Sabtu, 23 Juli 2016

Seisei Suruhodo Aishiteru - Ep. 1~ Part 1



Setiap orang di dunia ini memiliki 'indra keenam’… itu yang selalu ibu katakan padaku.
Tanpa alasan… saat dimana  hati kita berdebar…. Bisa dikatakan.. inilah indra keenam itu , yang ada sebagai pernyataan kebahagiaan kita… Tanpa keraguan… disaat itu juga.
Pada hari hari itu… pada saat moment itu tiba.. disaat aku bertemu dengan pria takdirku..  
Aku penasaran seberapa banyakkah hatiku akan berpacu?
Moment yang ditunggu-tunggu di mana aku bahkan susah bernapas ...
Aku selalu merindukan saat itu.

Mia duduk di sebuah taman yang sangat indah dan luas. Rambutnya dibiarkan tergerai membingkai wajah cantiknya. Pandangan matanya tak lepas dari cincin pertunangannya yang ada didepannya. Ia teringat saat tunangannya, Yota yamashita mengajaknya menikah. Entah kenapa ia jadi ragu menjawab ajakan menikah tunangannya itu. Terlalu banyak yang perlu dipertimbangkannya .



Seorang pria tampan berjalan melewati kursi dimana Mia duduk. Pria itu berhenti di belakang tempat duduk Mia. Pria itu melihat seorang anak gadis yang berjalan membawa balon dan tiba-tiba terjatuh membuat balon yang dibawah anak itu terbang. Pria itu segera berlari untuk mengambil balon itu tanpa melihat sekelilingnya. Dan tiba-tiba ia menabrak seseorang yang sedang duduk didepannya.dan ia terjatuh ke lantai.

“ahh ... sakit ... ~~~!” gumam pria itu dan bangkit berdiri.

Mia kesakitan saat seseorang menabrak bagian belakang tubuhnya dan membuat tubuhnya terbentur meja yang ada didepannya.Ia melihat pria yang terjatuh disampingnya itu.

“ Apa yang kamu lakukan?” gerutu Mia saat melihat pria itu tidak meminta maaf padanya tapi justru mendekati seorang gadis kecil yang sedang terjatuh
Pria itu menatap Mia dengan pandangan mata bersalah tapi ia teringat juga balon yang sudah terbang sangat tinggi dilangit. Pria itu menoleh pada gadis kecil yang kehilangan balon tadi.

“Maafkan aku… aku hampir saja mendapatkan balonmu” kata pria itu pada gadis kecil yang sedang berusaha berdiri.

Gadis itu menangis dan menunjuk pada Mia “ini karena kakak itu yang menghalangi jalanmu! Itu salahnya”

“aku?!” gumam Mia heran melihat gadis kecil yang menangis itu.

Seorang wanita muda mendekati gadis kecil itu.

“MAMA ~~~!” rengek gadis itu pada ibunya.
“Maafkan aku! Ayo pergi!” ajak wanita muda itu dan membawa gadis kecil yang menangis itu pergi.
Mia dan pria itu memperhatikan keduanya pergi.




Pria tampan itu berbalik dan mulai memperhatikan Mia.

“Apakah Anda baik-baik saja?” tanyanya
“Y-Ya ...” jawab Mia memperhatikan pria tampan yang ada didepannya. Mia lalu teringat kegiatannya hari ini dan ia berbalik ke mejanya lagi.
“Aku harus pergi.” Mia mengambil kotak perhiasan tempat cincinnya untuk dimasukkan ke dalam tasnya tapi alangkah terkejutnya Mia saat tidak menemukan cincinnya disana. 
“Tidak mungkin! Ini tidak di sini!” ucap Mia panic mencari cincin pertunanganya.

Pria itu melihat kepanikan Mia “apa yang hilang?”

“cincin pertunanganku!” jawab Mia

Pria itu merasa bersalah karena tadi ialah yang sudah menabrak tubuh Mia. Ia lalu membantu mencari cincin Mia disekitar tempat Mia duduk.

“Mengapa tidak di sini?” gumam Mia terus mencari cincinnya.Mia menoleh pada pria yang sedang mencari cincinnya itu.

“Saya minta maaf karena sudah membuat anda ikut mencarinya” kata Mia pada Pria itu.

“Ini salahku juga karena sudah menabrak Anda.” Jawab pria itu.

“Ini buruk. Apa yang harus  aku lakukan?” gumam Mia

“kau hanya tinggal mengatakan apa yang terjadi sejujurnya pada kekasihmu”

“Saya pasti akan menemukannya.” Kata Mia bersikukuh mencari cincinnya.
“Jika orang-orang di tempat kerja saya tahu tentang ini, mereka pasti menatapku dengan padanangan dingin”

“Mengapa?” Tanya pria itu penasaran dengan ucapan Mia. Apa hubungan kehilangan cincin dengan pandangan dingin teman sekerja Mia.

“Aku bekerja di "Tiffany"... Tak terbayangkan  seorang profesional perhiasan kehilangan cincinnya.dan aku tak bisa datang tepat waktu untuk menghadri rapatku” Mia tambah panic melihat jam ditangannya.

