya klo kita saling bertemu? Tidakkan..? kitakan bertemu karena kebetulan. Aku bertemu dengan Yano juga kebetulan. Apakah ini yang disebut “takdir”

Nanami memikirkan itu semua sampai larut malam dikantornya.


Nanami akhirnya berbekal alamat perusahaan dimana Yano bekerja, pergi mencari Yano dikantornya,


Ditempat yang lain, Take mencari Yano dirumahnya. Dan saat seseorang membuka pintu apartemen, Take terkejut karena yang membuka pintu adalah Yuri.

“dimana dia?” tanya Take kesal, ia tak menyangka Yano berhubungan dengan Yuri dan melepaskan Nanami.

“kau tidak bertanya kabarku meski kita tak berjumpa lama? Tentu saja, kau kan membenciku.”

Take dipersilahkan masuk dan duduk menunggu Yano. Take memandang sekeliling rumah Yano. Yuri datang membawa minuman untuknya. Dengan ketus Take bertanya “apa kau tidur dengannya?”

Yuri grogi dan balik bertanya “apa? Sekarang kau mengintrograsiku?” tentu saja.. karena kalian berdua..” Take mencoba menahan suaranya yang meninggi “.. aku hanya tak mengerti.. dia bilang didepanku klo dia akan meninggalkan semuanya. Masa lalunya, kenangannya, teman-teman, aku dan Takahashi!” suara Take meninggi lagi tidak terima dengan adanya Yuri disisi Yano. Ia menunduk dan menghela nafas panjang.”tapi... kenapa dia memilihmu?” saking emosinya tangan Take membuang gelas tehnya. Take terkejut dengan ulahnya sendiri. Ia membantu Yuri membersihkan tumpahan tehnya. “maaf aku tak bermaksud seperti ini” sesal Take.

“dia datang berkunjung..” ungkap Yuri “..dia selalu pergi setiap tahun. Aku rasa dia akan datang dalam 2 hari..”

“thanks.. apapun yang terjadi , aku harus bertemu dengannya. Pertama-tama untuk tau apa dia baik-baik saja. Itu yang paling penting. Dan kemudian baru memukulnya.” Kata Take tertunduk.

Yuri menatap Take dan tersenyum. “itu benar-benar seperti dirimu Takeuchi-kun.” Take tak menjawab dan bersiap-siap pamit.

“hanya untuk menjelaskan.. sebenarnya aku tak membencimu. Aku tak tau banyak tentangmu untuk aku bisa membencimu.” Take berjalan mendekati pintu.

“takeuchi-kun, aku akan memberitahumu sebuah rahasia.. kau tau, bukan dia yang memilihku, dia membenciku. Dia membenciku tapi dia tak bisa meninggalkanku sendiri. Dia membenciku dan kemudian kadang-kadang dia mencintaiku. 4 tahun yang lalu, aku bertemu Yano dalam keadaan ingin bunuh diri. Aku pikir jika aku mati, aku mungkin akan meninggalkan sebuah kenangan.”

Flash back saat dibar waktu itu.

“tidak ada yang menginginkanku... “bye.. bye..”

“aku yakin saat itu dia ingat kakakku yang mati dn ibunya dan dia menggenggam tanganku. Jika Takahashi begitu penting bagimu jangan biarkan ia bertemu dengannya. Dia hanya akan terluka. Karena dia hanya akan terus berbohong padanya, tentang yang sebenarnya terjadi”




Dikantor Yano, Nanami diberitahu klo Nagakura, nama Yano sekarang sedang cuti sehari untuk pergi ke Sapporo. Dan kemungkinan dia di bandara sekarang ini.

Nanami didalam Taxi mengirim pesan pada Take “aku akan menemui Yano”

“ mungkin aku akan menyesal menemuinya, meski begitu aku ingin tau yang sebenarnya arti 6 tahun ini (perpisahan mereka) dan perasaannya.”

Nanami berlari-lari di bandara mencari sosok Yano diantara kerumunan orang yang antri dan yang berlalu lalang, tapi Ia tak menemukannya. Ia melihat jam tangannya memastikan ia blom terlambat dan ia berlari-lari mencari Yano lagi.


Dan akhirnya ia menemukan sosok yang sangat dikenalinya itu meski Yano ada agak jauh didepannya.

Nanami menghentikan langkahnya dan menatap punggung Yano yang membelakanginya untuk memasikan klo ia tidak salah orang.