“mengapa tak berhenti mencarinnya saja” kata Pria itu melihat Mia panic untuk datang ke rapat juga.

Mia menoleh kesal pada pria itu. Ia tak paham maksud pria itu.

“jika mencari sesuatu dan berhenti melakukannya, maka mungkin kau nanti akan menemukannya”

“tak apa.. aku akan mencarinya sendiri. Terima kasih banyak” kata Mia berpikir Pria itu sudah tak mau mencari cincinnya.

“bukannya Anda tidak punya waktu? Apakah tak masalah klo Anda datang terlambat dalam pertemuan Anda?” Tanya pria itu

“tolong tinggalkan saya.. Saya ingin mengembalikannya dengan baik padanya.”

“Kembalikan?”
“Ya. Saya berencana untuk menolak ajakannya menikah”


(Tackey sekilas mirip Ariel.. tapi lebih gantengan Tackeylah.. hahah)

Pria itu tersenyum tipis “ohhh… jadi sebenarnya kau tak perlu cincin itu”
“aku tidak memerlukannya?”

“ini akan mengganggu kekasihmu juga..itu  tidak begitu berarti kau akan mengembalikan cincin itu atau tidak karena kau sudah berencana menolaknya juga.” Pria itu menjelaskan pada Mia dan mendekatinya.

“bukan seperti itu! Perasaan tertinggal didalam cincin!”
“perasaan?”

“perasaan seorang Desainer, pengrajin, penjual.dan bahkan perasaan pria saat ia memilih cincin. Perhiasan  adalah sesuatu  yang menghubungkan perasaan orang. .Itu sebabnya ...Jika kita akan putus maka aku harus mengembalikannya dengan baik” ucap Mia menjelaskan pada Pria itu.

Pria itu terkagum mendengarkan pemikiran Mia yang begitu dalam tentang sebuah perhiasan.

“Mengapa Anda putus dengan dia?”

“karena dia menertawakanku… Ketika saya mengatakan bahwa pekerjaan yang saya miliki sekarang  adalah panggilan bakat saya ... Dia menertawakanku... Meskipun dia  seharusnya mencintaiku ... jadi aku merasa dia bukan orangnya.”

“Tak masalah klo kau memiliki keraguan..  pernikahan bukan sesuatu yang harus kau lakukan hanya karena keinginan mendadak. Jika kau tidak yakin dengan dirimu sendiri lebih baik kau berhenti. Ini metode yang dulu pernah diajarkan ayahku. Lakukan ini jika kau ragu ...” Pria itu menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya lalu ia menutup matanya juga.

Mia tanpa banyak bicara mengikuti gerakan pria itu. “Seperti ini?”

“kau  tidak akan mendengarkan suara siapa pun. Kau bahkan tidak akan melihat wajah siapa pun. Kau hanya mendengarkan suara hatimu sendiri ...dan kau tetap jadi dirimu sendiri.. masa depan yang ingin kau liat..”

Mia melakukan gerakan itu dan mendengarkan suara hatinya. Apa yang diinginkan dimasa depannya. Saat Mia membuka matanya. Pria itu sudah berdiri didepannya, sedang menatapnya.

“Apa yang kau lihat?” Tanya pria itu. Mia hanya terdiam saja. Mereka jadi salah tingkah saat pandangan mata mereka bertemu begitu lama. 



Pria itu berbalik dan akan melangkahkan kakinya saat sebuah kilauan tertangkap matanya dari ujung celananya yang tertekuk. Ia membungkuk dan melihat ada cincin Mia tersangkut disana.

“ohh.. Lihat? Apa ku bilang… jika kau berhenti mencarinya maka kau akan menemukan sendiri!.”

Mia dengan kesal mengambil cincin dari tangan pria itu “ apa kau tak punya kalimat lain selain kalimat itu?seperti ‘maaf ini salahku atau maafkan aku”

“ini tak  bisa diperdebatkan karena cincin itu jatuh ke celanaku sendiri” kata pria itu tidak mau disalahkan.
“apa? Apakah ini salahku meski kaulah orang yang  menabrakku?” seru Mia marah.
“itu tak  bisa dihindarkan”

Mia melirik sini pria itu dan berjalan ke mejanya lagi, Ia menaruh cincin ke kotak cincinnya dan memasukkannya ke dalam tas. Ia bergegas mengemasi barang-barangnya.”aku akan terlambat meeting semua gara-gara kamu.”

Mia melangkah cepat meninggalkan pria itu.

Pria itu menghela nafas panjang “ wanita yang aneh”gumamnya



 Mia tinggal di apartemen bersama kedua sahabatnya. Masaki Akari seorang editor buku, dan Miyama Chiaki seorang model.

Mia belum beranjak dari tempat tidurnya meski waker juga bordering. Akari masuk kedalam kamar sahabatnya itu dan mencoba membangunkan Mia.
“Mia, manager akan marah padamu lagi”
Akari membuka tabir kamar Mia dan membuat sinar matahari masuk menembus kaca jendela kamar Mia. Mia membuka mata melihat kamarnya yang berubah terang benderang. Mia segera bangun dan bersiap-siap pergi bekerja.

“sudah 3 tahun aku tinggal bersama dengan sahabatku SMA."

“tadaima..Pagi Akari!” sapa Chiaki sang model yang baru pulang ke rumah mereka.
“okaeri” jawab Akari
“aku minum terlalu banyak!” kata chiaki merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu mereka.
“Pagi Chiaki.” Sapa Mia.

“pekerjaan dan gaya hidup kami mungkin berbeda ... Tapi kami punya zona jarak nyaman yaitu untuk Kami tidak ikut campur dalam setiap bisnis orang lain”

“By the way ... hari ini upacara penganugrahanya kan?” Tanya Mia yang tiba-tiba teringat acara nanti malam.
“oy iya.. aku sudah memberikanmu undangannya kan” sahut akari.

“ohh Ya.. Akan ada pria-pria tampan kan?” Tanya chiaki yang langsung terbangun begitu mendengar pembicaraan itu.

“Chiaki karena itu upacara penganugrahan yang sangat penting jadi kamu jangan ‘main-main’ ya…” kata akari memperingatkan Chiaki yang suka gerilya mencari pria single, tampan dan kaya.

“aku sudah nggak sabar pengen bertemu dengan penulis yang disukai Akari” Goda Mia pada Akari.
“aku juga penasaran se cute apakah dia” sahut Chiaki ikut menggoda Akari.

“aku menyukai hasil kerjanya, jadi tolong jangan mengatakan hal-hal yang aneh!” gerutu Akari pada kedua sahabatnya itu.

Mia mengambil jus yang barusan dibuat Akari. Ia meminumnya dan pamit pergi kerja.

“aku pergi dulu”
“hati-hati” sahut Akari.

“aku Kuhira Mia  (25tahun) bekerja di Tifany &co. saat aku SMA aku pergi ke New York bersama dengan ibuku. Dan aku mulai suka Tiffany. Dan aku bilang pada diriku sendiri ‘aku ingin bekerja di PR Tiffany’. Impianku menjadi kenyataan 3 tahun yang lalu. Sejak saat itulah, aku dikelilingi dengan perhiasan yang aku sukai dan aku bekerja dengan banyak professional yang aku kagumi. Itu benar-benar seperti menyenangkan.Aku melewati hari-hari dengan senang.”







Manager Mukai Masayo PR memanggil Mia untuk ke kantornya. Saat Mia kesana Manager menunjukkan proposal yang sudah diajukan Mia kepadanya.
“ Apa ini?”
“Ini pameran baru berikutnya ..” jawab Mia.
Manager langsung memasukkan proposal Mia ke dalam mesin mesin pemotong kertas.

“jangan membuang waktuku dengan proyek tingkat rendah.itu saja” kata managernya dengan dingin mengusir Mia pergi dengan gerakan tangannya.

Mia kembali ke mejanya. Teman-temannya langsung menyerbunya dengan pertanyaan.
“Apakah kau baik-baik saja Kurihara?” Tanya Endo Takako temannya
“Ya.”

“ manager marah-marah terus hari ini ...Dia begitu menakutkan, bisa menyusut rentang hidupku” canda temannya itu.

“mungkin karena ia ditinggalkan kekasihnya berselingkuh. “ bisik Saeki kasumi  
“Perselingkuhan?!” Tanya Mia
“kau tidak tahu?” sahut Takako

“ Sepertinya pasangannya adalah orang penting di dunia ekonomi. Dia mendapatkan pekerjaan dan promosi dari koneksi kekasihnya.”

“benarkah manager seperti itu.. tak bisa dipercaya” ucap Mia setengah tidak percaya mendengar gossip itu.

“aku ingin punya kekasih seperti itu juga” khayal Takako.
“hey hentikan membahas tentang lelucon perselingkuhan” tegur Mia

Takako tertawa melihat Mia yang begitu serius “kau terlalu serius senpai”



“Selamat pagi.” Sapa Takada Yoshiko staf PR pria lainnya.
“Selamat pagi”
Takada melihat perhiasan yang dipakai  Mia  “Itu cantik. Dari mana  kau membelinya?”

“oh kau melihatnya.. aku membelunya di toko desainer muda yang kau informasikan, Takada-san.” Jawab Mia..

“baguskan”

‘kau tumben hari ini memakai dasi, Takada-san”
“kita Kedatangan Wakil Presiden baru.”

“Wakil Presiden?”
“iya”sahut saeki. “dia keponakan presiden (pimpinan perusahaan) dan dia seorang  elit yang baru pulang dari  Amerika “

“Dia seorang yang sangat penuh kemampuan yang mengambil gelar MBA di universitas Columbia.” Sahut takako

“Tapi ada rumor bahwa dia sebenarnya amatir dibidang  perhiasan.” Kata saeki

“seperti akan merepotkan ya” ucap Mia sambil mendorong kursinya kebelakang.



“ADUH!”keluh kesakitan seseorang saat kursi Mia menabrak seseorang dibelakangnya.
Mia seger berdiri untuk melihat yang terjadi dinbelakang kursinya. Tapi alangkah terkejutnya Mia saat melihat Pria tampan yang kemarin ditemuinya ada disana.