Nanami berlari lagi ke arah Yano “Yano..!” teriak Nanami memanggil Yano.

Yano yang dipanggil pun terkejut mengenali suara yang sangat dirindukan itu. Ia tak berani segera menoleh. Yano mengatur emosinya untuk menyembunyikan perasaannya dihadapan Nanami .





Akhirnya ia menoleh ke Nanami dengan wajah biasa saja dan senyum yang dipaksakan dibibirnya itu (topeng senyuman pdhl hatinya pasti sakit).

“ ohhh... Takahashi-san. Sudah lama ya tak bertemu. Bagaiman kabarmu?” Kata Yano mendekati Nanami dan mengelus rambut Nanami. Nanami hanya menatap Yano dengan mata yang berkaca kaca. “itu seharusnya kata-kataku.. baka(bodoh)!” kata Nanami dan menunduk menutupi airmatanya yang berlinang.



Saat Nanami tertunduk, wajah Yano yang tersenyum berubah ke perasaannya yang sebenarnya, ia kelihatan sedih, & kangen berat, menatap Nanami yang tertunduk itu lama.


Mereka duduk berdua di kursi bandara.
"gomen ne... aku menemukan seorang gadis yang aku suka. Aku sudah hidup bersamanya selama ini. Aku tak punya keberanian untuk mengatakan kepadamu hal itu” Yano akan terus berbohong seperti yang diomongkah Yuri ke Take.

“begitu ya..” kata Nanami

“aku tak bisa menepati janjiku..” ” maaf..”potong Nanami. Yano heran kenapa Nanami minta maaf padanya, ia menatap Nanami penuh tanya. “ehhh?

“maaf aku tidak ada bersamamu saat kau sangat membutuhkanku. Itu adalah penyesalan terbesarku.. “ kata Nanami

Yano terus menatap Nanami “kenapa kau meminta maaf? Kau tidak bersalah., Tak sedikitpun. Pasti tidak” lirih suara Yano mengatakannya.


Pengumuman penerbangan Sapporo membuat keduanya terdiam, saatnya mereka berpisah. Yano melangkah dan memikirkan semua yang terjadi. Syndrome kepanikan Yano muncul, dadanya sesak dan ia tak bisa bernafas. Yano terduduk dilantai memegangi dadanya. Petugas bandara berdatangan membantunya. “tuan apa kau baik-baik saja?”

“iya aku baik-baik saja” jawab Yano mencoba bernafas.



Kata hati Nanami“kenangan masih hidup bersamaku tak terhalang, tak berubah. Selalu.”


***


Take dan Nanami dinner berdua disebuah restorant merayakan ulang tahu Nanami. Mereka bersulang minumam

“aku tak tau akan bagaimana sekarang, setelah kita bertemu dengan dia. Tapi aku merasa aku sudah menunggu ini terlalu lama” gumam Take pelan “sejujurnya, aku tidak pernah berpikir klo akan datang hari dimana aku akan mengalahkannya. Tapi sekarang ada satu hal yang aku yakin aku akan mengalahkannya, adalah masa 6 tahun yang kau dan aku bangun bersama.”

Perlahan Take mengambil kotak cincin yang sudah dipersiapkannya. Ia menaruh kotak cincin ditengah meja mereka memberikannya pada Nanami.

Nanami terkejut melihatnya tapi kemudian ia mengambil kotak itu. Ia membuka kotak itu dan lebih terkejut lagi setelah melihat isinya cincin. Ia langsung melihat Take bertanya maksud Take.

Take menatap Nanami tajam dengan penuh kepercayaan diri “aku berjanji aku akan menghabiskan seluruh hidupku mencintaimu dan menjagamu. Berbagilah kehidupan denganku mulai sekarang sampai selamanya.”

Nanami menunduk menatap cincin itu “ kau tau, ketika aku sadar, aku telah berlari dengan segenap kekuatanku untuk aku dapat bertemu Yano. Aku benar-benar berjuang untuk itu. Kau bilang kau akan mengambil semua beban dariku.. kau tau.. sekarang aku tau aku tidak akan pernah berniat untuk membiarkan beban itu pergi.” Nanami menutup lagi cincin itu dan menaruhnya dimeja lagi. “oleh karena itu, maafkan aku.. aku tidak bisa menerima ini” Take kecewa “tapi dia tidak akan pernah kembali padamu.”