“Mengapa?”gumam Mia kaget pria  itu disana.

Pria itu melihat Mia dengan sinis ““Maaf kalau itu akan merepotkan” ucap Pria itu.
Sepertinya ia mendengar pembicaraan Mia dengan teman-temannya.


“Kami telah menunggu Anda Wakil Presiden.” Sapa manager PR pada Pria itu yang tak lain adalah wakil presiden baru mereka.

“Wakil Presiden?” Mia bertambah kaget mendengarnya.
Pria itu melewati Mia dan berjalan ke depan manager Mukai.

“manager mukai.. mari kita bekerjasama mulai sekarang” kata pria itu.

Manager mukai mengangguk ramah pada pria itu.
“Semua orang perhatian..” seru manager mukai pada anak buahnya. Semua berdiri melihat pada managernya.
“ini wakil presiden yang baru Miyoshi Kairi. Mulai hari ini selama tiga bulan ia akan dilatih di departemen hubungan masyarakat (PR).” Kata manager Mukai memperkenalkan.
“dia keren” bisik-bisik staf PR disana.

“Saya Miyoshi Kairi.Mulai hari ini  saya akan belajar dari public relations. Senang bertemu anda” kata kairi memperkenalkan dirinya.
Semua menyambutnya dengan bertepuk tangan. Mia yang masih terkejut juga terpaksa bertepuk tangan.

“Kurihara..  Aku akan memintamu mengajarkan wakil Presiden semuanya” kata manager mukai pada Mia
“ya” angguk mia ragu.



Mia mulai mengenalkan wakil presiden barunya itu ke lingkungan kerja PR. Mereka pergi ke Toko Tifanny berdua.
“maaf atas apa yang sudah aku katakan” kata Mia  “aku tidak tahu klo anda adalah wakil presiden.maafkan sikap kasarku.” Kata Mia mengejar langkah kairi yang sudah berjalan didepannya. “tunggu aku” Mia mencoba mempercepat langkah kakinya untuk menyusul kairi.

“Kurihara karena Anda bekerja di PR , bisakah kau menjelaskan secara singkat pekerjaan di departemen PR?”

“Saya percaya bahwa pekerjaan PR adalah tentang menyampaikan pesona perusahaan.setiap hari kita melakukan penelitian tentang bagaimana kita menyampaikan itu, sehingga dapat beresonasi di hati semua orang.Dan karena alasan itulah saya berdiri di toko sesering mungkin.” Kata Mia menjelaskan pada kairi.

“oh begitu” gumam kairi memperhatikan customer yang datang ke toko mereka.

“hey..” panggil seorang wanita muda pada mia.
“ya” Mia segera bergegas ke tempat wanita itu.
“ menurut Anda mana yang lebih bagus?” Tanya wanita itu menunjukan kedua kalung yang ia pilih.

Mia memperhatikan kedua kalung itu. “pilihan yang susah”

“saya rasa yang ini yang lebih cocok untuk anda” kata Kairi menyela para wanita yang kebingungan didepannya itu.

“benarkah? Klo begitu aku beli yang ini” kata wanita itu langsung membeli kalung yang disarankan kairi.

“terima kasih banyak” ucap Kairi.

Pelayan toko segera membuatkan nota untuk kalung itu.Kairi dan Mia lalu berjalan pergi.

“mengapa kau merekomendasikan kalung itu? “ Tanya Mia berjalan menyusul kairi.
“karena yang satu itu lebih mahal” jawab kairi asal.

Mia dibuat geleng kepala mendengar jawaban kairi itu.



Mereka lalu pergi ke tempat tujuan selanjutnya.

“Selanjutnya kita akan melanjutkan dengan meeting ke perusahan publikasi Meitis.. Aku akan memperkenalkan Anda kepada manager Editor.” Kata Mia saat mereka berjalan.

“jangan beritahu mereka klo aku Wakil Presiden.” Kata kairi.”Saya ingin melihat suasana kerja mereka yang kesehariannya”

“baik” sahut Mia.

Mereka duduk diruang tunggu sambil Mia kembali menjelaskan pekerjaan seorang PR yang ia lakukan selama ini.
“apapun yang mereka katakan, koneksi pribadi adalah hal penting dalam PR. Aku butuh waktu 3 tahun untuk membangun hubungan kepercayaan” kata Mia

Manager Editor mendatangi meja keduanya. Mia dan kairi segera berdiri menyambutnya.
“manager editor lama tak jumpa” sapa Mia.
“kami sudah menunggu anda wakil presiden Miyoshi” sapa Manager editor pada kairi. Ternyata berita tentang kairi sebagai wakil presiden baru sudah terdengar dimana-mana.

“saat direktur dari perusahaan kami mendengar klo anda akan kesini, mereka memutuskan untuk memberikan salam kepada anda langsung..silahkan kesini” kata manager editor mempersilahkan kairi mengikutinya untuk bertemu dengan direkturnya.

“Mereka sudah tahu bahwa dia adalah Wakil Presiden.” Gumam Mia heran dan berjalan mengikuti mereka.








Mereka lalu kembali ke kantornya. Mia menunjukkan proposal yang sudah dibuatnya dan ditolak manager Mukai pada kairi.

Kairi membaca proposal buatan Mia itu.

“ini adalah proposal untuk pameran yang baru.Saya sudah merevisi  5 kali karena manager belum menerimanya.” Kata Mia menjelaskan. Mia melihat manager datang dan berjalan menuju ke ruangannya. Mia segera mengambil proposal itu dari tangan kairi dan pergi ke managernya.

“aku sudah merevisi proposalnya” kata Mia menyerahkan proposa itu pada managernya.
“kau tak perlu membuatnya lagi. Aku sudah memutuskan untuk mengadopsi perencanaan yang sudah dibuat wakil presiden. Manager mukai lalu menunjukkan  proposal yang sudah dibuat oleh Kairi pada Mia.

Mia melihat proposal yang sudah dibuat oleh kairi dimejanya. Didepannya para wanita dikantornya sedang mengerumuni kairi melihat design ruangan pameran yang dirancang kairi itu.

“Apakah anda benar-benar memikirkannya sendiri?”
“Ya.”
“Benarkah?! Ini sangat menakjubkan! Tempat seperti ini bisa benar-benar nyata.”

Mia menoleh ke Seiki dan teman-teman wanita lainnya yang terus memuji kairi. Mia jadi sedikit kesal melihat mereka.



Malam harinya Mia janjian menghadiri acara award bersama kedua sahabatnya. Chiaki berdiri sendirian karena Mia belum datang dan Akari jadi panitia jadi ia sibuk dengan acara award itu.

Pemenang award itu adalah Kuno Atsushi, seorang penulis muda yang dieditori oleh Akari sahabat Mia.
“hmm.. Jadi itu dia?” gumam chiaki memperhatikan Kuno dari jauh.
Mia berjalan cepat menuju Chiaki “Maaf Chiaki .”

“kau terlambat. Apa terjadi sesuatu?” Tanya chiaki.
“Banyak..” jawab Mia.

Lalu Mia menceritakan semua pada Chiaki.
“Jadi untuk tiga bulan ke depan kau akan berdekatan dengan wakil presidenmu itu ya? Bukankah itu super menyenangkan?” Kata Chiaki

“Ini akan Super stress! Dia membuatku kesal” bantah Mia meminum champagne ditangannya.

“bicara tentang dekat dengan seseorang, dia  juga selalu menempel pada pria itu” kata Chiaki menunjuk pada sahabat mereka, Akari yang sedang berdiri disebelah penulis  Kuno-san.

“oh akari”

“Dia adalah seorang pedagang terkemuka di perusahaan keamanan kan? Dia  bahkan memenangkan Award juga.” Kata Chiaki memperhatikan Kuno-san
“dia pasti orang yang sangat berbakat” ucap Mia.”sampai Akari memuji dia.”

“Bukankah dia serius cinta padanya?” kata Chiaki memperhatikan Akari dan Kuno yang berdiri begitu serasinya.

“mulai lagi.. kau dan logikamu… lihatlah.. mereka hanya soal pekerjaan” ucap Mia.



Keduanya menikmati acara itu sampai mereka melihat Akari terlihat memapah Kuno berjalan keluar dari ruangan. Keduanya segera berjalan menyusul keduanya.

“Akari? Apa yang terjadi?”
“Sepertinya Kuno san merasa tidak sehat. Saya akan memanggilkan mobil.” Kata Akari membantu Kuno-san duduk ditaman dalam gedung itu.

“Akari aku yang akan menelepon  mereka” kata mia  dan chiaki yang ikut panic.
“Aku juga”

Kuno yang melihat ketiga gadis itu sedang panic segera, meregangkan badannya.
“Sepertinya aku sudah sembuh”
Ketiga gadis itu menghentikan langkahnya dan memperhatikan Kuno

“Memang benar aku tadi sedikit tidak sehat . Setelahmelihat wajah mencurigakan dari  manager editor, aku jadi mulai mual.” Kata kuno-san
“ Apa maksudmu?” Tanya Akari tidak mengerti.

“Ini adalah novelku tapi dia bertingkah seolah-olah dia yang  memenangkan penghargaan! Aku tidak mau denganya lagi.” Jawab Kuno

“oh kau hanya acting saja, jadi kau tidak mau pergi ke pertemuan selanjutnya?” Tanya akari sedikit kesal

“itu benar”

“ Jangan main-main!” seru galak Akari kesal

“Jangan marah. Aku hanya ingin pergi minum denganmu Masaki-san” kata Kuno lembut dan membuat Akari berdebar
“ Apa yang kau katakan?”

“selama kau berada bersamaku bukankah manager editor tidak akan berkeberatan kan?”
“Tapi ...”

“ide bagus..” ucap Chiaki yang tiba-tiba menyerobot pembicaraan keduanya.”mari kita pergi minum.. iyakan  Kuno-san?”

“iya” jawab kuno.