“aku akan membawa bebanku sendiri dan hidup dengan hidupku sendiri. Apapun masa depan akan menuntunku meski jalan kita tidak bisa terseberangi. Aku tidak akan menangis lagi” Kata Nanami penuh kepercayaan diri.



Yano mengunjungi makam ibunya bersama ibu tirinya. Setiap tahun ia pulang untuk mngunjungi mereka berdua ibu kandungnya dan ibu tirinya.

Saat pulang ke rumah, take sudah menunggunya dijembatan. Yano menertawakan Take “ aku sudah cukup dengan reuni penuh airmata ini”

“aku lega kau masih seperti dulu..” ujar Take “.lalu kenapa Yamamoto? Kenapa mereka dan tidak Takahashi?”

“Take.. jika ada orang tenggelam didepanmu, jika itu kau, siapa yang akan kau selamatkan?”

“apa?”

“cintamu, keluargamu... aku akan menyelamatkan orang yang tidak bisa berenang.

Take menghela nafas “ apa maksudmu itu? Terus bagaimana kamu menjelaskan kenyataan kau menyelamatkan Yamamoto dan ibunya?”

“aku tidak menyelamatkan mereka. Mereka lah yang telah menyelamatkanku.” Yano menceritakan apa yang dialaminya setelah kematian ibunya.

“panik? Kau?” Take terkejut mengetahui Yano menderita kepanikan.

“setelah ibuku meninggal, aku mulai merasa susah bernafas dan aku tidak bisa naik kereta lagi (Phobia). Aku akan muntah meski tidak ada yang bisa dimuntahkan. Aku nyaris putus asa tapi ibu Nagakura (Michiko) membuatku dibutuhkan lagi. Dan juga Yamamoto mengikutiku disini dan juga ibunya mengikutinya kesini, kemudian dia koma. Dia sekarang dalam kondisi parah tak sadarkan diri. Keduanya tergantung padaku sekarang ini. Tapi aku selamat karena hal itu (merasa dibutuhkan orang lagi. Mereka saling membantu sebagai keluarga dan mereka membantuku juga.” Yao menatap take yang tertunduk “lalu bagaimana dengan kau? Apa kau sudah melamar Takahashi?”

Take mengambil cincin yang ditolak nanami dari kantung celananya dan memberikannya pada Yano. “apa kau yang mau lakukan (melamar Nanami)?”

“apa ini ?” tanya Yano

“dia mengembalikan padaku” jawab Take

Yano terkejut dan emosi “apa yang sudah kau lakukan. Aku sudah bilang agar kau menjaga Takahashi kan? Itu sudah 4 tahun sejak itu. 4 tahun sialan.” Seru Yano marah. Marahnya Yano itu karena dia sudah menyerahkan Nanami pada Take 4 tahun yang lalu kenapa Take tidak bisa mendapatkan Nanami (alias menikahi Nanami) sampai sekarang.

“lalu bagaimana dengan kau? Apa yang sudah kau lakukan?” tanya Take balik pada Yano. Kemudian Take melemparnya ke sungai dibawah jembatan itu. Ihhhh.. sayang banget.. dijual aja.. or dikasih ke aku pasti kuterima kok Take... hihihi.

“heyyy..” seru Yano terkejut melihatnya.

Take ketawa ngakak tapi sedih (nah loh... binggung ga). Yano marah dan mencengkram baju Take

“apa yang kau ketawakan? Apa yang sudah kau lakukan?” (Yano sebenarnya kuatir, klo Take sudah menyerah mendapatkan Nanami seperti ini, terus nasib Nanami bagaimana? Itu sebenarnya yang dikuatirkan Yano).

“Takahashi juga tenggelam.. aku melakukan apa yang kau lakukan” seru Take melepaskan pegangan tangan yano dijasnya. “.. seperti membuang cincin mahal ke dalam sungai, kau meninggalkannya!!!..” seru Take emosi dan langsung melayangkan pukulan ke wajah Yano.. ouchhh.. “bisakah kau melihat klo Takahashi juga tenggelam???



Nanami menunggu kereta yang akan dinaikinya

“yang sebenarnya, aku telah menunggu... tangan yang akan menggenggam tanganku yang bergetar. Sentuhan lembut perpisahan dan ucapan sayounara”



Dirumahnya saat Yano akan pergi, Yuri pamit pada Yano “ kata mereka ibuku tak punya waktu lagi. Aku akan menginap disana” Ucapnya lirih penuh kesedihan.

“baiklah.. aku akan kesana nanti” jawab Yano.