Kuno melihat seseorang yang dikenalnya berjalan kea rah mereka.

“Senpai!” panggil Kuno. Pria itu menoleh ke tempat kuno. “aku di sini.”

Mia kaget mengenali senpai Kuno-san adalah kairi.

“Maaf, aku terlambat” kata kairi berjalan mendekati Kuno.
“Wakil Presiden!”
Kairi juga terkejut melihat Mia ada disana.




Mereka berlima pergi makan dan minum bersama-sama.

“jadi kalian berdua adalah Senpai-Kohai di kampus ya? “

“Itu benar.”
“Yang satu  adalah Wakil Presiden Tifanny ... dan satunya adalah trader dan novelis.” Ucap chiaki menatap takjub pada kedua pria tampan dan kaya yang ada didepannya itu.

“Hal ini tidak perlu dibesar besarkan” ucap Kuno-san

“menakjubkan!” puji Chiaki

“Apakah kau sudah mengembalikan cincin itu?” Tanya Kairi pada Mia
"Cincin?" Chiaki dan Akari terkejut.
“Mungkinkah .. dari Yota-kun?” Tanya Akari
“ya… aku putuskan untuk mengembalikan cincin itu padanya.”
“kau serius?”

“sekarang ini tidak ada yang mengatakan klo kau harus berhenti bekerja setelah menikah.” Kata Akari
“ agak disayangkan. Padahal itu cincin yang mahal.. Dan juga  Itu adalah cincin pertama yang kau terima kan Mia?”

Mia mengangguk kecil.

“cincin pertama?” Tanya kuno
“Seingatku Mia belum pernah membeli cincin sebelumnya” jawab Akari

“dia terus berkata ‘suatu hari aku pasti mendapatkannya dari kekasihku’” sahut Chiaki

Mia tersenyum tipis “ karena Cincin adalah symbol sebuah ikatan“

“Sebuah simbol ikatan?” ulang Kairi

“karena kau sudah memutuskan seperti itu aku pikir sudah waktunya bagimu untuk mencari pria yang baru kan?”kata chiaki “Kuno-san tolong kau kenalkan Mia pada seseorang”

“kau benar” kata Akari tertawa.
Mia tertawa malu temannya menawarkan dirinya seperti itu.

“Chiaki ... Mulai sekarang ini adalah periode sangat penting bagi Kuno-san.” Kata akari mencegah temannya membebani Kuno.



Kuno melirik Akari yang terlihat perhatian padanya.
“oh benar.. dia kan seorang master.. menjadi seorang trader pasti benar-benar kerja keras kan.. Apa kau punya waktu untuk menulis?” chiaki bertanya dengan pandangan tajam menatap Kuno yang duduk didepannya.

“Yah lihatkan aku sudah menjadi seorang pemenang award. Tapi aku hanya menulis disaat waktu luang ditempat kerja. Jadi bukan karena aku menghabiskan waktu dengan menulis , meski begitu aku memenangkannya.”

“oh jadi begitu.. “ gumam Akari pelan tapi terdengar oleh Kuno.

“Tapi sedikit berubah pikiran.” Kata kuno melirik pada akari. “aku pikir aku akan menulis sesuatu lagi jika aku dengan Masaki-san”

Semua terkejut mendengar ucapan Kuno yang seperti sebuah pernyataan perasaan (?).
“atsushi” cegah kairi pada Kuno

“aku mendengar dari manager Editor. Orang yang benar-benar merekomendasikan pekerjaanku adalah Masaki-san.”

“Tentu saja. Karena  sebagai seorang pendatang  baru hasil karyamu mu benar-benar menarik.. tapi aku tak mau terlibat dengan seorang mitra yang tidak serius.” Jawab Akari sedikit ketus setelah mendengar klo Kuno mengerjakan tulisannya hanya diwaktu luangnya saja.

Semua sedikit kaget mendengar nada tegas ucapan Akari. Tapi Kuno justru tertawa.
“hahaha.. baguslah…aku  jadi lebih termotivasi.”

Suasana menjadi sedikit kikuk dianatar mereka.

“Kuno-san ...  tolong tuangkan anggur untukku lagi” pinta Chiaki untuk mengalihkan suasana aneh itu.

Mia mendapatkan pesan di HPnya. Saat ia buka ternyata dari tunangannya Yota yang mengajaknya bertemu.

“maaf.. aku masih ada pekerjaan yang harus aku lakukan.aku pamit dulu”pamit mia pada semuanya.

“Sampai nanti.hati-hati” Sahut Chiaki dan Akari.

Mia lalu berjalan pergi. Kairi hanya memperhatikan kepergian Mia.


“Kuno-san ... Aku tahu pekerjaanmu sangat sulit tapi apakah kau punya istirahat?” Tanya kairi.
Tiba-tiba pandangan mata kairi menangkap diary Mia yang tertinggal dikursi tempat mia duduk tadi.
“ya aku punya” jawab Kuno

“apa yang kau lakukan diliburmu itu?” Tanya Chiaki yang sepertinya tertarik dengan kuno.
Pikiran kairi jadi tidak konsen setelah melihat buku diary itu. Ia lalu mengambil buku itu untuk diberikan pada Mia.



Didalam Lift Kairi terus memperhatikan buku diary itu. Ia penasaran dengan buku itu.Ia  lalu membuka pelan buku diary itu.Didalam buku diary itu ia melihat gambar-gambar foto-foto perhiasan Mia dan tulisan kenangan Mia tentang perhiasan yang dipunyainya itu.

Kairi sampai keluar gedung itu dan terus membaca diary itu sampai ia tidak sadar Mia sedang berjalan kearahnya. Mia teringat buku diarynya yang tertinggal, ia kembali untuk mengambilnya. Tapi ditengah jalan ia melihat kairi sedang membuka-buka diarynya itu. Ia segera merebut diary itu dari tangan Kairi.



“hei.. mengapa kau membukanya!” seru Mia kesal.
“aku tidak membacanya” kata kairi berbohong.
“benarkah?”
“sepertinya buku itu sudah ditulis lama tapi kenapa kau menamainya “Jewelry Diary/Diary perhiasan”?”

“oh jadi kau  telah membaca!”
“cerita pertama tentang kalung adalah saat kau SMA kan? Ibumu membelikanmu saat di New York?”
“tolong lupakan semuanya!”

“itu yang ini kan?” kata Kairi menunjuk pada kalung berbentuk hati yang sedang dipakai Mia. “ kau juga memakai itu sebelumnya.”

“kau sudah membaca semuanya!!” seru Mia kesal.
“aku hanya sedang melakukan riset kecil tentang brand perusahaan lain dan aku sedikit lega karenanya.”
“sudahlah.. permisi..” Mia sudah tidak mau menanggapi kairi lagi dari pada ia tambah emosi, Mia memilih pergi.

“Hey. Jangan marah padaku. Aku minta maaf karena sudah melihat itu tanpa izin.” Kata kairi mengejar langkah kaki Mia
“apa maksudmu kau jadi lega setelah membacanya?” Tanya Mia terus melangkah tanpa menoleh pada kairi.
Pria itu hanya diam dan ia menghentikan langkahnya dan berbalik

“memang benar klo aku masih kurang pengalaman di pekerjaanku tapi aku juga tidak mau mendengarnya dari seorang wakil presiden yang masih amatir. Dan lebih lagi kau tidak menaruh cinta ke dalam-(pekerjaan)nya! Kau hanya berpikir perhiasan adalah sarana untuk mengumpulkan uang! Bagiku aku mendapatkan pekerjaan ini karena ini adalah panggilanku! Aku rasa kau tak akan memahaminya.”

“siapa sebenarnya yang tidak paham? Kau seharusnya tidak mengunakan kata “panggilan” dengan sikap seperti itu. Apakah kau melakukan pekerjaanmu karena kau tidak ingin menyesalinya, meski kau harus berhenti besok?”

“itu..”mia  tak sanggup menjawab saat bosnya itu menguliahinya.
“jika itu panggilanmu maka lakukan yang lebih baik lagi! Selain itu proposalmu sangat membosankan. Buku diary perhiasan ini jauh lebih menarik dari itu.” Ucap kairi menujuk buku diary yang dipeluk Mia.  

“apa ada yang masih ingin kau katakan?” ucap mia pelan melihat wajah kairi yang sepertinya belum selesai mengomentarinya.

“sejujurnya, aku merasa diary  itu benar-benar menarik.setiap perhiasan punya ceritanya sendiri-sendiri. Sekarang aku rasa aku mengerti sedikit apa yang kau bilang tentang perasaan yang tertinggal di dalam sebuah perhiasan.” Kata kairi.

Mia tidak merasa marah lagi meski bosnya itu menguliahnya panjang lebar. Ia justru merasa ia mendapatkan ide yang baru tentang pekerjaannya.

“apa kau akan kembali ke perusahaan?” Tanya kairi yang hanya Mia diam.

“tidak.. sebenarnya aku tidak akan ke kantor tapi aku akan menemui cowokku. Aku harus mengembalikan cincin itu.”

“aku mengerti.. kembalikan padanya dengan semestinya. Itu cincin yang sudah aku bantu mencarinya ” kairi lalu berbalik untuk masuk ke dalam gedung lagi.
“aku kehilangannya karena dirimu juga” seru Mia pada Kairi.
Pria itu hanya menoleh sedikit dan terus melanjutkan langkahnya.
  











Mia menunggu cowok nya di kafe yang sudah mereka tentukan. Mia membuka buku diarynya dan teringat ucapan kairi tentang keraguan Mia tentang lamaran cowoknya itu. Kairi bilang klo Mia ragu dengan perasaannya memang lebih baik klo Mia tidak melanjutkannya.

Cowok Mia datang dan langsung duduk didepan Mia.
“maaf, aku sudah meminta bertemu larut malam begini. Kau tak pernah menghubungiku sama sekali. Aku jadi sedikit khawatir”

“maaf..” ucap Mia
“ tapi aku sedang tidak buru-buru mendengar jawabanmu, aku hanya ingin bertemu denganmu” ucap yota.