Yuri menggeleng untuk Yano tidak perlu kesana “ siapapun yang datang dan bicara padanya, dia tidak akan tau juga”

“dia tau.. orang yang dalam kondisi koma dapat mendengar. Lagian jika kau tidak mengatakan apa yang kau ingin dia tau, kau akan menyesalinya nanti. Penyesalan itu tidak menyenangkan.” Kata yano dan pergi meninggalkan yuri.


Pulang kerja Nanami terkejut karena Yano sudah menunggunya didepan kantor.

“yano?”

“ayo kita makan bakpao hangat!” seru Yano tersenyum.

Yano menggenggam tangan Nanami erat dan menariknya pergi.


‘Yano?” Nanami masih tak mengerti dengan kedatangan Yano yang tiba-tiba.

“aku akan mengajakmu keliling Tokyo.”

“apa?”

“itu adalah mimpiku.. orang pertama yang ingin aku ajak berkeliling Tokyo adalah Takahashi. Tahun pertama kuliah, aku akan menjemputmu saat kau terbang dari Kushiro(kota Nanami) to Haneda (bandara Tokyo). Dan kemudian ke Shibuya, Harajuku, taman Yoyogi, bukit Omohiru dan Ponhiru. Kita akan berpegangan tangan selama aku mengajakmu keliling Tokyo.”

Yano benar-benar memenuhi keinginnannya ia mengajak Nanami ketempat yang disebutkannya itu. Mereka bergandengan tangan terus, tertawa-tawa bahagia serasa waktu mereka pacaran dulu.

“ohh Omohiru dan Ponhiru? Kenapa kau menyebutknya begitu?”

“oh itu.. sebutanku untuk tempat itu”

“kenapa?” Yano hanya tersenyum.

“hey Takahashi, aku tau ini terlambat, tapi ayo kita buat beberapa kenangan,... " ucap Yano menatap nanami, "...terakhir kita.”

“terakhir?”

“ya.. untuk yang terakhir” sahut Yano.


Nanami beberapa kali mencuri pandang Yano yang disebelahnya. Mereka berjalan-jalan lama sampai malam menjelang dan kota sudah penuh dengan lampu gemerlap.



“Aku dengar dari Takeuchi-kun. Aku sudah dengar smuanya.” Kata nanami pelan.

“maaf sudah berbohong padamu dibandara.”

Nanami menggeleng “tidak apa-apa. Itu bukan kebohongan. Tidak satupun kebohongan. Kau tak pernah berbohong padaku



Sudah saatnya mereka berpisah. Mereka berhadap-hadapan sangat dekat. Yano mengambil syal yang menggantung dibahu Nanami dan meletakannya dikepala Nanami “kau akan kena dingin klo begini “



Yano gugup, tak tau akan melakukan apa untuk perpisahan terakhir mereka. Yano tertunduk dan diam-diam airmata menggenang dimatanya. “tidak kah kau gemetar?” suara Yano bergetar

Nanami juga tertunduk dan berbicara lirih “aku akan pulang ke rumah”


Yano akhirnya berani melihat Nanami, ia mendekatkan kepalanya ke kepala Nanami dan menyentuhkan kepala mereka masing-masing. Dengan airmata yang mulai menetes dimatanya, Yano berbisik lirih “kau harus tetap maju... terus maju kedepan. Tinggalkan aku.. pergilah..”

Nanami menangis mendengarnya. “aku akan baik-baik saja.. kau juga akan baik-baik saja.”



Yano menghela nafas menahan perasaannya. Ia melepaskan kepalanya yang menempel dikepala nanami pelan dan tertunduk. Nanami berbalik dan meninggalkan Yano yang masih tertunduk itu. Nanami semakin jauh.

Yano menoleh ke Nanami yang pergi dengan kesedihannya. “pergi... teruslah pergi” gumam Yano lirih seperti meyakinkan dirinya juga.


Setelah melangkah agak jauh Nanami berbalik. Tersenyum pada Yano dan berteriak “ganbatte!”

Yano menatap Nanami “Ganbatte” ulang nanami “kau pasti akan baik-baik saja.”

Nanami berbalik pergi, disepanjang jalan Nanami tak henti-hentinya menangis.






BERSAMBUNG.... FINAL BOKURA GA ITA !!


NB : hiks.. sedih banget nonton perpisahan terakhir mereka ini.. yang nonton pasti banjir airmata.. hiks..