Mia mengambil kotak cincin didalam tasnya dan menaruh didepan Yota.
“maafkan aku.. aku sama sekali tidak mau berhenti dari pekerjaanku dan aku mendukung impianmu.jaga dirimu saat kau kembali ke rumahmu. Terima kasih untuk semuanya.”

Wajah Yota memucat, kesal, sedih terkejut bercampur aduk. Yota tersenyum pada Mia.

“aku mengerti.. pekerjaanmu adalah hidupmu..  lakukan yang terbaik dari sekarang” ucap Yota mencoba tersenyum.
“Yota ...” Mia tersenyum lega melihat wajah Yota yang tersenyum.



Dirumahnya Mia tidak bisa tidur, ia membuka diarynya lagi dan membaca-bacanya.
“buku diary perhiasan itu jauh lebih menarik..” ucap kairi tadi “aku merasa menakjubkan. .setiap perhiasan punya ceritanya sendiri-sendiri. Sekarang aku rasa aku mengerti sedikit apa yang kau bilang tentang perasaan yang tertinggal di dalam sebuah perhiasan”

Semua perkataan kairi diingatnya dan Ia jadi ingin merubah proposalnya.



Pagi harinya Mia berangkat ke kantornya. Ia kaget melihat vas berisi bunga marigold ada diatas mejanya.

“Ini begitu cantik ...” gumam mia
“bunga itu dikirirm pagi ini”
“Dari siapa ya?”

Seorang teman kantornya memperlihatkan Mia majalah dimana sedang membahas Wakil presiden mereka.Mia membaca tulisan yang ada dimajalah itu.

"Bangsawan muda dari dunia perhiasan menjadi Wakil Presiden. Mantan seorang  arsitek dan sekarang jadi Wakil Presiden.”

“Arsitek?” gumam mia
“keren kan dia.. aku ingin menjadi istrinya” kata sekai temannya.
“Ia terlibat dalam pembangunan  Verrazzano Museum of Art di New York. Itu luar biasa.”
“mengapa ia berhenti?” ucap mia terus membaca majalah itu bersama teman-temannya.ia melihat foto kairi yang tersenyum lebar bersama teman-temannya.
“oh dia ternyata bisa tersenyum seperti itu” ucap Mia



Kairi dan manager PR datang dan membuat kerumunan itu membubarkan diri. Mia segera mengambil proposal yang semalam dibuatnya itu.

 “manager, aku sudah memikirkan ide baru lagi” kata Mia menyerahkan proposalnya.

Manager Mukai dan kairi melihat sekilas proposal itu.

“bukankah aku sudah bilang klo kau tak perlu melakukan revisi lagi.” Kata manager mukai.
“perencanaan ini tidak akan mengganggu proposal yang diajukan wakil Presiden. Tolong lihatlah dulu.”

Manager mukai tidak mengubrisnya dan langsung masuk ke ruang kerjanya.

Mia hanya pasrah saja melihat sikap managernya itu. Kairi mengambil proposal dari tangan Mia dan membacanya.



Mereka berdua lalu pergi ke tempat manager mukai.
“10 kisah tentang cincin” baca manager mukai.
“Saya ingin membuat desain buku ... seperti buklet. Setiap perhiasan punya ceritanya tersendiri. Ada perasaan pembuatnya, penerimanya dan orang yang  memakainya. Khususnya cincin adalah symbol sebuah ikatan.aku ingin menaruh kisah yang berhubungan dengan cincin di buku--..”

“lalu apa tujuan sebuah pameran yang menampilkan perhiasan baru pada pelanggan? Apakah pameran hanya untuk menarik hati mereka?” Tanya manager mukai.

“untuk menarik hati orang-orang engan menunjukkan pesona perhiasan, aku rasa itu adalah pekerjaan kita dari PR..” jawab Mia.

“ini mungkin tambahan yang bagus untuk pameran itu” kata kairi menengahi. “ dan itu tak akan mempengaruhi persiapan yang sudah dikerjakan saat ini.”

Manager mukai menghela nafas dengan keteguhan 2 orang yang ada didepannya itu.
“aku tak yakin kantor pusat di new York akan memberikan ijin buklet itu”

“aku akan bicara dengan kantor pusat tentang ijin itu” ucap kairi

Manager mukai melihat pada keduanya. “baiklah.. coba kau lakukan”

Mia tersenyum bahagia “Terima kasih banyak!”

Mia melirik kairi yang juga sedang tersenyum melihatnya.




Bersambung part 2 untuk Episode 1 ini.



8 komentar:

  1. Waaah bagus, nggak sabar nungguin kelanjutannya, semangat ya

    BalasHapus
  2. Ceritanya bagus. Ditunggu kelanjutannya mba

    BalasHapus
  3. Satu dorama lagi yg ku suka.......moga updatenya g̲̮̲̅͡åк̲̮̲̅͡ pake lama

    BalasHapus
  4. Ya gantengan ariel lahhhhh

    BalasHapus
  5. Tackeyyy 😆
    Makin tuwir makin keceh 😍

    Menurutku tackey lebih mirip Wallace Huo mba 😁

    BalasHapus